Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 25 Februari 2012

CERPEN_Serambi Cinta


SERAMBI CINTA

Siang itu, panas matahari memanggang bumi. Didepan gerbang SD 001, aku menemani  Sifa menunggu jemputannya. Sifa salah satu muridku di SD ini, meskipun aku baru pindah mengajar disini, tak membutuhkan waktu lama untuk mengakrabkan diri. Sifa anak yang rajin, aku suka melihat semangatnya belajar. Andai semua anak di Negri ini bersemangat seperti Sifa. Pasti Indonesia bangga, pikirku suatu kali.
                Tak lama kemudian, datanglah jemputan Sifa. Sebuah Sedan Vios silver yang dikendarai ayahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Sifa dan ayahnya pun berlalu. Aku bergegas  ke parkiran. Mengambil motorku dan pulang. Aku berharap masih bisa shalat Zhuhur bersama ayah.
***
                Hari ini ada rapat guru dan orang tua murid disekolah. Semua siswa diliburkan. Angin berhembus lembut meniup jilbab biruku saat aku berjalan keluar ruang rapat. Rapat baru saja selesai. Tiba-tiba suara menyapaku.
“Bu guru Ani, tunggu. sebuah suara yang tidak aku kenal
“Mau pulang Buk? Boleh saya bicara sebentar?” ternyata ayah Sifa yang akhirnya aku tau dia bernama Hendra.
Banyak hal yang kami bicarakan tentang Sifa, dan pertanyaan-pertanyaan layaknya orang tua yang ingin tau perkembangan anaknya. Sangat beruntung Sifa mempunyai ayah yang baik dan pehatian.
***
Susah untuk dijelaskan awalnya. Seiring waktu yang sering mempertemukan kami, dan obrolan-obrolan ringan di telpon. Aku dan ayah Sifa menjadi semakin akrab. Rasanya sudah tidak pantas kami saling jatuh cinta, mengingat aku gadis berusia 30 tahun dan ayah Sifa, duda anak satu.
Tapi itulah yang kami rasakan di hati masing-masing. Walaupun tak seindah cinta anak remaja. Namun bagiku ini cinta pertama yang mampu menyentuh hati. Aku termasuk wanita yang susah jatuh cinta, mungkin faktor itu juga yang membuatku belum menikah diusia 30 tahun.
Tak terlalu berlebihan. Kami hanya berbicara di telpon dan bertemu ketika dia menjemput Sifa.Tanpa ada jalan berdua. Bagiku itu sudah cukup. Karena cinta itu tak harus diumbar-umbar.
Pagi ini Minggu, bagiku hari Minggu paling membosankan, karena tak bisa bertemu dengan Sifa dan ayahnya. Ternyata cinta itu benar-benar aneh. Seorang guru yang kharismatik seprti aku pun mampu dipengaruhinya. Tiba-tiba HP ku berdering
“Hallo Assalamualaikum.” sapa suara yang sangat kukenal, Sifa
“waalaikum salam. Ada apa Sifa?” Jawabku
“Bu guru lagi apa?”   
“Tak ada, duduk-dudu saja.” jawabku seadanya
“Kalau Bu guru tak sibuk, kita jalan-jalan yuk sama ayah.” ajak Sifa, membuatku sedikit gugup menjawabnya.
“Kalau Bu guru mau, nanti pukul 3 sore kami jemput kerumah.” tambahnya lagi
“Baiklah, ibu tunggu.” jawabku pasrah
Sore itu kami menghabiskan waktu bertiga.Mengantarkan Sifa bermain dari wahana yang satu ke wahana yang lain. Walau tak ada waktu untuk kami bicara berdua. Hanya pandangan mata saja saling mencerna rindu dihati masing-masing. Cinta,memang indah adanya.
***
          “Apa kau sedang dekat dengan seseorang Nak?“ Tanya mak  diruang makan, malam itu membuatku terpaksa menahan suapan nasi dari piring.
“Tak ada lah Mak.” jawabku menutupi rasa kaget.
          “jangan bohong Nak. Dari tingkahmu saja kami sudah tau. Kami ini sudah tua Nak, bukan anak kemaren sore yang gampang kau bohongi. Bahkan nafasmu turun naik saja, kami mengetahuinya.” Tambah mak lagi dengan pameo khasnya.
