SERAMBI CINTA
Siang itu, panas
matahari memanggang bumi. Didepan gerbang SD 001, aku menemani Sifa
menunggu jemputannya. Sifa salah satu muridku di SD ini, meskipun aku baru
pindah mengajar disini, tak membutuhkan waktu lama untuk mengakrabkan diri. Sifa
anak yang rajin, aku suka melihat semangatnya belajar. Andai semua anak di
Negri ini bersemangat seperti Sifa. Pasti Indonesia bangga, pikirku suatu kali.
Tak lama kemudian, datanglah jemputan Sifa. Sebuah Sedan Vios silver yang dikendarai
ayahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Sifa dan ayahnya pun berlalu. Aku
bergegas ke parkiran. Mengambil motorku dan pulang. Aku berharap masih
bisa shalat Zhuhur bersama ayah.
***
Hari ini ada rapat guru dan orang tua murid disekolah. Semua siswa diliburkan.
Angin berhembus lembut meniup jilbab biruku saat aku berjalan keluar ruang
rapat. Rapat baru saja selesai. Tiba-tiba suara menyapaku.
“Bu guru Ani, tunggu.
sebuah suara yang tidak aku kenal
“Mau pulang Buk?
Boleh saya bicara sebentar?” ternyata ayah Sifa yang akhirnya aku tau dia
bernama Hendra.
Banyak hal yang kami
bicarakan tentang Sifa, dan pertanyaan-pertanyaan layaknya orang tua yang ingin
tau perkembangan anaknya. Sangat beruntung Sifa mempunyai ayah yang baik dan
pehatian.
***
Susah untuk
dijelaskan awalnya. Seiring waktu yang sering mempertemukan kami, dan
obrolan-obrolan ringan di telpon. Aku dan ayah Sifa menjadi semakin akrab.
Rasanya sudah tidak pantas kami saling jatuh cinta, mengingat aku gadis berusia
30 tahun dan ayah Sifa, duda anak satu.
Tapi itulah yang kami
rasakan di hati masing-masing. Walaupun tak seindah cinta anak remaja. Namun
bagiku ini cinta pertama yang mampu menyentuh hati. Aku termasuk wanita yang
susah jatuh cinta, mungkin faktor itu juga yang membuatku belum menikah diusia
30 tahun.
Tak terlalu
berlebihan. Kami hanya berbicara di telpon dan bertemu ketika dia menjemput
Sifa.Tanpa ada jalan berdua. Bagiku itu sudah cukup. Karena cinta itu tak harus
diumbar-umbar.
Pagi ini Minggu,
bagiku hari Minggu paling membosankan, karena tak bisa bertemu dengan Sifa dan
ayahnya. Ternyata cinta itu benar-benar aneh. Seorang guru yang kharismatik
seprti aku pun mampu dipengaruhinya. Tiba-tiba HP ku berdering
“Hallo
Assalamualaikum.” sapa suara yang sangat kukenal, Sifa
“waalaikum salam. Ada
apa Sifa?” Jawabku
“Bu guru lagi
apa?”
“Tak ada, duduk-dudu
saja.” jawabku seadanya
“Kalau Bu guru tak
sibuk, kita jalan-jalan yuk sama ayah.” ajak Sifa, membuatku sedikit gugup
menjawabnya.
“Kalau Bu guru mau,
nanti pukul 3 sore kami jemput kerumah.” tambahnya lagi
“Baiklah, ibu
tunggu.” jawabku pasrah
Sore itu kami
menghabiskan waktu bertiga.Mengantarkan Sifa bermain dari wahana yang satu ke
wahana yang lain. Walau tak ada waktu untuk kami bicara berdua. Hanya pandangan
mata saja saling mencerna rindu dihati masing-masing. Cinta,memang indah
adanya.
***
“Apa
kau sedang dekat dengan seseorang Nak?“ Tanya mak diruang makan, malam
itu membuatku terpaksa menahan suapan nasi dari piring.
“Tak ada lah Mak.”
jawabku menutupi rasa kaget.
“jangan
bohong Nak. Dari tingkahmu saja kami sudah tau. Kami ini sudah tua Nak, bukan
anak kemaren sore yang gampang kau bohongi. Bahkan nafasmu turun naik saja,
kami mengetahuinya.” Tambah mak lagi dengan pameo khasnya.
“Siapa pria itu An?
“Tanya ayah yang dari tadi hanya diam.
“kalu memang dia
serius, suruh datang kerumah saja, bawa orang tuanya. Tak baik lama-lama
pacaran. Nanti menimbulkan fitnah.” tambah ayah lagi.
Aku masih belum
berani menjawab pertanyaan mereka. Aku yakin mak dan ayah pasti kaget kalau tau
pria yang mendekatiku seorang duda. Apalagi dia bukan orang yang mengerti
agama. Seperti yang diharapkan ayah selama ini.
Sebenarnya aku
sendiripun tak yakinAyah Sifa serius padaku. Pasalnya sampai saat ini, tak ada
kata-kata serius yang terucap dari mulutnya, apalagi berniat melamar. Memang
ayah sifa banyak bercerita tentang dirinya dan pekerjaannya. Banyak hal yang
seharusnya membuatku menjauhinya. Tapi hati memang tak dapat ditebak. Yang
terjadi malah sebaliknya. Aku semakin mengagumi kejujuran pria itu.
“Aku ini pria yang
jauh dari agama Bu guru Ani” cerita ayah Sifa suatu hari mengakuinya padaku
“semenjak ibu Sifa
meninggal, aku benar-benar lari dari Syariat. Aku merasa Tuhan benar-benar tak
adil. Dia perempuan yang sangat aku cintai. Selama 10 tahun belakang ini. Dan
tuhan mengetahui itu. Tapi kenapa tuhan tega memanggil di saat kami mendapatkan
kebahagiaan yang lama kami tunggu-tunggu. Dia meninggal saat melahirkan Sifa.
Sejak itulah aku
berteman dengan alkohol dan judi. Duniaku benar-benar gelap Bu guru. Tapi
sekarang Sifa sudah besar, dia mulai kritis menanyai semua itu. Jadi aku harus
mengurangi semua itu, demi anakku Sifa. Memang tak mudah buk, tapi aku
sedang berusaha. Aku tak ingin Sifa tau kebiasaan buruk ayahnya.
Tapi walaupun aku
seperti ini, aku tak pernah membiarkan Sifa kurang kasih sayang. Aku sangat
menyayanginya melebihi diriku sendiri Bu guru.” Jelasnya membuat ku semakin
mengagumi kejujuran duda 39 tahun ini.
Tapi sekalipun begitu
, apakah mak dan ayah sependapat denganku? Bisa menerima pria ini seperti aku
menerimanya? Tentu sulit bagi mereka untuk paham semua ini. Aku bingung pada
keadaan yang seperti ini, disamping perasaanku yang mengebu-ngebu pada ayah
Sifa.
Sebenarnya aku sangat
takut akan murka mak dan ayah. Mereka tak akan mau bermenantukan lelaki seperti
ayah Sifa. Walaupun dari segi materi dia tergolong orang sukses, tapi dari
segi agama dia benar-benar minim.
Meskipun begitu ayah
Sifa bukanlah seorang preman yang kasar dan brutal. Dia orang yang
berpendidikan dan terpelajar. Hanya saja kebiasaan buruknya bejudi dan menegak
minuman keras itu akan memudarkan kebaikannya dimata mak dan ayah. Semoga Allah
memberikanku petunjuk dalam menyelesaikan semua ini.
Bangku dibawah pohon
ketapang ini terasa nyaman untuk bersantai disiang hari. Seperti biasa
aku menemani Sifa menunggu jemputannya. Hari ini kelihatannya Sifa agak kurang
semangat. Berkali-kali aku menanyainya. Tapi jawabannya hanya gelengan saja.
Tiba-tiba Sifa
menyandarkan kepalanya dipelukanku. Aku terkejut mendapati anak didikku itu
panas tubuhnya tinggi. Kedaannya lemah sekali. dengan setengah berlari, aku
gendong Sifa ke motor. Aku harus membawanya kerumah sakit,tak lupa aku
mengabari ayahnya. Sesampai dirumah sakit, Sifa langsung diperiksa dokter dan
dia dibawa keruang UGD. Tak terasa airmataku berderai melihat Sifa terbaring
diatas tandu. Ayah Sifa datang dengan tergesa-gesa.
“Sifa kenapa Bu
guru?” Tanya ayahnya cemas.
“Belum tau Pak, dia
diruang UGD dan dokter masih didalam.” Jawabku sambil menyeka airmata dengan
jariku.
Ayah Sifa kelihatan
cemas sekali. Mukanya kelihatan kusut dan matanya berkaca-kaca. Tak lama
kemudian, dokter keluar ruangan UGD. Kami langsung menyerbunya.
“Anak ibu terkena
panas tinggi. Tadi dia sempat kejang-kejang. Tapi kami sudah menanganinya.
Kalau mau menemuinya, silahkan.” Ujar dokter dengan ramah.
“ Terima kasih
dok.”jawabku pendek. Kami pun menjenguk Sifa.
***
5 hari setelah
Sifa keluar dari rumah sakit, ayah Sifa menemuiku disekolah siang itu.
“Bu guru Ani, maukah
ibu menjadi ibu baru untuk Sifa?” Tanya ayah Sifa mengejutkanku. Matanya terus
memandang Sifa dan anak-anak lain yang berkejar-kejaran dilapangan sekolah.
“kalau ibu bersedia,
hari Minggu depan aku dan pihak keluarga akan datang melamar kerumah ibu,
meminta pada orang tua ibu langsung.”tambahnya.
Belum lagi hilang
kekagetanku yang pertama, ditambah lagi acara melamar. Aku diam saja, aku yakin
tanpaku jawabpun dia tau jawabanku. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat
daun ketapang berbisik-bisik perlahan. Seakan membicarakan hati kami yang sibuk
dengan mimpi masing-masing.
Memang akhir-akhir
ini, banyak perubahan pada ayah Sifa. Dia sudah mulai shalat dan belajar agama,
disela-sela kesibukannya pada perusaan yang dipimpinnya. Semua itu kuketahui
dari Sifa, gadis kecil yag lugu dan lucu. Alhamdulillah ya Allah kau
tunjukkan jalan-Mu padanya.
***
“Apa kau sudah kenal
baik laki-laki itu Nak?” Tanya mak, ketika aku menyampaikan maksud ayah Sifa
yang ingin melamarku.
“ Sudah mak.
Menurutku dia laki-laki yang baik, dan sopan mak.” Jawabku meyakinkan.
“Semua terserah kau Nak,
kami Cuma mengingatkan. Soalnya yang akan menjalani kau juga.” Tambah ayah.
“Tapi yang penting,
dia dari keturunan baik-baik, mengerti dan menjalankan agama. Masalah status itu
terserah padamu. Yang penting kamu harus ikhlas merawat anaknya seperti anakmu
sendiri.” Nasehat mak lagi.
“ Insyaallah Mak”
jawabku singkat.
***
Hari bersejarah itu
pun datang. Tadi malam aku nyaris tak dapat memejamkan mata. Aku agak sedikit
gugup dengan situasi yang menurutku serba mendebarkan ini. Tepat pukul 15.00,
ayah Sifa dan keluarganya sampai dikediaman kami yang sederhana. Dengan
sambutan seadanya, acarapun berjalan lancar.
Tanggal pernikahan
sudah ditempa. Setelah acara lamaran, kebahagiaan menyelimuti dua
keluarga, tak terkecuali diwajah imut Sifa. Senja pun mengakhiri pertemuan dua
keluarga kami. Hatiku berbunga-bunga penuh bahagia. Langit senja merona jingga,
menambah semarak hati. Adzan menggema. Mengumandangkan asma Allah. Memanggil kita
bertemu Tuhan semesta alam dalam shalat masing-masing.
***
Mujur tak dapat
diraih, malang tak dapat ditolak. Agaknya itu yang kurasakan saat ini, disaat
persiapan pesta 90% sudah siap. Berita pilu pun datang. Siang itu, aku menelpon
ayah Sifa untuk memastikan dia tidak lupa menjemput Sifa. Seminggu ini aku
dipingit, tak boleh keluar rumah karena hari penikahan sudah dekat.
“ Hallo,
Assalamuulaikum” Sapaku membuka percakapan.
“ Wa’alaikum salam,
selamat siang, dari siapa?” Tanya sebuah suara yang tidak kukenal.
“ini HP pak Hendra
kan? Saya calon istrinya, pak Hendra nya mana? “ Tanyaku penuh selidik.
“Maaf buk, pak Hendra
lagi diruang pemeriksaan, HP nya kami tahan sebagai barang bukti, pak Hendra
ada dikantor kami. Dia tertangkap menyimpan Sabu-sabu di mobil saat kami
melakukan razia tadi pagi.”
HP ku terlepas dari
tangan hingga berkecai dilantai. Tak sepatah katapun keluar dari mulut, hanya
airmata yang berjatuhan bagai hujan. Aku benar-benar tak percaya.
“ Maafkan abang An,
sudah menghancurkan impian kita.” Sesal bang Hendra saat aku membesuknya di
Lembaga Permasyarakatan.
“Benar barang haram
itu itu milik abang?” Tanyaku datar.
“Tapi aku tidak
memakainya An, sumpah demi Allah.” Tambahnya lagi.
“Tapi polisi tak mau
tau Bang, yang mereka tau benda haramitu ada di mobil Abang, berarti Abang yang
memilikinya.” Jawabku lagi.
“Memang begitu, tapi
aku tidak menggunakannya, kamu harus percaya An.”
Aku tak banyak
berkata-kata. Hatiku masih terlalu pilu menahan malu. Belum lagi kemarahan mak
dan ayah padaku. Aku telah mencoreng arang diwajah mereka.
Tapi semua tak
kuceritakan pada bang Hendra, begitu juga dengan rencana mak yang ingin
menjodohkanku dengan pria lain. Sebenarnya mak tidak memberiku izin menjenguk
bang Hendra.
Aku pergi dari
rumah ketika mak ke pasar. Itu juga tak kuceritakan pada bang Hendra. Aku tau,
dia terlalu penat menanggung beban batin. Buktinya baru satu bulan dipenjara,
dia kelihatan kurus sekali. Aku semakin miris melihatnya.
”Abang tau kamu
sangat kecewa An. Kamu pasti tidak akan mau menerimaku lagi seperti dulu. Ya
beginilah aku An. Aku memang pemabuk, penjudi, tapi aku tidak penah
menggunankan narkoba, seperti yang mereka tuduhkan An . ini semua fitnah.
Terlepas dari itu
semua An, aku telah melukai hati kamu dan keluargamu. Kemarin ayahmu
datang, beliau datang mengembalikan cincin tunangan kita, dia meminta aku
memutuskan hubungan ini, katanya, ada pria baik-baik ingin
mempersuntingmu” Suara bang Hendra tertahan. Aku kaget mendengar
penjelasan bang Hendra. Kenapa ayah tak pernah bilang semua itu padaku.
“ Insyaallah aku
ikhlas An, menikahlah dengannya. Dia jauh lebih baik dari aku, yang seorang
narapidana.” Katanya lagi, semakin menyayat hatiku. Airmataku menganak sungai
di pipi.
“Tapi, kamu harus
tau, aku difitnah An, Sabu-sabu itu bukan milikku, aku yakin suatu saat
kebenaran itu akan muncul di permukaan. Kamu harus percaya itu An aku mohon,
percayalah” airmata bang Hendra jatuh berderai di meja ruang besuk itu.
“Aku selalu percaya
padamu bang. Semoga Allah memberikan ketabahan. Ingat bang, Allah tidak pernah
memberi kita cobaan, melainkan sebatas kemampuan kita. Dan abang juga
harus tau, tembok penjara ini tak akan mampu memisahkan hatiku yang telah abang
bawa. Berjuanglah bang demi aku dan Sifa.” Tambahku seraya melemparkan senyum
yang paling manis pada bang Hendra yang seakan tidak percaya dengan ucapanku.
Namun aku melihat gurat kebahagiaan diwajahnya.
Habisnya waktu besuk
memisahkan kami. Hingga aku terpaksa meninggalkan bang Hendra,
namun suatu saat nanti aku yakin, tangan Tuhan akan mempersatukan kami.
Matahari masih
terik menjamah bumi ketika aku melangkah keluar Lembaga Permasyarakatan ini.
Berulang-ulang ku pandangi tembok kokoh LP ini,sebelum aku berlalu.Hatiku tlah
tinggal bersama bang Hendra. Rasanya tak mampu aku untuk menjauh.Karna cintanya
telah mengisi serambi hatiku.
TAMAT
Dimuat
di Haluan Kepri pada Minggu, 29 Mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar