Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 25 Februari 2012

Cerpen_SUNTIANG KUNING EMAS


SUNTIANG KUNING EMAS
Tak ada yang membuatku takut kecuali  murka Allah. Tahukah engkau, setiap detak jantungmu Dialah yang mengendalikannya.  Jangan katakan bahwa hanya kita yang tahu hal ini. Sesungguhnya Dia maha mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, tak terkecuali yang terbesit di hati kita.
Dek, tak ada yang perlu ditakutkan. Toh nanti kita juga melakukannya. Hanya seminggu lagi dek, kita akan sah menjadi suami istri. Kamu tahu kan, abang sangat mencintaimu? “ bujuk mu suatu sore.
Rasanya sudah lama aku mengenalmu. Kenapa kau berubah? Bukankah kau yang mengajarkan ku menjaga marwah dan nama baik keluarga? Aku tahu pernikahan kita tinggal hitungan hari. Tapi alangkah baiknya jika kita tunggu saja hari yang bahagia itu datang. Bukan kah lebih indah nantinya? Karena kita tidak melanggar aturan agama.
Sore itu sangat indah, langit yang cerah memayungi bumi.   Deburan ombak membelai  bibir pantai. Percik airnya sesekali menghantam kaki kita yang telanjang. Bagai sang ratu, aku masih setia mengiringi  langkahmu. Meski hatiku masih dipenuhi rasa bimbang.
Dek, bukankah kau mengenal Abang sudah lebih dari 5 tahun? Apakah ada selama ini cacat cela dari janji yang Abang ucapkan? Abang selalu menepatinya kan?.  Untuk apa kau bimbang dek? Surat-surat kita untuk menikah sudah sampai di KUA. Hanya tinggal menunggu hari saja Dek, percayalah. Abang akan tetap menikahimu”  Bujukmu lagi.
“Atau mungkin kau sudah tidak mencintaiku lagi?” tuduhmu  sambil mengenggam jemari tanganku.
Aku belum bisa memberi jawaban. Bahkan untuk membalas tatapan matamu saja aku tak mampu. Hatiku masih diguncang gamang. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu Bang, kau orang pertama yang aku cintai, sampai hari ini. Tak pernah sedikitpun berkurang rasa itu di hatiku. Tapi untuk permintaan mu yang konyol ini aku tak sanggup Bang, dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebenarnya aku tak tega melihatmu memelas seperti ini.
Aku masih hafal rayuan-rayuan yang kau tembakkan di hatiku. Semakin kuat ku menghindar, semakin bertubi-tubi pula rayuanmu. Sungguh otakku tak mampu mengambil keputusan apapun. Aku merasa kau telah melanggar batas normal kerja otakku.
Akhirnya rasa iba mengantarkanku pada pedih yang sengaja kau pilih untukku. Jujur aku tidak sanggup menyanggah beratnya penyesalan. Sedangkan kau? Aku tau itu hanya sesal yang pura-pura dari mu. Kebodohan apa ini Astuti? Di mana akal sehat mu? Tangis sesalku pecah di senja itu. Aku tahu semua tidak berarti lagi. Nyawaku bagai menetes bersama air mata yang menganak sungai. Kehancuran mengintaiku di balik tirai kenyataan.
***

          Hari belumlah terlalu petang. Udara panas masih terasa. Meski mentari sudah agak condong kearah barat. Aku tengah menikmati suasana petang dari jendela kamarku. Ini hari ke-3 aku menjalani ritual adat " Pingitan", yang biasanya dijalani oleh calon pengantin. Pingitan berarti calon pengantin tidak diperbolehkan keluar rumah. Jujur saja aku tidak menyukai ritual ini, hidupku terasa dikungkung aturan yang memuakkan.
          Sementara itu, diluar kamarku, orang-orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pesta yang akan diselenggarakan 3 hari lagi. Lamunanku terusik suara burung jalak di luar jendela. Pandanganku tertuju ke luar jendela kamar. Seekor burung Jalak bertengger di dahan pohon durian belanda, tepat di depan jendela kamarku.
          Seeeeeeeerrrr, dadaku berdesir. Apakah ini pertanda buruk? Ah, bergegas ku hapus fikiran itu. rasanya terlalu naif untuk mempercayai itu. Segala sesuatu itu, baik maupun buruk datangnya dari Allah. Bukan karna seekor burung Jalak. Ku tarik nafas perlahan, matahari  semakin condong ke arah barat. Seolah-olah mengeja tempat peristirahatannya. Langit mulai berganti warna.
          " Astuti, tolong bukakan pintunya, mak nak taroh ini" Teriak Mak dari luar kamar. Bergegas aku beranjak dari pinggir jendela. Kulihat Mak mengangkat sebuah kotak besar berwarna coklat. Sementara di belakangnya Hanifah adik perempuanku, menenteng plastik besar yang berisikan baju untuk hari persandinganku. sedangkan kotak yang di bawa Mak ternyata berisikan suntiang lengkap dengan peralatan serta aksesorisnya. Suntiang merupakan hiasan kepala pengantin perempuan di kampungku, semacam mahkota yang di rangkai menggunakan kawat pada sebuah kerangka seng aluminium.
          Mak membuka kotak besar tersebut. Alangkah indahnya hasil karya manusia ini, pikir ku dalam hati. Suntiang yang bewarna kuning emas itu berkilau-kilau seakan memamerkan keindahannya. Aku dan Mak terkesima melihatnya.
          " Ini suntiang baru Astuti, kaulah orang pertama yang memakainya" Ujar mak seraya mengangkat suntiang besar itu dan mematut-matutnya di kepala ku.
Aku hanya tesenyum saja melihat tingkah Mak.
          " Hanya orang yang suci saja yang beruntung mendapat kesempatan pertama menjunjung suntiang indah ini dan kaulah orang yang beruntung itu Nak, tambah Mak lagi.
          Senyumku sumbang mendengar kata-kata mak. Untung Mak tak melihat perubahan wajahku. Beliau tengah asyik menyimpan kembali suntiang ke kotaknya.

***
          Mak telah meninggalkan kamarku. Magrib pun sudah beranjak dari kampungku. Azan Isya pun berkumandang. Setelah menjalankan tugas sebagai hamba, aku pun menuju pembaringan. Ku tatap lekat langit-langit kamar. Pernikahanku tinggal 3 hari lagi. Waktu terasa lamban berputar. Apalagi dengan kondisiku dibawah tekanan penyesalan dan ketakutan setelah kejadian sore naas itu.
          Ingatan ku kembali kemasa 5 tahun yang lalu. Saat itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu., ketika aku mengenalmu, Bang Heri. Tak gampang bagiku untuk menerima mu sebagai kekasih. Namun kau bukanlah laki-laki yang mengalah pada waktu. Hingga akhirnya kau memancang pondasi cinta di hatiku. Semua terasa indah. Aku tau kau laki-laki yang baik dan setia. Hingga hubungan kitapun bertahan sampai aku selesai kuliah dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kau laki-laki terbaik yang pernah ku kenal. Hingga senja naas itu tiba. Kau telah mempersiapkan rencana gila itu,  dan aku telah memelihara kebodohanku sehingga tak kuasa menolak keinginanmu. Hingga kita mengukir dosa bersama.
          Perkataan Mak senja tadi membuat hatiku ngilu. tak terasa air mata meleleh membasahi bantal. Andai saja Mak tau yang sebenarnya, bahwa anak gadisnya ini tak sebaik yang difikirkannya. Kalau saja Mak tau kejadian senja itu, Entah apalah yang akan terjadi. Tangisku semakin deras. Rasa sesak menekan dadaku. Aku sudah tak tahan lagi berpura-pura menjadi gadis yang baik di depan Mak.
          Kupandangi sekeliling kamar yang telah di penuhi hiasan untuk pernikahan. Di pojok kiri kamar tertata rapi pakaian yang akan ku kenakan di akad nikah dan hari persandingan nanti. Andai saja kejadian senja itu tak terjadi. Mungkin inilah masa-masa paling indah dan mendebarkan bagi seorang calon pengantin. Rasa dimana kebahagian mendominasi hari-hari menjelang hari "H" pernikahan.
          Namun yang aku rasakan sekarang malah sebaliknya. Cemas, takut dan penyesalan itu berkejar-kejaran di hatiku. Dan ini benar-benar menyiksa.
"Ampuni hamba-Mu ini ya Allah". Lirihku dalam hati. Kubiarkan saja air mata mengering di pipi. Akhirnya kantuk pun menyandra tubuhku. Sejenak hilang penat fikiran itu.
****

          Samar-samar terdengar suara riuh di luar kamarku. Kulirik jam dinding baru jam empat subuh. Mungkin orang-orang yang akan menyiapkan hidangan untuk pesta fikirku. Ku coba memejamkan mata kembali, kepalaku terasa sakit sekali. Mungkin karna menagis semalam. Belum sempat terlelap, aku mendengar  samar-samar tangis Mak. Sontak aku bangun dari tempat tidur.
          " Jangan diratapi, ini sudah takdir dari Allah. Kalau kau seperti ini bagaimana kita mengatakannya pada Astuti. Tenangkan fikiranmu, jangan menangis lagi. Nanti Astuti terbangun pula" terdengar bujukan ayah kepada  Mak.
          " Kapan kita kasih tau Astuti Bang? Apa tak sebaiknya kita bangunkan saja dia sekarang?" Tanya Mak disela-sela tangisnya.
          Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu kamar.
          Terdengar suara Adikku Hanifah bertanya kepada Mak, mungkin dia juga baru terbangun dari tidurnya.
          " Ada apa mak?" Tanya Hanifah dengan suara parau.
          " Bang Heri kau nak, Dia meninggal jam 3 tadi. Dia terjatuh di kamar mandi, kemudian pingsan. lalu dibawa ke rumah sakit. Ternyata dia telah meninggal Nak." Jawab Mak sambil terisak.
          Kakiku terasa lemah, tak sanggup menyanggah berat badanku. Hingga aku terduduk di depan pintu kamar yang belum sempat ku buka.
          Tangis tak mampu ku keluarkan. Bang Heri, yang dua hari lagi menikahiku kini telah berpulang. Entah badai apa ini ya Allah. Mengapa Engkau begitu tega ya Allah. Kenapa tak kau biarkan hambamu yang hina ini merasakan manisnya pernikahan? Mengapa Engkau berikan hamba cobaan seberat ini ya Allah? Bertubi-tubi aku menyesali keputusan Tuhan karena menjemput Bang Heri secara mendadak.
          Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kejadian senja itu. Penyerahan diriku secara utuh pada Bang Heri. Mulutku terngaga menahan pilu. jiwaku terguncang. Apa yang akan aku hadapi nanti seandainya benih itu tumbuh di rahimku? Aku harus bagaimana?
          Mataku tertuju pada kotak coklat di pojok kamar. Kuraih kotak itu, ku buka perlahan. Warna emas yang memancar menyilaukan mata. Kuangkat perlahan suntiang yang indah itu. Kali ini tangisku pecah.
          Agaknya suntiang ini memang tidak untuk orang yang kotor sepertiku. Tangisku semakin menjadi.
          Terbayang di kelopak mataku, pertama kali aku bertemu dengan Bang Heri. Hari orang tuanya datang meminang, dan kejadian terkutuk di senja itu, kicauan burung Jalak di dahan pohon durian belanda. Semuanya bagai layar tancap di otakku. Hatiku semakin perih.
          Bertubi-tubi aku mengutuk nasib dan diriku sendiri. Ku pandangi lekat suntiang yang kilau kemilau itu. Kutarik seulas, dari rangkainya. Tanpa pikir panjang, aluminium kuning emas itu ku sayat di pergelangan tangan. Darah bersemburan dari lukaku, membanjiri sunting di pangkuanku. Aku berusaha memangil malaikat maut untuk menghampiri. Dunia menjadi gelap gulita. Mungkinkah malaikat maut sudah tiba?
                                                                   Tanjungpinang 01 Des 2011
TAMAT
Dimuat di Haluan Kepri Pada Minggu, 8 Januari 2012






Cerpen_TEPIAN DANAU


TEPIAN DANAU

            Berbeda dengan hari-hari yang lalu, kali ini aku duduk sendiri di bangku ini. Pohon tanjung yangdulu menjadi saksi saat kita berdebat hal-hal sepele. Tapi itu hanya gurauan saja. Cara kita menikmati waktu berdua. Akhirnya kau selalu mengalah ,”iyalah, Abang selalu benar” katamu sambil menatapku nakal. Duhai matamu itu membuat dadaku bergetar semarak.
          Air danau yang jernih seakan menayangkan kembali pertemuan-pertemuan kita dulu. Aku secara tidak sengaja mengenalmu lewat Iwel. Kau yang dengan terus terang mengatakan ketidak sukaanmu pada seragamku. Aku sedikit miris saat kau kelihatan tidak begitu suka dengan perkenalan kita.
          Sejak waktu itu, aku semakin heran pada diriku. Apa kurangnya aku hingga kamu tak pernah mau memberikan nomor ponselmu. Sebenarnya, aku ingin kamu sendiri yang memberikannya langsung padaku. Tapi apa boleh buat aku terpaksa memintanya pada sepupumu.
          Ternyata kau perempuan yang susah ditaklukkan. Berbulan-bulan aku mencoba mendekatimu. Bahkan setiap minggu aku rela melewati jarak 50 km demi menemuimu. Namu apa yang kudapat, kau tak pernah mau bertemu.
          Akhirnya kau mengalah juga pada waktu ketika Iwel sepupu kesayanganmu itu berhasil mempertemukan kita disebuah taman kota Padang Panjang. Saat itu kau sedang pulang ketempat tantemu.
          Aku masih mengingatnya, kau datang dengan jilbab merah marun yang senada dengan baju yang kau kenakan. Wajahmu tampak lebih indah dengan jilbab itu. Kau tak pernah melepaskan tangan Iwel, yang ingin meninggalkan kita berdua. Tak ada keberatan dihatiku jika Iwel mendengarkan pembicaraan kita. Karena sebenarnya dia sudah tau perasaanku padamu.
“ Lain kali, kalau ingin bertemu Ani , jangan pakai seragam lagi ya” Pesanmu diakhir pertemuan kita. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“ Tadi Abang dari kantor, belum sempat pulang” jawabku membela. Kau hanya tersenyum dan berlalu. Aku tak tau mengapa kau begitu benci pada seragamku.
          Tepat dua bulan semenjak pertemuan kita di Taman itu, kau menerimaku sebagai penghuni hatimu. Aku sudah lama menantikannya. Sangat menyenangkan bila diingat masa-masa itu. Meski jarak Padang Panjang-Bikit Tinggi cukup jauh. Namun tidak bagiku.
         

          Kau wanita yang sabar, mungkin tak banyak perempuan sepertimu dimuka bumi. Kau sangat tau aku ini sebagai abdi negara, sehingga banyak waktu ku tersita olehnya. Bahkan kau tak pernah mengeluh, jika aku terpaksa membatalkan janji kita hanya karena tugas dadakan dari komandan. Kau lebih dewasa dari teman-temanmu yang sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. Dan aku semakin mencintaimu.
          Aku menghela nafas panjang. Beberapa nelayan yang memancing dipinggir danau tiba-tiba berteriak, ketika ikan menyambar umpannya. Aku sibuk memainkan guguran bunga tanjung yang berserakan ditanah dengan ujung sepatuku. Ingatanku kembali padamu.
          Hari itu kita mengunjungi danau ini, kita memang tak memiliki banyak waktu untuk bertemu. Namun tetap pertemuan kita sangat mengesankan bagiku. Karena kau selalu mampu membuatku bangga memilikimu. Apalagi senyum yang tak pernah absen dari wajah manismu.
          Namun hari ini sangat berbeda. Mendung menyelimuti wajahmu. Entah apa sebabnya.
“Kamu kenapa Dinda? Kamu nerves ya menghadapi UAN?” tanyaku penuh selidik, karna memang sebentar lagi Ujian Akhir Nasional akan menyapamu. Kau hanya menggeleng. Aku melihat butiran bening mengalir dari bola matamu. Kamu menangis. Sungguh tidak pernah aku melihat ini sebelumnya.
“Bang, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Paman tidak menyetujuinya.” Katamu dengan wajah yang sedih. Aku benar-benar kaget. Selama satu tahun ini, kita menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Nyaris tak ada yang tau selain Aku, Kamu dan Iwel dan Allah tentunya.
“Paman tidak suka dengan hubungan kita. Dia tidak menyukai seragammu. Aku tak mampu membantahnya bang.” Ujarmu lagi membuatku semakin kaget.
          Aku sangat paham masalahnya. Memang dalam adat kita Paman berperan sangat penting mengatur hidup keponakannya. Dan keputusannya mutlak, tak boleh di ganggu lagi. Tapi aku yakin dia tidak tau betapa aku bersungguh-sungguh ingin menjaga dan membahagiakan mu, Ani. Mungkin hanya butuh waktu untuk ku meyakinkan Pamanmu, pikir ku lagi.
          “Abang akan menjumpai pamanmu. Kita bisa selesaikan.” Jawabku menenangkan. Tak ada yang salah kan dengan hubungan kita. Kita harus bisa meyakinkan Paman.“ Jawabku meyakinkan mu.
          “ Tak ada yang bisa membantah perintah paman, Bang. Kita harus mengalah.” Ujarmu lagi. Aku yakin pasti sesuatu yang hebat telah terjadi padamu. Seberapa besarkah kemarahan pamanmu hingga kamu seperti ini?
          Bagaikan riak danau Singkarak kala itu, membayangkan keputusanmu. Aku tak pernah menyangka, itu pertemuan terakhir kita. Berbagai cara kucoba mencari informasi tentang dirimu. Namun aku gagal. Kamu hilang bagai ditelan bumi. Iwel pun tak pernah angkat bicara tentang dirimu. Dia seakan ikut menjauhiku. Andai kau tau, aku benar-benar gulita tanpamu. Cepatlah kembali padaku.

          Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya aku menemukan dirimu dijejaring sosial, sungguh aku kaget melihat dirimu yang selama ini kucari. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku kembali menghubungimu. Ternyata kau masih seperti yang dulu. Perhatian, dan keceriaanmu itu membuatku kembali kemasa lalu kita. Rindu yang bertahun-tahun ku pendam, sungguh sangat menyiksa, An.
          Aku semakin bahagia setelah tau kau masih sendiri. Ternyata kau masih menungguku, Ani. Aku bangga padamu. Bertahun-tahun aku meyakinkan keluargamu untuk menerima aku. Dan kau berjuang demi cinta kita, Meluluhkan hati Pamanmu secara perlahan-lahan.
         

“ kalau Abang mau kerumah, datang saja.” Katamu menawarkan ketika aku menelpon suatu sore.
“Eh iya, Ani sudah dulu ya. Abang sedang piket jaga. Kapan-kapan abang telpon lagi.” Lalu telpon kumatikan.
“Abang bukan yang dulu lagi, An. Abang tak setia menunggumu kembali. Abang tak mampu sepertimu, batinku. Terasa ngilu diulu hati. Tak mampu aku menahan airmata yang mengalir.
“Ayah! Ayok pulang. Any sudah siap mandinya. Besok-besok kita kedanau lagi ya. Kalau Ayah libur.” Suara itu mengagetkanku dari lamunan masa lalu kita di bawah pohon tanjung dan tepian danau ini.
          Seorang anak umur 2 tahun berdiri tidak jauh dariku bersama perempuan. Kau tau, An. Dia anak dan istriku. Sengaja kuberi nama yang sama denganmu. Karena dia sama sepertimu. Riang, lincah, dan cinta pada tepian danau ini. Maaf kan aku An.

                                                          TAMAT
Dimuat di Haluan Kepri pada Minggu, 19 Juni 2011

SORBAN PUTIH UNTUK ABAK
          Kabut masih saja bergantung diketiak bukit belakang rumah ku. Udara dingin perbukitan terasa menusuk tulang. Sehingga membuat penghuni kampung masih bermalas-malasan bersama secangkir kopi hitam. Namun itu tidak berlaku bagi orang tua ini.
          Di pagi yang masih diselimuti kabut, dia telah bergerak menyusuri pematang sawah dengan sebuah cangkul kesayangan dibahunya. Dialah abakku.
          Kerap kali mataku berair melihat kerja keras abak untuk menghidupi keluarga. Terutama untuk membayai berobatku. Aku sering miris mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Tuhan benar-benar tengah menguji kesabaran abak khususnya dan kami keluarga umumnya.

***

          Dulu aku seorang pencuci piring disebuah Rumah makan Padang. Sebenarnya semangat kerja keras dari abak telah mengalir ditubuh anak-anaknya. Begitu juga adikku Aulia. Dia tak kalah rajinnya dibanding aku dan abak. Berkat kerajinannya itulah dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kedokteran UNAND. Aku dan abak sangat bangga padanya.
          Sudah seminggu ini aku heran melihat Aulia. Dia selalu bejalan kaki setiap pulang kuliah. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Sebagai pencuci piring, gajiku memang tak cukup untuk membiayai ongkosnya setiap hari. Makanya sering diakhir bulan dia berjalan kaki pergi dan pulang kuliah.
          Tapi yang aku herankan ini masih di awal bulan dan uang ongkosnya sudah  keberikan 2 hari yang lalu.
 Mengapa yah, Aulia berjalan kaki?, apakah dia kemalingan? berbagai Tanya bersarang dibenakku.
 “Lia, kenapa akhir-akhir ini kamu sering jalan kaki ke kampus?” tanyaku disela-sela menjahit baju ku yang robek.
 “Tak ada Ni. Lia ingin berhemat saja.” Jawab Aulia singkat.
          Aulia memang anak yang sederhana. Tak banyak tingkah. Memang abak telah mendidik kami dengan baik, sehingga lebih bisa menghargai tiap jengkal rahmat yang dibentangkan Tuhan tanpa keluhan.
          Aku melihat airmata nya meleleh di Idul Fitri lalu, melihat abak berdiri dimimbar masjid. Aku bingung kala itu  melihat tingkah Aulia.
 “ Kamu kenapa Aulia?” tanyaku heran.
 “ Aku kasihan melihat abak Ni. Sudah enam kali lebaran, beliau selalu memakai baju koko, sarung, dan sorban yang sama.” Ujarnya sambil menyapu airmata di pipi.
Aku tertegun . sejauh itukah perasaan Lia bermain?. Hal yang remeh-temeh itu pun mampu menguras telaga mata nya. Aulia memang perasa.
          Mataku tertuju pada laki-laki tua yang berdiri di atas mimbar mesjid. Wajahnya terlihat bercahaya, namun sayang pakaian yang dikenakannya kelihatan lusuh. Rasanya memang tidak pantas dikenakan saat lebaran begini. Tapi itulah abak, beliau memang ayah yang sejati. Beliau lebih memilih menabung uang untuk biaya praktek Aulia, ketimbang membelanjakannya untuk membeli baju baru barang selembar. Baginya keberhasilan Auliah adalah segalanya.

***
           Matahari sudah tinggi. Kabut-kabut itu telah berlalu ketika aku terbangun dari lamunan panjangku tentang Aulia, adik ku satu-satunya. Aku menarik tubuh ku kearah makanan yang telah disiapkan abak sebelum pergi ke sawah pagi tadi.
          Beginilah keadaanku sekarang. Aku merasa semakin lama, aku semakin menyusahkan abak saja. Keberadaan ku dirumah ini tak bisa meringankan beban abak. Tapi malah sebaliknya. Airmata ku berderai ditepi piring makan pagi ku. Aku yakin abak penat mengurusku. Meski tak pernah kata-kata keluar dari mulutnya.
 “ Syukuri apa yang diberikan Tuhan nak. Tuhan tidak pernah menguji umatnya melebihi kesanggupan umatnya.” Kata abak suatu hari disela-sela tangannya mengayunkan kapak untuk membelah kayu bakar.
          Dengan wajah lelah dan nafas tersengal abak tetap bekerja. Tidak hanya pekerjaan lelaki, abak juga menyiapkan pekerjaan perempuan, seperti memasak dan lain-lain. Dan aku hanya melihat dari dipan bambu diruang tengah ini. Memang semenjak bencana besar menimpa Padang 30 September 2009 lalu, banyak yang telah berubah dengan hidup kami.
          Tiba-tiba mata ku tertuju pada gambar diatas buffet, sebuah gambar usang yang didalamnya ada abak, mak, aku, dan Aulia. Gambar itu diambil ketika aku masih duduk dibangku SD, dan sebelum amak kembali kepangkuan pencipta. Gambar itu kembali mengingatkanku pada Aulia.

          Sore itu Aulia mengajakku ke salah satu Plaza di kota Padang. Kami berjalan kaki berdua penuh semangat  karena Aulia berazam ingin membelikan sorban baru untuk abak.
 “ Kapan lagi abak dapat memakai pakaian dari Mall mewah ini.” Kata Aulia penuh semangat. Aku masih bingung, dia dapat uang dari mana. Namun akhirnya Aulia menjelaskan kalau dia telah menabung tiap hari dari onkosnya. Ternyata itulah tujuan Aulia, sehingga dia selalu berjalan kaki pergi dan pulang kuliah setiap hari.
          Setelah kurang lebih setengah jam berjalan dari satu toko ke toko mencari sorban baru untuk abak, akhirnya pilihan Aulia jatuh pada sebuah sorban putih yang indah. Harganya pun lumayan mahal untuk orang seperti kami.
 “  tak apa-apalah, sekali-sekali” kata Aulia padaku. Aku hanya tersenyum.
 “ aku ingin di Idul Adha nanti, abak memakai sorban baru. Abak pasti kelihatan gagah” kata Aulia lagi. Lalu kami sama-sama tersenyum.

                                                                   ***
 “ Gempa! Lari, ada gempa!” teriak orang-orang didalam Mall mewah ini. Dunia terasa bergoncang hebat. Tangan ku terlepas dari Aulia. Kami berlari diantara ratusan orang yang bingung dan panik.
          Ranah minang di guncang gempa. Ribuan masyarakat berlari dikejar maut. Tanpa tau harus kemana. Aku tidak tau Aulia dimana. Hingga sebuah motor didepan Mall Andalas melindasku. Dunia menghitam. Aku tak tau apa-apa.
          Lima hari setelah gempa besar 30 September 2009, aku diantar sukarelawan kekampung kecilku dipelosok Sumatra Barat. Aku melihat abak yang waktu itu kelihatan cemas sekali. Beliau tak dapat menyembunyikan airmatanya melihatku pulang  tanpa sepasang kaki. Ya, kaki ku diamputasi karena kecelakaan saat gempa itu.
 “ Mana Aulia?” Tanya abak padaku.
           Aku tidak bisa menjawabnya, airmataku meleleh tanpa berhenti. Mata abak tertuju pada keranda yang di turunkan relawan.Ya, jenazah Aulia yang baru di temukan kemaren.Kulihat abak menitikan air matanya.Pertama kali dalam hidupku melihat abak berurai airmata.
          Mayat Aulia nyaris tak di kenali. Wajahnya remuk di timpa reruntuhan bangunan Mall yang naas itu. Namun aku dapat mengenalinya. Karna sorban putih yang di dekapnya, sorban putih yang di belikannya dari uang ongkos kuliah yang di tabungnya, sorban yang di harapkan menemani abak naik mimbar di Idil Adha nanti.
          Sorban putih itu sudah tak putih lagi, namun penuh bercak darah Aulia. Begitu inginnya dia menjaga sorban itu, sampai tak terlepas dari dekapannya.
 “ kenapa belum makan Mir? Tanya abak mengagetkanku dari lamunan tentang Aulia dan sorban putih untuk abak. Aku menyapu airmata.
 “ Lauknya keasinan lagi?" Tanya abak lagi tanpa sempat aku menjawab pertanyaan pertamanya.
 “ Taklah bak” jawab ku seadanya.
          Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Abak bersiap-siap untuk shalat Jum’at. Aku baru sadar, ternyata ini hari Jum’at. Pantaslah abak cepat pulang dari sawah. Aku menatap punggung tua abak yang berjalan kearah sumur. Semoga Allah selalu melindungi mu, bak, lirih ku perlahan. Dentingan jam tua, didinding rumah mengiringi harapan ku, untuk abak.

                                                          TAMAT
 NB : Diterbitkan di MAJALAH SAGANG Pekanbaru Edisi 154










CERPEN_Serambi Cinta


SERAMBI CINTA

Siang itu, panas matahari memanggang bumi. Didepan gerbang SD 001, aku menemani  Sifa menunggu jemputannya. Sifa salah satu muridku di SD ini, meskipun aku baru pindah mengajar disini, tak membutuhkan waktu lama untuk mengakrabkan diri. Sifa anak yang rajin, aku suka melihat semangatnya belajar. Andai semua anak di Negri ini bersemangat seperti Sifa. Pasti Indonesia bangga, pikirku suatu kali.
                Tak lama kemudian, datanglah jemputan Sifa. Sebuah Sedan Vios silver yang dikendarai ayahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Sifa dan ayahnya pun berlalu. Aku bergegas  ke parkiran. Mengambil motorku dan pulang. Aku berharap masih bisa shalat Zhuhur bersama ayah.
***
                Hari ini ada rapat guru dan orang tua murid disekolah. Semua siswa diliburkan. Angin berhembus lembut meniup jilbab biruku saat aku berjalan keluar ruang rapat. Rapat baru saja selesai. Tiba-tiba suara menyapaku.
“Bu guru Ani, tunggu. sebuah suara yang tidak aku kenal
“Mau pulang Buk? Boleh saya bicara sebentar?” ternyata ayah Sifa yang akhirnya aku tau dia bernama Hendra.
Banyak hal yang kami bicarakan tentang Sifa, dan pertanyaan-pertanyaan layaknya orang tua yang ingin tau perkembangan anaknya. Sangat beruntung Sifa mempunyai ayah yang baik dan pehatian.
***
Susah untuk dijelaskan awalnya. Seiring waktu yang sering mempertemukan kami, dan obrolan-obrolan ringan di telpon. Aku dan ayah Sifa menjadi semakin akrab. Rasanya sudah tidak pantas kami saling jatuh cinta, mengingat aku gadis berusia 30 tahun dan ayah Sifa, duda anak satu.
Tapi itulah yang kami rasakan di hati masing-masing. Walaupun tak seindah cinta anak remaja. Namun bagiku ini cinta pertama yang mampu menyentuh hati. Aku termasuk wanita yang susah jatuh cinta, mungkin faktor itu juga yang membuatku belum menikah diusia 30 tahun.
Tak terlalu berlebihan. Kami hanya berbicara di telpon dan bertemu ketika dia menjemput Sifa.Tanpa ada jalan berdua. Bagiku itu sudah cukup. Karena cinta itu tak harus diumbar-umbar.
Pagi ini Minggu, bagiku hari Minggu paling membosankan, karena tak bisa bertemu dengan Sifa dan ayahnya. Ternyata cinta itu benar-benar aneh. Seorang guru yang kharismatik seprti aku pun mampu dipengaruhinya. Tiba-tiba HP ku berdering
“Hallo Assalamualaikum.” sapa suara yang sangat kukenal, Sifa
“waalaikum salam. Ada apa Sifa?” Jawabku
“Bu guru lagi apa?”   
“Tak ada, duduk-dudu saja.” jawabku seadanya
“Kalau Bu guru tak sibuk, kita jalan-jalan yuk sama ayah.” ajak Sifa, membuatku sedikit gugup menjawabnya.
“Kalau Bu guru mau, nanti pukul 3 sore kami jemput kerumah.” tambahnya lagi
“Baiklah, ibu tunggu.” jawabku pasrah
Sore itu kami menghabiskan waktu bertiga.Mengantarkan Sifa bermain dari wahana yang satu ke wahana yang lain. Walau tak ada waktu untuk kami bicara berdua. Hanya pandangan mata saja saling mencerna rindu dihati masing-masing. Cinta,memang indah adanya.
***
          “Apa kau sedang dekat dengan seseorang Nak?“ Tanya mak  diruang makan, malam itu membuatku terpaksa menahan suapan nasi dari piring.
“Tak ada lah Mak.” jawabku menutupi rasa kaget.
          “jangan bohong Nak. Dari tingkahmu saja kami sudah tau. Kami ini sudah tua Nak, bukan anak kemaren sore yang gampang kau bohongi. Bahkan nafasmu turun naik saja, kami mengetahuinya.” Tambah mak lagi dengan pameo khasnya.
“Siapa pria itu An? “Tanya ayah  yang dari tadi hanya diam.
“kalu memang dia serius, suruh datang kerumah saja, bawa orang tuanya. Tak baik lama-lama pacaran. Nanti menimbulkan fitnah.” tambah ayah lagi.
Aku masih belum berani menjawab pertanyaan mereka. Aku yakin mak dan ayah pasti kaget kalau tau pria yang mendekatiku seorang duda. Apalagi dia bukan orang yang mengerti agama. Seperti yang diharapkan ayah selama ini.
Sebenarnya aku sendiripun tak yakinAyah Sifa serius padaku. Pasalnya sampai saat ini, tak ada kata-kata serius yang terucap dari mulutnya, apalagi berniat melamar. Memang ayah sifa banyak bercerita tentang dirinya dan pekerjaannya. Banyak hal yang seharusnya membuatku menjauhinya. Tapi hati memang tak dapat ditebak. Yang terjadi malah sebaliknya. Aku semakin mengagumi kejujuran pria itu.
“Aku ini pria yang jauh dari agama Bu guru Ani” cerita ayah Sifa suatu hari mengakuinya padaku
“semenjak ibu Sifa meninggal, aku benar-benar lari dari Syariat. Aku merasa Tuhan benar-benar tak adil. Dia perempuan yang sangat aku cintai. Selama 10 tahun belakang ini. Dan tuhan mengetahui itu. Tapi kenapa tuhan tega memanggil di saat kami mendapatkan kebahagiaan yang lama kami tunggu-tunggu. Dia meninggal saat melahirkan Sifa.
Sejak itulah aku berteman dengan alkohol dan judi. Duniaku benar-benar gelap Bu guru. Tapi sekarang Sifa sudah besar, dia mulai kritis menanyai semua itu. Jadi aku harus mengurangi semua itu, demi anakku Sifa. Memang tak mudah buk, tapi aku sedang  berusaha. Aku tak ingin Sifa tau kebiasaan buruk ayahnya.
Tapi walaupun aku seperti ini, aku tak pernah membiarkan Sifa kurang kasih sayang. Aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri Bu guru.” Jelasnya membuat ku semakin mengagumi kejujuran duda 39 tahun ini.
Tapi sekalipun begitu , apakah mak dan ayah sependapat denganku? Bisa menerima pria ini seperti aku menerimanya? Tentu sulit bagi mereka untuk paham semua ini. Aku bingung pada keadaan yang seperti ini, disamping perasaanku yang mengebu-ngebu pada ayah Sifa.
Sebenarnya aku sangat takut akan murka mak dan ayah. Mereka tak akan mau bermenantukan lelaki seperti ayah Sifa. Walaupun dari segi materi dia tergolong orang sukses, tapi dari segi  agama dia benar-benar minim.
Meskipun begitu ayah Sifa bukanlah seorang preman yang kasar dan brutal. Dia orang yang berpendidikan dan terpelajar. Hanya saja kebiasaan buruknya bejudi dan menegak minuman keras itu akan memudarkan kebaikannya dimata mak dan ayah. Semoga Allah memberikanku petunjuk dalam menyelesaikan semua ini.
Bangku dibawah pohon ketapang ini terasa nyaman untuk bersantai disiang hari. Seperti  biasa aku menemani Sifa menunggu jemputannya. Hari ini kelihatannya Sifa agak kurang semangat. Berkali-kali aku menanyainya. Tapi jawabannya hanya gelengan saja.
Tiba-tiba Sifa menyandarkan kepalanya dipelukanku. Aku terkejut mendapati anak didikku itu panas tubuhnya tinggi. Kedaannya lemah sekali. dengan setengah berlari, aku gendong Sifa ke motor. Aku harus membawanya kerumah sakit,tak lupa aku mengabari ayahnya. Sesampai dirumah sakit, Sifa langsung diperiksa dokter dan dia dibawa keruang UGD. Tak terasa airmataku berderai melihat Sifa terbaring diatas tandu. Ayah Sifa datang dengan tergesa-gesa.
“Sifa kenapa Bu guru?” Tanya ayahnya cemas.
“Belum tau Pak, dia diruang UGD dan dokter masih didalam.” Jawabku sambil menyeka airmata dengan jariku.
Ayah Sifa kelihatan cemas sekali. Mukanya kelihatan kusut dan matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian, dokter keluar ruangan UGD. Kami langsung menyerbunya.
“Anak ibu terkena panas tinggi. Tadi dia sempat kejang-kejang. Tapi kami sudah menanganinya. Kalau mau menemuinya, silahkan.” Ujar dokter dengan ramah.
“ Terima kasih dok.”jawabku pendek. Kami pun menjenguk Sifa.
***
 5 hari setelah Sifa keluar dari rumah sakit, ayah Sifa menemuiku disekolah siang itu.
“Bu guru Ani, maukah ibu menjadi ibu baru untuk Sifa?” Tanya ayah Sifa mengejutkanku. Matanya terus memandang Sifa dan anak-anak lain yang berkejar-kejaran dilapangan sekolah.
“kalau ibu bersedia, hari Minggu depan aku dan pihak keluarga akan datang melamar kerumah ibu, meminta pada orang tua ibu langsung.”tambahnya.
Belum lagi hilang kekagetanku yang pertama, ditambah lagi acara melamar. Aku diam saja, aku yakin tanpaku  jawabpun dia tau jawabanku. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat daun ketapang berbisik-bisik perlahan. Seakan membicarakan hati kami yang sibuk dengan mimpi masing-masing.
Memang akhir-akhir ini, banyak perubahan pada ayah Sifa. Dia sudah mulai shalat dan belajar agama, disela-sela kesibukannya pada perusaan yang  dipimpinnya. Semua itu kuketahui dari Sifa, gadis kecil yag lugu dan lucu. Alhamdulillah ya Allah kau tunjukkan jalan-Mu padanya.
***
“Apa kau sudah kenal baik laki-laki itu Nak?” Tanya mak, ketika aku menyampaikan maksud ayah Sifa yang ingin melamarku.
“ Sudah mak. Menurutku dia laki-laki yang baik, dan sopan mak.” Jawabku meyakinkan.
“Semua terserah kau Nak, kami Cuma mengingatkan. Soalnya yang akan menjalani kau juga.” Tambah ayah.
“Tapi yang penting, dia dari keturunan baik-baik, mengerti dan menjalankan agama. Masalah status itu terserah padamu. Yang penting kamu harus ikhlas merawat anaknya seperti anakmu sendiri.” Nasehat mak lagi.
“  Insyaallah Mak” jawabku singkat.
***
Hari bersejarah itu pun datang. Tadi malam aku nyaris tak dapat memejamkan mata. Aku agak sedikit gugup dengan situasi yang menurutku serba mendebarkan ini. Tepat pukul 15.00, ayah Sifa dan keluarganya sampai dikediaman kami yang sederhana. Dengan sambutan seadanya, acarapun berjalan lancar.
Tanggal pernikahan sudah ditempa. Setelah acara lamaran, kebahagiaan menyelimuti  dua keluarga, tak terkecuali diwajah imut Sifa. Senja pun mengakhiri pertemuan dua keluarga kami. Hatiku berbunga-bunga penuh bahagia. Langit senja merona jingga, menambah semarak hati. Adzan menggema. Mengumandangkan asma Allah. Memanggil kita bertemu Tuhan semesta alam dalam shalat masing-masing. 
***

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Agaknya itu yang kurasakan saat ini, disaat persiapan pesta 90% sudah siap. Berita pilu pun datang. Siang itu, aku menelpon ayah Sifa untuk memastikan dia tidak lupa menjemput Sifa. Seminggu ini aku dipingit, tak boleh keluar rumah karena hari penikahan sudah dekat.
“ Hallo, Assalamuulaikum” Sapaku membuka percakapan.
“ Wa’alaikum salam, selamat siang, dari siapa?” Tanya sebuah suara yang tidak kukenal.
“ini HP pak Hendra kan? Saya calon istrinya, pak Hendra nya mana? “ Tanyaku penuh selidik.
“Maaf buk, pak Hendra lagi diruang pemeriksaan, HP nya kami tahan sebagai barang bukti, pak Hendra ada dikantor kami. Dia tertangkap menyimpan Sabu-sabu di mobil saat kami melakukan razia tadi pagi.”
HP ku terlepas dari tangan hingga berkecai dilantai. Tak sepatah katapun keluar dari mulut, hanya airmata yang berjatuhan bagai hujan. Aku benar-benar tak percaya.
“ Maafkan abang An, sudah menghancurkan impian kita.” Sesal bang Hendra saat aku membesuknya di Lembaga Permasyarakatan.
“Benar barang haram itu itu milik abang?” Tanyaku datar.
“Tapi aku tidak memakainya An, sumpah demi Allah.” Tambahnya lagi.
“Tapi polisi tak mau tau Bang, yang mereka tau benda haramitu ada di mobil Abang, berarti Abang yang memilikinya.” Jawabku lagi.
“Memang begitu, tapi aku tidak menggunakannya, kamu harus percaya An.”
Aku tak banyak berkata-kata. Hatiku masih terlalu pilu menahan malu. Belum lagi kemarahan mak dan ayah padaku. Aku telah mencoreng arang diwajah mereka.
Tapi semua tak kuceritakan pada bang Hendra, begitu juga dengan rencana  mak yang ingin menjodohkanku dengan pria lain. Sebenarnya mak tidak memberiku izin menjenguk bang Hendra.
Aku pergi  dari rumah ketika mak ke pasar. Itu juga tak kuceritakan pada bang Hendra. Aku tau, dia terlalu penat menanggung beban batin. Buktinya baru satu bulan dipenjara, dia kelihatan kurus sekali. Aku semakin miris melihatnya.
”Abang tau kamu sangat kecewa An. Kamu pasti tidak akan mau menerimaku lagi seperti dulu. Ya beginilah aku An. Aku memang pemabuk, penjudi, tapi aku tidak penah menggunankan narkoba, seperti yang mereka tuduhkan An . ini semua fitnah.
Terlepas dari itu semua An, aku telah melukai hati kamu dan keluargamu. Kemarin  ayahmu datang, beliau datang mengembalikan cincin tunangan kita, dia meminta aku memutuskan hubungan ini, katanya, ada pria baik-baik ingin mempersuntingmu”  Suara bang Hendra tertahan. Aku kaget mendengar penjelasan bang Hendra. Kenapa ayah tak pernah bilang semua itu padaku.
“ Insyaallah aku ikhlas An, menikahlah dengannya. Dia jauh lebih baik dari aku, yang seorang narapidana.” Katanya lagi, semakin menyayat hatiku. Airmataku menganak sungai di pipi.
“Tapi, kamu harus tau, aku difitnah An, Sabu-sabu itu bukan milikku, aku yakin suatu saat kebenaran itu akan muncul di permukaan. Kamu harus percaya itu An aku mohon, percayalah” airmata bang Hendra jatuh berderai di meja ruang besuk itu.
“Aku selalu percaya padamu bang. Semoga Allah memberikan ketabahan. Ingat bang, Allah tidak pernah memberi kita  cobaan, melainkan sebatas kemampuan kita. Dan abang juga harus tau, tembok penjara ini tak akan mampu memisahkan hatiku yang telah abang bawa. Berjuanglah bang demi aku dan Sifa.” Tambahku seraya melemparkan senyum yang paling manis pada bang Hendra yang seakan tidak percaya dengan ucapanku. Namun aku melihat gurat kebahagiaan diwajahnya.
Habisnya waktu besuk memisahkan kami.  Hingga aku terpaksa  meninggalkan bang Hendra, namun suatu saat nanti aku yakin, tangan Tuhan akan mempersatukan kami.
 Matahari masih terik menjamah bumi ketika aku melangkah keluar Lembaga Permasyarakatan ini. Berulang-ulang ku pandangi tembok kokoh LP ini,sebelum aku berlalu.Hatiku tlah tinggal bersama bang Hendra. Rasanya tak mampu aku untuk menjauh.Karna cintanya telah mengisi serambi hatiku.

TAMAT
Dimuat di Haluan Kepri pada Minggu, 29 Mei 2011