Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Jumat, 02 Maret 2012

CERPEN_AYAH


(Mereguk Rindu tentang Kasih Sayang dan Kekuatan)

Ayah, tak banyak orang memiliki kedekatan dengan sosok itu. Mungkin ayah hanyalah bagian dari hidup, karena takdirnya begitu. Umumnya orang lebih memiliki ketertarikan ketika membicarakan “Ibu”. Bagiku tidak demikian. Aku memiliki segudang cerita tentang ayah. Ini salah satunya.
Ayahku ayah yang keras. Hidupnya penuh bermandikan keringat pengorbanan. Ia terlahir sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga, hal itulah yang menempanya menjadi seorang ayah yang tegas. Nyaris tak ada senyum di wajahnya. Keringnya nasib membuatnya berbeda dari ayah-ayah yang lain.
Adzan Magrib telah berkumandang dari surau di dusun kecil kami. Gelap mulai mengerayangi. Saat itu listrik sudah masuk kampung kami. Meski belum semua menikmatinya, karena dusun kecil di kaki bukit ini delapan puluh persennya dihuni masyarakat miskin. Rumahku masih belum mampu mengecap penerangan dari listrik. Kami masih menggunakan lampu teplok, itupun dengan modifikasi sendiri. Ayah membuatnya dari kaleng bekas, sedangkan sumbunya dari sobekan kain yang sudah tidak terpakai.
Shalat Magrib berjamaah baru saja selesai. Emak melepas mukenah lusuhnya, dan menggulungnya dengan sajadah, kemudian beliau berjalan kearah dapur. Kami semua mengikutinya, karena ini saatnya makan malam bersama. Ini merupakan rutinitas keluarga kecil kami. Menu makan malam hari ini, rebus kol, sambal mentah dan dua ekor ikan mujair goreng.
Emak memotong ikan mujair menjadi empat. Dan masing-masing mendapat satu potong. Emak mengakhiri makannya. Begitulah hari-hari, mak selalu selesai duluan. Tak lama kemudian kakakku menyusulnya. Aku masih tersekat menelan nasi putih dari piring, ikannya sudah habis. Aku sudah tak bergairah lagi menyantap makanan itu. Seakan membaca kegalauan ku, ayah memindahkan ikannya ke piringku.
“Makanlah”, katanya nyaris tanpa ekspresi. Tak ada senyum. Namun aku tahu ia tidak sedang marah. Akupun melahap lagi makanan di piringku hingga tandas.  
***
“Cepat ambil wudhu dan pasang mukenahmu”, ujar emak melihatku yang masih malas-malasan karena kekenyangan.
          Ini saatnya mengaji.  Memang tak ada jeda, setelah makan malam mak akan mengiring kami untuk mengaji. Aku dan kakakku mengaji setiap sore di surau, bersama teman-teman lainnya. Sedangkan malamnya kami wajib menyetor bacaan kami kepada Mak. Jika tak ada peningkatan, maka siap-siaplah jepitan kepiting di pusar.
          Malam itu mak tidak menyimak kami mengaji, tugasnya diaambil alih Ayah. Aku sedikit gentar. Sengaja mundur dan bersembunyi di belakang kakak. Sebilah rotan erat di genggaman ayah, aku makin ciut. Kakakku membaca Al-Quran dengan baik. Aku yang masih Juz Amma, terdengar terbata-bata.
          “Sudah sampai mana?” Tanya ayah pelan, namun suaranya terdengar menakutkan di telingaku.
          “ Tadi di surau belajar apa?” Tanyanya lagi, melihat ku tak juga bersuara. Sebenarnya tadi disurau aku tak begitu mengikuti Etek Yus. Aku asyik bermain gambaran dengan teman-teman. Bahkan aku belum hafal surat Al-Falaq yang disuruh Etek Yus, guru mengajiku.
          “ Di…di…disuruh hafal surat Al-Falaq Yah.” Jawabku terbata-bata.
          “ haa,, coba baca biar Ayah simak” Kata ayah menyuruhku. Mukaku memerah, keringat dingin menyucur di punggungku.
Kulirik kakak sekilas, dia mencibir kearah ku. Dia tahu aku tadi di surau tak mengaji. Namun baiknya, dia tak mengadukan itu ke ayah. Jadi aku sedikit berterimakasih kepadanya, walau sebenarnya aku geram dia mengejekku seperti itu.
          Qul a’uudzu bi rabbil…bil…falaq” ujarku terbata-bata mengumpulkan segala ingatanku tentang hafalan yang di berikan Etek Yus.   Kulirik lagi kakakku yang asyik membuat PR, dia menatapku juga. Inilah saat pembalasan kak, ujarku dalam hati dan mencirir ke arahnya.
          Lihat kau Kak, aku bisa meski tadi main-main. Kurang lebih begitulah batinku. Kakakku membuang muka tak senang. Lalu kulanjutkan lagi hafalan.
          Min syar…ri maa…….maa….ma….” lama aku tersekat di ayat itu. Waduh, aku lupa lanjutannya apa.
          “ Ma…ma…macet, apa ma…ma…main gambaran?” sambung kakakku tak tahu aturan. Ayah melirikku tajam, mukaku memerah. Panas. Kulihat kakak tersenyum puas.
          “Makanya ke surau tak usah bawa mainan” Ujarnya lagi.
Ayah menatapku seakan minta penjelasan. Akhirnya dengan airmata ketakutan, akupun mengakuinya di depan ayah. Ayah menyuruhku membuka telapak tangan, dan melecutnya dengan rotan sebanyak lima kali. Telapak tangan mungilku panas seperti menggenggam bara. Sedangkan airmata mengalir deras di pipiku.
Kulirik emak yang asyik menjahit lambang di seragam Tsanawiyah kakak. Berharap akan ada pembelaan darinya. Tapi nihil, mak malah menyuruhku mencuci muka dan mengerjakan PR dari sekolah. Dengan sedikit terisak aku beranjak untuk mengerjakan perintah mak.
“Awas kau kak, tunggu peembalasanku” Lirihku geram.
Semalaman aku tak bisa tidur. Bukan karena telapak tanganku sakit di lecut rotan ayah. Tapi hatiku sakit di ejek kakak. Aku menyesal tadi main-main di surau. Rasanya malu sekali kelihatan bodoh di depan kakak. Akhirnya dengan penerangan lampu teplok, aku kembali membuka Juz Amma di tengah malam itu. Tak tanggung-tanggung ku hafal sekalian artinya dari Tafsir Al-Quran milik kakak. Ku hafal berkali-kali surat Al-Falaq. Hingga kantuk menyerang tubuh kecilku.
***
Adzan subuh berkumandang dari surau ketika emak menyentuh pipiku.
“ Bangun Ni, sholat subuh dulu” ujar mak sambil mengoyang-goyangkan wajahku.
          Kulihat mak sudah siap dengan mukenahnya. Tangannya terasa dingin sekali, mungkin karena habis berwudhu. Aku sempoyongan turun dari tempat tidur. Mataku masih mengantuk. Ternyata kakak sudah bangun duluan. Dia duduk di atas sajadah di syaf makmum. Dengan ditemani emak aku mengambil wudhu di pancuran belakang.
          Selesai shalat subuh berjamaah, aku ikut bergabung dengan emak dan ayah di dapur. Ayah sedang asyik menyeruput kopi hitam buatan mak. Sedangkan mak duduk di sebelahnya, matanya sesekali melirik ke tungku. Di sana emak tengah menjerang nasi.
          Aku duduk bersila tepat di sebelah ayah. Kulirik ayah tengah asyik menggulung tembakau dengan pucuk enau yang sudah di jemur kering. Itulah rokok ayahku. Harga rokok kretek sangat mahal baginya. Makanya sebagai alternatif daun enaulah pilihannya. Emak hanya mengeluarkan duit untuk membeli tembakau per helai yang harganya jauh lebih murah, sedangkan daun enaunya ayah mengambilnya sendiri di ladang.
          Aku berniat memberi kejutan kepada ayah pagi ini. Dengan menyetor hafalan Al-falaq yang terbengkalai tadi malam. Aku berjanji tak akan ada rotan melahap telapak tanganku pagi ini.
          “ Bismillaahir rahmaanir rahiim” ujar ku memulai hafalan. Ayah melirik ke arahku, lalu asyik lagi dengan gulungaan daun enaunya. Emak tersenyum melihatku.
          Qul a’uudzu bi rabbil falaq, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh” lantang suaraku melafaskan surat al-falaq dengan fasih. Lengkap dengan artinya. Ayah sedikit mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Walau sekilas aku melihat senyum di wajah ayah, itu cukup menjadi suntikan semangat untuk ku.
          Kakak ikut bergabung bersama kami di dapur. Ia berjongkok di sebelah mak, dengan handuk tersandang di bahunya. Dia menunggu lanjutan hafalanku. Aku melirik sebentar, namun tak berani mengejek seperti tadi malam. Takut kualat lagi, hanya senyum termanis ku persembahkan padanya.
          Min syarri maa khalaq, dari kejahatan makhluk-Nya.” Kembali kulirik kakak. Nah, kali ini ngak ada ma…ma…ma…macet kan kak, batinku senang.
          Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Kutarik nafas pelan dan melanjutkan lagi hafalanku.
          Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqad, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada bahul-bahul. Wa min syarri haasidin idzaa hasad, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Sadaqaullahul azim.” Ujarku menyudahi hafalanku.
          Semuanya terdiam, tak terkecuali kakakku yang usil dan cerewet itu. Aku melirik mereka satu per satu berharap akan keluar sedikit pujian untuk ku.
          “ Tahu dari mana arti suratnya itu?” tanya kakak sinis.
          “ Dari tafsir Al-Quran punya kakak.” Jawaabku jujur.
          “ Tuh kan, pakai punya orang tak pinjam dulu.” Kata kakak sewot.
          “ Yeee, kan demi kebaikan, lagian semalam kakak sudah tidur.” Jawab ku membela diri.
          “ sudaahlah, mandi sana. Nanti terlambat ke sekolah.” Ujar emak melerai. Kakak pun beranjak ke pancuran, dengan bibirnya yang masih sewot.
          “ Ayah,…” kataku tersendat di kerongkongan. Ayah memandang ke arahku teduh.
          “ Maafkan Ani yah.” Lanjut ku pelan. Ayah mengusap ubun-ubunku penuh kasih sayang.
          “ Lain kali jangan main-main lagi di surau.” Kata ayah pelan namun tetap terlihat tegas.
Aku mengangguk semangat. Pagi itu terasa berbeda di rumah kecil kami. Aku yang saat itu berusia enam tahun, mencoba menyelami kekerasan hati ayah. Tapi tak ku temukan cacat celah pada kasih sayangnya. Walaupun keras hati, ayahku tetaplah seorang ayah yang penuh cinta. Meski itu hanya tersirat dari sikapnya.
Dan ayah yang keras hati itu jugalah yang menempa hidupku untuk mandiri dan lebih menghargai waktu. Ayah, ayahku adalah harta yang tak ternilai harganya. Masihkah kita tidak menghargai laki-laki tua yang kita panggil ayah? Akan kah mereka hanya bagian dari hidup hanya karna takdir semata? Renungkanlah.

TAMAT
Tanjungpinang, 27 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar