Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 17 Maret 2012

WISATA RELIGI BONUS SEJARAH


Mesjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat

Angin semilir menyapa ketika perahu kecil bermesin yang bernama pompong itu melaju menuju Pulau Penyengat. Sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Tanjungpinang. Di perjalanan kita bisa menikmati indahnya laut Tanjungpinang.
Dari jauh sudah terlihat kubah mesjid Sultan Riau, atau yang biasa disebut mesjid Pulau Penyengat. Suatu pemandangan yang memadukan antara keindahan alam dan tingginya nilai religi masyarakat sekitar.
Ketika menginjakan kaki di Pulau Penyengat, maka kekaguman kita akan semakin tinggi. Terutama pesona Mesjid Sultan Riaunya, belum lagi keramahan penduduk setempat. Serta beberapa situs sejarah lainnya yang terdapat di pulau ini.
Mesjid Putih Telur
Pulau Penyengat ini merupakan mas kawin (mahar) yang di berikan oleh Sultan Mahmudsyah kepada Istrinya Engku Putri atau Raja Hamidah, pada tahun 1805. Saat itulah awal pembangunan Mesjid Sultan Riau. Hanya waktu itu bangunannya masih memakai kayu.
Pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Raja Abdurahman pembangunan mesjid dilakukan secara besar-besaran. Saat itu setelah melakukan shalat Ied, 1 Syawal 1284 H (1832 M) beliau menghimbau masyarakat untuk bergotong royong membangun mesjid Sultan Riau tersebut.
Semua warga pun berbondong-bondong , bahu membahu merenovasi mesjid yang luasnya sekitar 54 X 32 meter itu. Warga Penyengat juga mengumpulkan bahan makanan untuk pembangunan mesjid.
Salah satu bahan makanan yang di kumpulkan adalah telur. Karena banyak sisa telur yang tak terpakai, maka oleh para pekerja putih telur itu dijadikan campuran bahan bangunan. Menurut mereka putih telur mampu menjaga agar bangunan awet dan tahan lama. Kaarena itulah,  Mesjid Sultan Riau sering juga di sebut Mesjid Putih Telur.

Arsitektur yang Sarat Makna
Mesjid indah nan menyimpan nilai sejarah ini, arsitekturnya bernuansa ala India. Ini dikarenakan tukang yang membuat mesjid ini  adalah orang-orang india yang didatangkan dari Singapura.
Mesjid ini mempunyai 17 bubung, angka 17 bermakna jumlah rakaat shalat. Ada 13 kubah berbentuk bawang yang disusun secara bervariasi. Selain itu terdapat 4 pilat beton dibagian tengah.
Mesjid ini juga memiliki 4 menara yang tingginya 19 meter. Dulu di menara inilah muazin mengumandangkan azan. Tapi kini sudah digantikan pengeras suara yang dipasang pada keempat menara tersebut.
Dibagian luar mesjid terdapat 2 rumah  sotoh, yaitu rumah tempat persinggahan para musafir. Sedangkan di bagian depan berdiri dua balai-balai yang digunakan untuk musyawarah.
Saat pertama dibangun mesjid ini berwarna putih. Namun sekarang sudah di cat dengan warna kebesaran melayu yaitu kuning, dan dipadukan dengan warna hijau sebagai warna kebesaran islam.
Pada bagian dalam, ruangan mesjid ini memiliki 5 ruangan. Ini menandakan jumlah rukun iman. Sedangkan 4 tiang beton yang menyanggah dibagian dalam mengandung makna bahwa Islam memiliki 4 Mazab yang di yakini. Yaitu; Mazab Hambali, Maliki, Safii dan Hanafi.
Selain itu, 4 tiang beton itu juga mengandung makna isi gurindam dua belas karya Raja Ali Haji. Yaitu pasal pertama yang berbunyi, “ Barang siapa mengenal yang empat, maka dia itulah orang yang ma’rifat”
Mesjid yang berukuran 54 X 32 meter, dan memiliki bangunan induk seluas 29,3 X 19,5 meter ini tercatat sebagai mesjid pertama di Indonesia yang memiliki kubah. Hal ini disebutkan dalam 2 kali Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995)
Selain arsitektur yang unik dan syarat makna, mesjid kebanggaan masyarakat Pulau Penyengat ini juga menyimpan Al Quran tulisan tangan. Al Quran itu di pajang pada lemari kaca di dalam mesjid. Al Quran bersejarah itu, di tulis oleh putra Pulau Penyengat yaitu Abdurrahman Stambul. Ia dikirim untuk belajar agama ke Turki pada 1867.
Selain Mustaf yang di tulis oleh Abdurrahman, ada lagi Mustaf Al Quran tulisan tangan Abdullah Al Bugisi yang di tulis pada 1752. Mustaf ini memiliki keunikan, yaitu pada bingkainya terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Al Quran dalam bahasa melayu.
Sayangnya, Al Quran itu, sudah tak dapat di perlihatkan lagi, karena sudah terlalu rapuh dan rentan kerusakan. Ia tersimpan rapi dalam lemari di sisi kanan depan mesjid. Dalam lemari ini juga terdapat 300-an kitab, termasuk kitab kuning.

Mesjid Sultan Riau memang menyimpan nilai sejarah yang luar biasa. Mengunjungi mesjid ini, selain bisa menanam pahala, kita juga bisa menilik sejarah Pulau Penyengat  yang menarik untuk di ketahui. (Ani_Praktek Jurnalistik)



TREN POTONGAN RAMBUT CEWEK 2012





TANJUNGPINANG-Trend potongan rambut cewek untuk 2012, masih didominasi model potongan rambut Jepang,  Korea, Emo, Barat, dan model rambut luar negri lainnya. Di Beberapa salon kecantikan di Tanjungpinang, model ini banyak digandrungi remaja.
Sebut saja Ratih (16), pelanggan salon Latansa ini memilih potongan rambut bergaya artis Korea. Hal ini dikarenakan model potongan  rambut Korea merupakan trand yang banyak di jumpai di berbagai kalangan remaja seusianya.

“ Memang banyak  permintaan pengunjung untuk potongan rambut tertentu, misalnya Emo, dan potongan seperti rambut-rambut artis Korea begitu”, ujar Shanti (23) seorang karyawati salon Latansa. Salon yang terletak di jalan Wiratno, Tanjungpinang ini memang tak pernah sepi oleh pengunjung.
“ Model rambut begitu sudah mulai di minati pengunjung, dari awal tahun lalu,” terangnya. Kami memang selalu up to date, kalau urusan mode. Hal ini demi memanjakan pengunjung,” ujarnya menambahkan.
Trend potongan rambut memang selalu mendapat perhatian bagi kaum hawa. Akan tetapi, sebaiknya kita juga mempertimbangkan beberapa hal untuk memilih mode tersebut. Pililah model potongan rambut yang sesuai dengan wajah kita.
Alangkah baiknya lagi dalam memilih model potongan rambut, kita juga memperhatikan kondisi lingkungan, karakter, dan fisik kita  agar sesuai dan enak dilihat di mata orang lain. (Ani_Praktek Jurnalistik)

LUPA NYALAKAN SEN, PENGENDARA MOTOR DITABRAK



TANJUNGPINANG-Akibat lupa menyalakan lampu sen, Rudi (54) ditabrak di jalan Rumah Sakit depan Mesjid Ashaburijal Sabtu (17/3) malam. Ia tengah melaju dari arah Tugu Pahlawan, sedangkan Doni (32) mengendarakan motornya  dari arah jalan Sunaryo.
“Saya memang ngak nyalain lampu sen, karena jalannya sepi. Eh tau-taunya ada motor dari atas ngebut. Saya ngak bisa ngindarin lagi,” ujar Rudi dengan logat khas Jawanya. Dia masih terlihat shock, ketika kami temui di TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Menurut saksi mata, Rian (21) kecelakaan itu terjadi karena kelalaian kedua belah pihak. “ emang dua-duanya salah. Motor Jupiter itu kan dari arah Tugu Pahlawan, dia mau belok ke gang itu, tapi ngak nyalain sen. Motor Revo nya dari atas laju, sempat ngelakson tapi mau gimana lagi udah deket. Nabrak lah jadinya.” Terang Rian.“ Yang ngendarain motor Jupiter jatuh, sedangkan yang nabrak itu terpelanting,” tambah Rian memaparkan.
Akibat dari kecelakaan itu, Rudi mengalami luka memar di kakinya. Sedangkan Doni lebih parah. Giginya patah membentur aspal, selain itu darah terus menangalir dari mulutnya. Sehingga ia dilarikan ke rumah sakit.
Sementara itu, kondisi motor keduanya rusak. Paling parah motor Doni, lampunya pecah dan bagian depannya rusak berat.
Memang tak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Hanya dihimbau bagi pengendara motor untuk lebih berhati-hati lagi. Agar dapat menghindari kecelakaan dalam berlalu lintas. (Ani_Praktek Jurnalistik)

Minggu, 04 Maret 2012

TEATER HARI-HARI MERAH MEMUKAU PENONTON


TANJUNGPINANG-(4/3) Pementasan teater oleh Bengkel Teater Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), memukau penonton. Teater yang berjudul “Hari-Hari Merah,” itu  disutradarai oleh Said Barakbah Ali. Beliau merupakan Ketua Program Studi Bahasa Indonesia FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) UMRAH.
Teater ini menceritakan tentang kegalauan Tembor (tokoh utama) atas keadaan negri ini yang semakin kacau dan dipenuhi dengan kemunafikan. Kekasihnya mencoba memberikan pencerahan berupa nasehat, namun Tembor tak menghiraukannya. Dia malah berniat memperkosa kekasihnya. Tapi akhirnya di gagalkan oleh seorang sahabat. Akhirnya tembor melampiaskan nafsu berahinya pada sesosok mayat yang baru dikubur. Namun disaat itu pula dia diberi nasehat oleh orang asing. Akhirnya tembor mengakui kesalahannya, dan kembali kejalan yang benar.
Teater yang berdurasi enam puluh menit ini berhasil membius penonton yang memadati Gedung Aisyah Sulaiman  Sabtu malam kemarin. “Penonton memberikan apresiasi yang luar biasa,” ujar Febriyadi yang berperan sebagai Tembor.
Selain itu, pementasan ini dihadiri langsung oleh rektor UMRAH yaitu Prof. Maswardi M Amin. Bahkan di akhir acara Rektor UMRAH membacakan sebuah puisi karya Chairil Anwar. “ Pementasan ini mengingatkan saya waktu kecil dulu, saya suka sekali mendengar sandiwara semacam ini.” Kata Prof. Maswardi M Amin, dalam sambutannya. Beliau berharap ini dapat dijadikan agenda kegiatan mahasiswa FKIP, serta mampu membawa nama besar UMRAH dalam bidang teater.(Ani_Praktek Jurnalistik)


Jumat, 02 Maret 2012

CERPEN_AYAH


(Mereguk Rindu tentang Kasih Sayang dan Kekuatan)

Ayah, tak banyak orang memiliki kedekatan dengan sosok itu. Mungkin ayah hanyalah bagian dari hidup, karena takdirnya begitu. Umumnya orang lebih memiliki ketertarikan ketika membicarakan “Ibu”. Bagiku tidak demikian. Aku memiliki segudang cerita tentang ayah. Ini salah satunya.
Ayahku ayah yang keras. Hidupnya penuh bermandikan keringat pengorbanan. Ia terlahir sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga, hal itulah yang menempanya menjadi seorang ayah yang tegas. Nyaris tak ada senyum di wajahnya. Keringnya nasib membuatnya berbeda dari ayah-ayah yang lain.
Adzan Magrib telah berkumandang dari surau di dusun kecil kami. Gelap mulai mengerayangi. Saat itu listrik sudah masuk kampung kami. Meski belum semua menikmatinya, karena dusun kecil di kaki bukit ini delapan puluh persennya dihuni masyarakat miskin. Rumahku masih belum mampu mengecap penerangan dari listrik. Kami masih menggunakan lampu teplok, itupun dengan modifikasi sendiri. Ayah membuatnya dari kaleng bekas, sedangkan sumbunya dari sobekan kain yang sudah tidak terpakai.
Shalat Magrib berjamaah baru saja selesai. Emak melepas mukenah lusuhnya, dan menggulungnya dengan sajadah, kemudian beliau berjalan kearah dapur. Kami semua mengikutinya, karena ini saatnya makan malam bersama. Ini merupakan rutinitas keluarga kecil kami. Menu makan malam hari ini, rebus kol, sambal mentah dan dua ekor ikan mujair goreng.
Emak memotong ikan mujair menjadi empat. Dan masing-masing mendapat satu potong. Emak mengakhiri makannya. Begitulah hari-hari, mak selalu selesai duluan. Tak lama kemudian kakakku menyusulnya. Aku masih tersekat menelan nasi putih dari piring, ikannya sudah habis. Aku sudah tak bergairah lagi menyantap makanan itu. Seakan membaca kegalauan ku, ayah memindahkan ikannya ke piringku.
“Makanlah”, katanya nyaris tanpa ekspresi. Tak ada senyum. Namun aku tahu ia tidak sedang marah. Akupun melahap lagi makanan di piringku hingga tandas.  
***
“Cepat ambil wudhu dan pasang mukenahmu”, ujar emak melihatku yang masih malas-malasan karena kekenyangan.
          Ini saatnya mengaji.  Memang tak ada jeda, setelah makan malam mak akan mengiring kami untuk mengaji. Aku dan kakakku mengaji setiap sore di surau, bersama teman-teman lainnya. Sedangkan malamnya kami wajib menyetor bacaan kami kepada Mak. Jika tak ada peningkatan, maka siap-siaplah jepitan kepiting di pusar.
          Malam itu mak tidak menyimak kami mengaji, tugasnya diaambil alih Ayah. Aku sedikit gentar. Sengaja mundur dan bersembunyi di belakang kakak. Sebilah rotan erat di genggaman ayah, aku makin ciut. Kakakku membaca Al-Quran dengan baik. Aku yang masih Juz Amma, terdengar terbata-bata.
          “Sudah sampai mana?” Tanya ayah pelan, namun suaranya terdengar menakutkan di telingaku.
          “ Tadi di surau belajar apa?” Tanyanya lagi, melihat ku tak juga bersuara. Sebenarnya tadi disurau aku tak begitu mengikuti Etek Yus. Aku asyik bermain gambaran dengan teman-teman. Bahkan aku belum hafal surat Al-Falaq yang disuruh Etek Yus, guru mengajiku.
          “ Di…di…disuruh hafal surat Al-Falaq Yah.” Jawabku terbata-bata.
          “ haa,, coba baca biar Ayah simak” Kata ayah menyuruhku. Mukaku memerah, keringat dingin menyucur di punggungku.
Kulirik kakak sekilas, dia mencibir kearah ku. Dia tahu aku tadi di surau tak mengaji. Namun baiknya, dia tak mengadukan itu ke ayah. Jadi aku sedikit berterimakasih kepadanya, walau sebenarnya aku geram dia mengejekku seperti itu.
          Qul a’uudzu bi rabbil…bil…falaq” ujarku terbata-bata mengumpulkan segala ingatanku tentang hafalan yang di berikan Etek Yus.   Kulirik lagi kakakku yang asyik membuat PR, dia menatapku juga. Inilah saat pembalasan kak, ujarku dalam hati dan mencirir ke arahnya.
          Lihat kau Kak, aku bisa meski tadi main-main. Kurang lebih begitulah batinku. Kakakku membuang muka tak senang. Lalu kulanjutkan lagi hafalan.
          Min syar…ri maa…….maa….ma….” lama aku tersekat di ayat itu. Waduh, aku lupa lanjutannya apa.
          “ Ma…ma…macet, apa ma…ma…main gambaran?” sambung kakakku tak tahu aturan. Ayah melirikku tajam, mukaku memerah. Panas. Kulihat kakak tersenyum puas.
          “Makanya ke surau tak usah bawa mainan” Ujarnya lagi.
Ayah menatapku seakan minta penjelasan. Akhirnya dengan airmata ketakutan, akupun mengakuinya di depan ayah. Ayah menyuruhku membuka telapak tangan, dan melecutnya dengan rotan sebanyak lima kali. Telapak tangan mungilku panas seperti menggenggam bara. Sedangkan airmata mengalir deras di pipiku.
Kulirik emak yang asyik menjahit lambang di seragam Tsanawiyah kakak. Berharap akan ada pembelaan darinya. Tapi nihil, mak malah menyuruhku mencuci muka dan mengerjakan PR dari sekolah. Dengan sedikit terisak aku beranjak untuk mengerjakan perintah mak.
“Awas kau kak, tunggu peembalasanku” Lirihku geram.
Semalaman aku tak bisa tidur. Bukan karena telapak tanganku sakit di lecut rotan ayah. Tapi hatiku sakit di ejek kakak. Aku menyesal tadi main-main di surau. Rasanya malu sekali kelihatan bodoh di depan kakak. Akhirnya dengan penerangan lampu teplok, aku kembali membuka Juz Amma di tengah malam itu. Tak tanggung-tanggung ku hafal sekalian artinya dari Tafsir Al-Quran milik kakak. Ku hafal berkali-kali surat Al-Falaq. Hingga kantuk menyerang tubuh kecilku.
***
Adzan subuh berkumandang dari surau ketika emak menyentuh pipiku.
“ Bangun Ni, sholat subuh dulu” ujar mak sambil mengoyang-goyangkan wajahku.
          Kulihat mak sudah siap dengan mukenahnya. Tangannya terasa dingin sekali, mungkin karena habis berwudhu. Aku sempoyongan turun dari tempat tidur. Mataku masih mengantuk. Ternyata kakak sudah bangun duluan. Dia duduk di atas sajadah di syaf makmum. Dengan ditemani emak aku mengambil wudhu di pancuran belakang.
          Selesai shalat subuh berjamaah, aku ikut bergabung dengan emak dan ayah di dapur. Ayah sedang asyik menyeruput kopi hitam buatan mak. Sedangkan mak duduk di sebelahnya, matanya sesekali melirik ke tungku. Di sana emak tengah menjerang nasi.
          Aku duduk bersila tepat di sebelah ayah. Kulirik ayah tengah asyik menggulung tembakau dengan pucuk enau yang sudah di jemur kering. Itulah rokok ayahku. Harga rokok kretek sangat mahal baginya. Makanya sebagai alternatif daun enaulah pilihannya. Emak hanya mengeluarkan duit untuk membeli tembakau per helai yang harganya jauh lebih murah, sedangkan daun enaunya ayah mengambilnya sendiri di ladang.
          Aku berniat memberi kejutan kepada ayah pagi ini. Dengan menyetor hafalan Al-falaq yang terbengkalai tadi malam. Aku berjanji tak akan ada rotan melahap telapak tanganku pagi ini.
          “ Bismillaahir rahmaanir rahiim” ujar ku memulai hafalan. Ayah melirik ke arahku, lalu asyik lagi dengan gulungaan daun enaunya. Emak tersenyum melihatku.
          Qul a’uudzu bi rabbil falaq, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh” lantang suaraku melafaskan surat al-falaq dengan fasih. Lengkap dengan artinya. Ayah sedikit mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Walau sekilas aku melihat senyum di wajah ayah, itu cukup menjadi suntikan semangat untuk ku.
          Kakak ikut bergabung bersama kami di dapur. Ia berjongkok di sebelah mak, dengan handuk tersandang di bahunya. Dia menunggu lanjutan hafalanku. Aku melirik sebentar, namun tak berani mengejek seperti tadi malam. Takut kualat lagi, hanya senyum termanis ku persembahkan padanya.
          Min syarri maa khalaq, dari kejahatan makhluk-Nya.” Kembali kulirik kakak. Nah, kali ini ngak ada ma…ma…ma…macet kan kak, batinku senang.
          Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Kutarik nafas pelan dan melanjutkan lagi hafalanku.
          Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqad, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada bahul-bahul. Wa min syarri haasidin idzaa hasad, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Sadaqaullahul azim.” Ujarku menyudahi hafalanku.
          Semuanya terdiam, tak terkecuali kakakku yang usil dan cerewet itu. Aku melirik mereka satu per satu berharap akan keluar sedikit pujian untuk ku.
          “ Tahu dari mana arti suratnya itu?” tanya kakak sinis.
          “ Dari tafsir Al-Quran punya kakak.” Jawaabku jujur.
          “ Tuh kan, pakai punya orang tak pinjam dulu.” Kata kakak sewot.
          “ Yeee, kan demi kebaikan, lagian semalam kakak sudah tidur.” Jawab ku membela diri.
          “ sudaahlah, mandi sana. Nanti terlambat ke sekolah.” Ujar emak melerai. Kakak pun beranjak ke pancuran, dengan bibirnya yang masih sewot.
          “ Ayah,…” kataku tersendat di kerongkongan. Ayah memandang ke arahku teduh.
          “ Maafkan Ani yah.” Lanjut ku pelan. Ayah mengusap ubun-ubunku penuh kasih sayang.
          “ Lain kali jangan main-main lagi di surau.” Kata ayah pelan namun tetap terlihat tegas.
Aku mengangguk semangat. Pagi itu terasa berbeda di rumah kecil kami. Aku yang saat itu berusia enam tahun, mencoba menyelami kekerasan hati ayah. Tapi tak ku temukan cacat celah pada kasih sayangnya. Walaupun keras hati, ayahku tetaplah seorang ayah yang penuh cinta. Meski itu hanya tersirat dari sikapnya.
Dan ayah yang keras hati itu jugalah yang menempa hidupku untuk mandiri dan lebih menghargai waktu. Ayah, ayahku adalah harta yang tak ternilai harganya. Masihkah kita tidak menghargai laki-laki tua yang kita panggil ayah? Akan kah mereka hanya bagian dari hidup hanya karna takdir semata? Renungkanlah.

TAMAT
Tanjungpinang, 27 Januari 2012

PENDIDIKAN KARAKTER BUKAN HANYA TUGAS GURU


FOTO UPACARA BENDERA_Melaksanakan upacara bendera merupakan satu contoh pendidikan karakter.


Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai prilaku manusia dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan dan bangsa. Semua itu tercermin dalam sikap, pikiran, perkataan dan perbuatan yang berdasarkan norma agama, hukum, etika, budaya dan adat istiadat.
Di Negara kita saat ini pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk menciptakan pribadi yang cerdas dan berahlak mulia. Ini tentu tidak mudah. Perlu dukungan dari berbagai pihak agar tujuan akhir “cerdas dan berahlak mulia” itu dapat terwujud.
Masalah yang kita hadapi sekarang adalah, pendidikan karakter hanya merupakan “slogan” yang menjadi penghias dunia pendidikan, serta pencapaiannya dititik beratkan kepada guru. Seharusnya pendidikan karakter itu sudah di ajarkan sejak dini. Bukan hanya di sekolah saja. Intinya begini, mustahil jika orang tua tidak mendidik anaknya dengan hal-hal yang baik sejak anaknya mengenal dunia bukan? Itu saja sudah merupakan bagian dari pendidikan karakter.
Yang menjadi masalah lagi, ketika Si guru di sekolah “berkoar” tentang karakter yang baik terhadap anak didiknya, sedangkan di rumah orang tuanya tidak menuntut anaknya untuk berkarakter yang baik. Jadi apa yang mereka dapat di sekolah tidak mendapatkan tempat praktek yang baik di rumah. Ini tentu akan membuat kebingungan tersendiri bagi Si anak, dan ilmu itu hanya numpang mampir saja di pikiran mereka.
Untuk itu perlu adanya persamaan persepsi serta kerja sama yang baik antara orangtua dan guru untuk menanam karakter pada anak, karena merekalah nanti yang akan membangun bangsa ini. Mustahil akan ada masa depan yang baik tanpa membangun karakter bangsa. Inilah tugas kita.(Ani_2 Maret 2012/Praktek Jurnalistik)