“Siapa pria itu An? “Tanya ayah  yang dari tadi hanya diam.
“kalu memang dia serius, suruh datang kerumah saja, bawa orang tuanya. Tak baik lama-lama pacaran. Nanti menimbulkan fitnah.” tambah ayah lagi.
Aku masih belum berani menjawab pertanyaan mereka. Aku yakin mak dan ayah pasti kaget kalau tau pria yang mendekatiku seorang duda. Apalagi dia bukan orang yang mengerti agama. Seperti yang diharapkan ayah selama ini.
Sebenarnya aku sendiripun tak yakinAyah Sifa serius padaku. Pasalnya sampai saat ini, tak ada kata-kata serius yang terucap dari mulutnya, apalagi berniat melamar. Memang ayah sifa banyak bercerita tentang dirinya dan pekerjaannya. Banyak hal yang seharusnya membuatku menjauhinya. Tapi hati memang tak dapat ditebak. Yang terjadi malah sebaliknya. Aku semakin mengagumi kejujuran pria itu.
“Aku ini pria yang jauh dari agama Bu guru Ani” cerita ayah Sifa suatu hari mengakuinya padaku
“semenjak ibu Sifa meninggal, aku benar-benar lari dari Syariat. Aku merasa Tuhan benar-benar tak adil. Dia perempuan yang sangat aku cintai. Selama 10 tahun belakang ini. Dan tuhan mengetahui itu. Tapi kenapa tuhan tega memanggil di saat kami mendapatkan kebahagiaan yang lama kami tunggu-tunggu. Dia meninggal saat melahirkan Sifa.
Sejak itulah aku berteman dengan alkohol dan judi. Duniaku benar-benar gelap Bu guru. Tapi sekarang Sifa sudah besar, dia mulai kritis menanyai semua itu. Jadi aku harus mengurangi semua itu, demi anakku Sifa. Memang tak mudah buk, tapi aku sedang  berusaha. Aku tak ingin Sifa tau kebiasaan buruk ayahnya.
Tapi walaupun aku seperti ini, aku tak pernah membiarkan Sifa kurang kasih sayang. Aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri Bu guru.” Jelasnya membuat ku semakin mengagumi kejujuran duda 39 tahun ini.
Tapi sekalipun begitu , apakah mak dan ayah sependapat denganku? Bisa menerima pria ini seperti aku menerimanya? Tentu sulit bagi mereka untuk paham semua ini. Aku bingung pada keadaan yang seperti ini, disamping perasaanku yang mengebu-ngebu pada ayah Sifa.
Sebenarnya aku sangat takut akan murka mak dan ayah. Mereka tak akan mau bermenantukan lelaki seperti ayah Sifa. Walaupun dari segi materi dia tergolong orang sukses, tapi dari segi  agama dia benar-benar minim.
Meskipun begitu ayah Sifa bukanlah seorang preman yang kasar dan brutal. Dia orang yang berpendidikan dan terpelajar. Hanya saja kebiasaan buruknya bejudi dan menegak minuman keras itu akan memudarkan kebaikannya dimata mak dan ayah. Semoga Allah memberikanku petunjuk dalam menyelesaikan semua ini.
Bangku dibawah pohon ketapang ini terasa nyaman untuk bersantai disiang hari. Seperti  biasa aku menemani Sifa menunggu jemputannya. Hari ini kelihatannya Sifa agak kurang semangat. Berkali-kali aku menanyainya. Tapi jawabannya hanya gelengan saja.
Tiba-tiba Sifa menyandarkan kepalanya dipelukanku. Aku terkejut mendapati anak didikku itu panas tubuhnya tinggi. Kedaannya lemah sekali. dengan setengah berlari, aku gendong Sifa ke motor. Aku harus membawanya kerumah sakit,tak lupa aku mengabari ayahnya. Sesampai dirumah sakit, Sifa langsung diperiksa dokter dan dia dibawa keruang UGD. Tak terasa airmataku berderai melihat Sifa terbaring diatas tandu. Ayah Sifa datang dengan tergesa-gesa.
“Sifa kenapa Bu guru?” Tanya ayahnya cemas.
“Belum tau Pak, dia diruang UGD dan dokter masih didalam.” Jawabku sambil menyeka airmata dengan jariku.
Ayah Sifa kelihatan cemas sekali. Mukanya kelihatan kusut dan matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian, dokter keluar ruangan UGD. Kami langsung menyerbunya.
“Anak ibu terkena panas tinggi. Tadi dia sempat kejang-kejang. Tapi kami sudah menanganinya. Kalau mau menemuinya, silahkan.” Ujar dokter dengan ramah.
“ Terima kasih dok.”jawabku pendek. Kami pun menjenguk Sifa.
***
 5 hari setelah Sifa keluar dari rumah sakit, ayah Sifa menemuiku disekolah siang itu.
“Bu guru Ani, maukah ibu menjadi ibu baru untuk Sifa?” Tanya ayah Sifa mengejutkanku. Matanya terus memandang Sifa dan anak-anak lain yang berkejar-kejaran dilapangan sekolah.
“kalau ibu bersedia, hari Minggu depan aku dan pihak keluarga akan datang melamar kerumah ibu, meminta pada orang tua ibu langsung.”tambahnya.
Belum lagi hilang kekagetanku yang pertama, ditambah lagi acara melamar. Aku diam saja, aku yakin tanpaku  jawabpun dia tau jawabanku. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat daun ketapang berbisik-bisik perlahan. Seakan membicarakan hati kami yang sibuk dengan mimpi masing-masing.
Memang akhir-akhir ini, banyak perubahan pada ayah Sifa. Dia sudah mulai shalat dan belajar agama, disela-sela kesibukannya pada perusaan yang  dipimpinnya. Semua itu kuketahui dari Sifa, gadis kecil yag lugu dan lucu. Alhamdulillah ya Allah kau tunjukkan jalan-Mu padanya.
***
“Apa kau sudah kenal baik laki-laki itu Nak?” Tanya mak, ketika aku menyampaikan maksud ayah Sifa yang ingin melamarku.
“ Sudah mak. Menurutku dia laki-laki yang baik, dan sopan mak.” Jawabku meyakinkan.
“Semua terserah kau Nak, kami Cuma mengingatkan. Soalnya yang akan menjalani kau juga.” Tambah ayah.
“Tapi yang penting, dia dari keturunan baik-baik, mengerti dan menjalankan agama. Masalah status itu terserah padamu. Yang penting kamu harus ikhlas merawat anaknya seperti anakmu sendiri.” Nasehat mak lagi.
“  Insyaallah Mak” jawabku singkat.
***
Hari bersejarah itu pun datang. Tadi malam aku nyaris tak dapat memejamkan mata. Aku agak sedikit gugup dengan situasi yang menurutku serba mendebarkan ini. Tepat pukul 15.00, ayah Sifa dan keluarganya sampai dikediaman kami yang sederhana. Dengan sambutan seadanya, acarapun berjalan lancar.
Tanggal pernikahan sudah ditempa. Setelah acara lamaran, kebahagiaan menyelimuti  dua keluarga, tak terkecuali diwajah imut Sifa. Senja pun mengakhiri pertemuan dua keluarga kami. Hatiku berbunga-bunga penuh bahagia. Langit senja merona jingga, menambah semarak hati. Adzan menggema. Mengumandangkan asma Allah. Memanggil kita bertemu Tuhan semesta alam dalam shalat masing-masing. 
***

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Agaknya itu yang kurasakan saat ini, disaat persiapan pesta 90% sudah siap. Berita pilu pun datang. Siang itu, aku menelpon ayah Sifa untuk memastikan dia tidak lupa menjemput Sifa. Seminggu ini aku dipingit, tak boleh keluar rumah karena hari penikahan sudah dekat.
“ Hallo, Assalamuulaikum” Sapaku membuka percakapan.
“ Wa’alaikum salam, selamat siang, dari siapa?” Tanya sebuah suara yang tidak kukenal.
“ini HP pak Hendra kan? Saya calon istrinya, pak Hendra nya mana? “ Tanyaku penuh selidik.
“Maaf buk, pak Hendra lagi diruang pemeriksaan, HP nya kami tahan sebagai barang bukti, pak Hendra ada dikantor kami. Dia tertangkap menyimpan Sabu-sabu di mobil saat kami melakukan razia tadi pagi.”
HP ku terlepas dari tangan hingga berkecai dilantai. Tak sepatah katapun keluar dari mulut, hanya airmata yang berjatuhan bagai hujan. Aku benar-benar tak percaya.
“ Maafkan abang An, sudah menghancurkan impian kita.” Sesal bang Hendra saat aku membesuknya di Lembaga Permasyarakatan.
“Benar barang haram itu itu milik abang?” Tanyaku datar.
“Tapi aku tidak memakainya An, sumpah demi Allah.” Tambahnya lagi.
“Tapi polisi tak mau tau Bang, yang mereka tau benda haramitu ada di mobil Abang, berarti Abang yang memilikinya.” Jawabku lagi.
“Memang begitu, tapi aku tidak menggunakannya, kamu harus percaya An.”
Aku tak banyak berkata-kata. Hatiku masih terlalu pilu menahan malu. Belum lagi kemarahan mak dan ayah padaku. Aku telah mencoreng arang diwajah mereka.
Tapi semua tak kuceritakan pada bang Hendra, begitu juga dengan rencana  mak yang ingin menjodohkanku dengan pria lain. Sebenarnya mak tidak memberiku izin menjenguk bang Hendra.
Aku pergi  dari rumah ketika mak ke pasar. Itu juga tak kuceritakan pada bang Hendra. Aku tau, dia terlalu penat menanggung beban batin. Buktinya baru satu bulan dipenjara, dia kelihatan kurus sekali. Aku semakin miris melihatnya.
”Abang tau kamu sangat kecewa An. Kamu pasti tidak akan mau menerimaku lagi seperti dulu. Ya beginilah aku An. Aku memang pemabuk, penjudi, tapi aku tidak penah menggunankan narkoba, seperti yang mereka tuduhkan An . ini semua fitnah.
Terlepas dari itu semua An, aku telah melukai hati kamu dan keluargamu. Kemarin  ayahmu datang, beliau datang mengembalikan cincin tunangan kita, dia meminta aku memutuskan hubungan ini, katanya, ada pria baik-baik ingin mempersuntingmu”  Suara bang Hendra tertahan. Aku kaget mendengar penjelasan bang Hendra. Kenapa ayah tak pernah bilang semua itu padaku.
“ Insyaallah aku ikhlas An, menikahlah dengannya. Dia jauh lebih baik dari aku, yang seorang narapidana.” Katanya lagi, semakin menyayat hatiku. Airmataku menganak sungai di pipi.
“Tapi, kamu harus tau, aku difitnah An, Sabu-sabu itu bukan milikku, aku yakin suatu saat kebenaran itu akan muncul di permukaan. Kamu harus percaya itu An aku mohon, percayalah” airmata bang Hendra jatuh berderai di meja ruang besuk itu.
“Aku selalu percaya padamu bang. Semoga Allah memberikan ketabahan. Ingat bang, Allah tidak pernah memberi kita  cobaan, melainkan sebatas kemampuan kita. Dan abang juga harus tau, tembok penjara ini tak akan mampu memisahkan hatiku yang telah abang bawa. Berjuanglah bang demi aku dan Sifa.” Tambahku seraya melemparkan senyum yang paling manis pada bang Hendra yang seakan tidak percaya dengan ucapanku. Namun aku melihat gurat kebahagiaan diwajahnya.
Habisnya waktu besuk memisahkan kami.  Hingga aku terpaksa  meninggalkan bang Hendra, namun suatu saat nanti aku yakin, tangan Tuhan akan mempersatukan kami.
 Matahari masih terik menjamah bumi ketika aku melangkah keluar Lembaga Permasyarakatan ini. Berulang-ulang ku pandangi tembok kokoh LP ini,sebelum aku berlalu.Hatiku tlah tinggal bersama bang Hendra. Rasanya tak mampu aku untuk menjauh.Karna cintanya telah mengisi serambi hatiku.

TAMAT
Dimuat di Haluan Kepri pada Minggu, 29 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar