(Mereguk Rindu tentang Kasih Sayang dan Kekuatan)
Ayah,
tak banyak orang memiliki kedekatan dengan sosok itu. Mungkin ayah hanyalah
bagian dari hidup, karena takdirnya begitu. Umumnya orang lebih memiliki
ketertarikan ketika membicarakan “Ibu”. Bagiku tidak demikian. Aku memiliki
segudang cerita tentang ayah. Ini salah satunya.
Ayahku
ayah yang keras. Hidupnya penuh bermandikan keringat pengorbanan. Ia terlahir sebagai
anak laki-laki pertama dalam keluarga, hal itulah yang menempanya menjadi
seorang ayah yang tegas. Nyaris tak ada senyum di wajahnya. Keringnya nasib
membuatnya berbeda dari ayah-ayah yang lain.
Adzan
Magrib telah berkumandang dari surau di dusun kecil kami. Gelap mulai
mengerayangi. Saat itu listrik sudah masuk kampung kami. Meski belum semua
menikmatinya, karena dusun kecil di kaki bukit ini delapan puluh persennya
dihuni masyarakat miskin. Rumahku masih belum mampu mengecap penerangan dari
listrik. Kami masih menggunakan lampu teplok,
itupun dengan modifikasi sendiri. Ayah membuatnya dari kaleng bekas, sedangkan
sumbunya dari sobekan kain yang sudah tidak terpakai.
Shalat
Magrib berjamaah baru saja selesai. Emak melepas mukenah lusuhnya, dan
menggulungnya dengan sajadah, kemudian beliau berjalan kearah dapur. Kami semua
mengikutinya, karena ini saatnya makan malam bersama. Ini merupakan rutinitas
keluarga kecil kami. Menu makan malam hari ini, rebus kol, sambal mentah dan
dua ekor ikan mujair goreng.
Emak
memotong ikan mujair menjadi empat. Dan masing-masing mendapat satu potong.
Emak mengakhiri makannya. Begitulah hari-hari, mak selalu selesai duluan. Tak lama
kemudian kakakku menyusulnya. Aku masih tersekat menelan nasi putih dari
piring, ikannya sudah habis. Aku sudah tak bergairah lagi menyantap makanan
itu. Seakan membaca kegalauan ku, ayah memindahkan ikannya ke piringku.
“Makanlah”,
katanya nyaris tanpa ekspresi. Tak ada senyum. Namun aku tahu ia tidak sedang
marah. Akupun melahap lagi makanan di piringku hingga tandas.
***
“Cepat
ambil wudhu dan pasang mukenahmu”, ujar emak melihatku yang masih malas-malasan
karena kekenyangan.
Ini saatnya mengaji.
Memang tak ada jeda, setelah makan malam mak akan mengiring kami untuk
mengaji. Aku dan kakakku mengaji setiap sore di surau, bersama teman-teman
lainnya. Sedangkan malamnya kami wajib menyetor bacaan kami kepada Mak. Jika
tak ada peningkatan, maka siap-siaplah jepitan kepiting di pusar.
Malam itu mak tidak menyimak kami mengaji, tugasnya
diaambil alih Ayah. Aku sedikit gentar. Sengaja mundur dan bersembunyi di
belakang kakak. Sebilah rotan erat di genggaman ayah, aku makin ciut. Kakakku
membaca Al-Quran dengan baik. Aku yang masih Juz Amma, terdengar terbata-bata.
“Sudah sampai mana?” Tanya ayah pelan, namun suaranya
terdengar menakutkan di telingaku.
“ Tadi di surau belajar apa?” Tanyanya lagi, melihat ku tak
juga bersuara. Sebenarnya tadi disurau aku tak begitu mengikuti Etek Yus. Aku asyik bermain gambaran
dengan teman-teman. Bahkan aku belum hafal surat Al-Falaq yang disuruh Etek Yus, guru mengajiku.
“ Di…di…disuruh hafal surat Al-Falaq Yah.” Jawabku
terbata-bata.
“ haa,, coba baca biar Ayah simak” Kata ayah menyuruhku.
Mukaku memerah, keringat dingin menyucur di punggungku.
Kulirik kakak sekilas, dia
mencibir kearah ku. Dia tahu aku tadi di surau tak mengaji. Namun baiknya, dia
tak mengadukan itu ke ayah. Jadi aku sedikit berterimakasih kepadanya, walau
sebenarnya aku geram dia mengejekku seperti itu.
“ Qul a’uudzu bi
rabbil…bil…falaq” ujarku terbata-bata mengumpulkan segala ingatanku tentang
hafalan yang di berikan Etek Yus. Kulirik
lagi kakakku yang asyik membuat PR, dia menatapku juga. Inilah saat pembalasan
kak, ujarku dalam hati dan mencirir ke arahnya.
Lihat kau Kak, aku
bisa meski tadi main-main. Kurang lebih begitulah batinku. Kakakku membuang
muka tak senang. Lalu kulanjutkan lagi hafalan.
“ Min syar…ri maa…….maa….ma….”
lama aku tersekat di ayat itu. Waduh, aku lupa lanjutannya apa.
“ Ma…ma…macet, apa ma…ma…main gambaran?” sambung kakakku
tak tahu aturan. Ayah melirikku tajam, mukaku memerah. Panas. Kulihat kakak
tersenyum puas.
“Makanya ke surau tak usah bawa mainan” Ujarnya lagi.
Ayah
menatapku seakan minta penjelasan. Akhirnya dengan airmata ketakutan, akupun
mengakuinya di depan ayah. Ayah menyuruhku membuka telapak tangan, dan melecutnya
dengan rotan sebanyak lima kali. Telapak tangan mungilku panas seperti
menggenggam bara. Sedangkan airmata mengalir deras di pipiku.
Kulirik
emak yang asyik menjahit lambang di seragam Tsanawiyah kakak. Berharap akan ada
pembelaan darinya. Tapi nihil, mak malah menyuruhku mencuci muka dan
mengerjakan PR dari sekolah. Dengan sedikit terisak aku beranjak untuk
mengerjakan perintah mak.
“Awas
kau kak, tunggu peembalasanku” Lirihku geram.
Semalaman
aku tak bisa tidur. Bukan karena telapak tanganku sakit di lecut rotan ayah.
Tapi hatiku sakit di ejek kakak. Aku menyesal tadi main-main di surau. Rasanya
malu sekali kelihatan bodoh di depan kakak. Akhirnya dengan penerangan lampu teplok, aku kembali membuka Juz Amma di tengah malam itu. Tak
tanggung-tanggung ku hafal sekalian artinya dari Tafsir Al-Quran milik kakak. Ku
hafal berkali-kali surat Al-Falaq. Hingga kantuk menyerang tubuh kecilku.
***
Adzan
subuh berkumandang dari surau ketika emak menyentuh pipiku.
“
Bangun Ni, sholat subuh dulu” ujar mak sambil mengoyang-goyangkan wajahku.
Kulihat mak sudah siap dengan mukenahnya. Tangannya terasa
dingin sekali, mungkin karena habis berwudhu. Aku sempoyongan turun dari tempat
tidur. Mataku masih mengantuk. Ternyata kakak sudah bangun duluan. Dia duduk di
atas sajadah di syaf makmum. Dengan ditemani emak aku mengambil wudhu di
pancuran belakang.
Selesai shalat subuh berjamaah, aku ikut bergabung dengan
emak dan ayah di dapur. Ayah sedang asyik menyeruput kopi hitam buatan mak.
Sedangkan mak duduk di sebelahnya, matanya sesekali melirik ke tungku. Di sana
emak tengah menjerang nasi.
Aku duduk bersila tepat di sebelah ayah. Kulirik ayah
tengah asyik menggulung tembakau dengan pucuk enau yang sudah di jemur kering.
Itulah rokok ayahku. Harga rokok kretek sangat mahal baginya. Makanya sebagai alternatif
daun enaulah pilihannya. Emak hanya mengeluarkan duit untuk membeli tembakau
per helai yang harganya jauh lebih murah, sedangkan daun enaunya ayah
mengambilnya sendiri di ladang.
Aku berniat memberi kejutan kepada ayah pagi ini. Dengan
menyetor hafalan Al-falaq yang terbengkalai tadi malam. Aku berjanji tak akan ada
rotan melahap telapak tanganku pagi ini.
“ Bismillaahir rahmaanir rahiim” ujar ku memulai hafalan.
Ayah melirik ke arahku, lalu asyik lagi dengan gulungaan daun enaunya. Emak
tersenyum melihatku.
“ Qul a’uudzu bi
rabbil falaq, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh” lantang
suaraku melafaskan surat al-falaq dengan fasih. Lengkap dengan artinya. Ayah
sedikit mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Walau sekilas aku melihat
senyum di wajah ayah, itu cukup menjadi suntikan semangat untuk ku.
Kakak ikut bergabung bersama kami di dapur. Ia berjongkok
di sebelah mak, dengan handuk tersandang di bahunya. Dia menunggu lanjutan
hafalanku. Aku melirik sebentar, namun tak berani mengejek seperti tadi malam.
Takut kualat lagi, hanya senyum termanis ku persembahkan padanya.
“Min syarri maa
khalaq, dari kejahatan makhluk-Nya.” Kembali kulirik kakak. Nah, kali ini ngak ada ma…ma…ma…macet kan
kak, batinku senang.
“Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab, dan dari
kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Kutarik nafas pelan dan
melanjutkan lagi hafalanku.
“ Wa min syarrin
naffaatsaati fil ‘uqad, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang
menghembus pada bahul-bahul. Wa min syarri haasidin idzaa hasad, dan dari
kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Sadaqaullahul azim.” Ujarku
menyudahi hafalanku.
Semuanya terdiam, tak terkecuali kakakku yang usil dan
cerewet itu. Aku melirik mereka satu per satu berharap akan keluar sedikit
pujian untuk ku.
“ Tahu dari mana arti suratnya itu?” tanya kakak sinis.
“ Dari tafsir Al-Quran punya kakak.” Jawaabku jujur.
“ Tuh kan, pakai punya orang tak pinjam dulu.” Kata kakak
sewot.
“ Yeee, kan demi kebaikan, lagian semalam kakak sudah
tidur.” Jawab ku membela diri.
“ sudaahlah, mandi sana. Nanti terlambat ke sekolah.” Ujar
emak melerai. Kakak pun beranjak ke pancuran, dengan bibirnya yang masih sewot.
“ Ayah,…” kataku tersendat di kerongkongan. Ayah memandang
ke arahku teduh.
“ Maafkan Ani yah.” Lanjut ku pelan. Ayah mengusap
ubun-ubunku penuh kasih sayang.
“ Lain kali jangan main-main lagi di surau.” Kata ayah
pelan namun tetap terlihat tegas.
Aku
mengangguk semangat. Pagi itu terasa berbeda di rumah kecil kami. Aku yang saat
itu berusia enam tahun, mencoba menyelami kekerasan hati ayah. Tapi tak ku
temukan cacat celah pada kasih sayangnya. Walaupun keras hati, ayahku tetaplah
seorang ayah yang penuh cinta. Meski itu hanya tersirat dari sikapnya.
Dan
ayah yang keras hati itu jugalah yang menempa hidupku untuk mandiri dan lebih
menghargai waktu. Ayah, ayahku adalah harta yang tak ternilai harganya.
Masihkah kita tidak menghargai laki-laki tua yang kita panggil ayah? Akan kah
mereka hanya bagian dari hidup hanya karna takdir semata? Renungkanlah.
TAMAT
Tanjungpinang,
27 Januari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar