Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 25 Februari 2012

Cerpen_HANG NADIM


HANG NADIM
Bandara internasional Hang Nadim itu masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang mondar mandir entah akan berangkat atau baru kembali. Sementara itu petugas yang berseragam orange terlihat santai menghisap rokoknya. Sesekali terdengar gelak tawa sesama mereka.
Di kursi kayu panjang di luar bandara itu, seorang perempuan muda tengah gelisah. Itu tergambar dari wajahnya yang tak terlihat tenang. Kadang-kadang dia berdiri, menatap jam di pergelangan tangannya, kemudian duduk kembali.
Dia menunggu kedatangan pesawat dari Padang, yang membawa orang tuanya berkunjung ke Batam. Jam baru menunjukan pukul Sembilan tepat, padahal pesawat yang ditunggunya akan sampai pukul satu siang nanti.
Banyak hal yang membuatnya rela berlama-lama menunggu di bandara ini. Salah satunya, karena timbunan rindu yang sudah lima tahun disanggahnya. Ya, dia meninggalkan kampung halaman lima tahun yang lalu. Ketika seragam putih, abu-abu baru saja terlepas dari tubuhnya.
Sebenarnya Batam bukan pilihan hatinya waktu itu. Fikirannya masih tertaut pada bangku kuliah seperti teman-temannya yang lain. Tapi apa boleh buat, masalah ekonomi juga yang menghalangi langkahnya itu. Sehingga yang terfikir di benaknya hanyalah bekerja secepatnya. Harapannya, setelah bekerja dia mampu sedikit melupakan perihal kuliah.
“Sayang sekali dengan nilai sebagus itu kamu tak kuliah Ran,” ujar kepala sekolah SMAnya. Ketika ia berpamitan hendak berangkat ke Batam.
“Tak apalah Pak, sebenarnya Rani ingin sekali kuliah. Tapi mungkin belum sekarang.” Jawabnya berusaha tegar. Dia tak mau kelihatan ragu-ragu di depan guru yang di seganinya ini. Kepala sekolah yang sangat disayangi dan menyanyanginya ini.
Jelas saja dia menjadi anak kesayangan. Prestasi-prestasinya di bidang akademik cukup mengharumkan nama sekolahnya. Belum lagi hasil UNnya yang gemilang, yang berhasil membawa sekolahnya menjadi peringkat pertama di kabupaten dan mengalahkan 16 sekolah lain.
“ Bagaimana kalau kamu tak usah ke Batam Ran, biar Bapak yang membiayai kuliahmu. Kamu bisa tinggal satu kos dengan Mira di Padang. Kan kalian bisa kuliah sama-sama. Bagaimana Rani? Kamu mau tidak?” Jelas kepala sekolahnya lagi. Tawaran yang sangat menggiurkan sebenarnya. Namun Rani sudah mempunyai tekat yang bulat untuk ke Batam.
“ Diskusikan lah dulu dengan orang tua mu Nak. Masih belum terlambat,” tambah istri kepala sekolahnya, yang juga punya perhatian lebih pada Rani.
“ Tak usah Pak, Buk. Rani mau bekerja dulu. Biar bisa bantu Emak, Rani janji nanti akan menabung buat kuliah”. Jawabnya lugu namun tegas dan masih saja terlihat riang. Hingga pasangan suami istri itu tak punya kata-kata lagi untuk membujuk Rani.
Mereka tahu, Rani seorang yang berpendirian teguh. Sekali bertekat susah untuk membelokkannya. Mereka sangat faham sifat rani yang itu. Jauh di dasar hatinya sebenarnya mereka sangat bangga pada Rani.
Sebenarnya ada satu alasan mengapa Rani berkeras menolak tawaran kepala sekolahnya tadi. Baginya apalah artinya menjadi seorang sarjana jika dia harus menggadaikan harga diri orang tuanya. Baginya menjadi sarjana itu merupakan cita-cita kedua. Yang paling penting baginya, adalah membahagiakan orang tuanya dengan caranya sendiri. Kalaupun nanti dia ditakdirkan menjadi orang sukses, dia hanya ingin satu dalang di belakangnya. Itulah orang tuanya.
Bandara mulai ramai. Hampir setiap menit, taksi berhenti dan menurunkan penumpang. Mungkin penumpang yang akan berangkat. Rani melirik jam tanganya, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Dia mengubah arah duduknya. Menatap lurus kearah pintu kedatangan. Sengaja dia mengambil posisi yang paling depan, agar begitu Emak dan Bapaknya datang, dia bisa langsung melihat mereka.
Tak jauh dari tempat duduknya, Rani melihat seorang gadis sedang menangis dalam pelukan ibunya. Mungkin dia mau berangkat jauh, dan meninggalkan orang tuanya, fikir Rani. Ternyata benar gadis itu akan berangkat karena dia mulai menarik travel bag kearah pintu keberangkatan. Seorang petugas bandara memeriksa tiketnya. Sedangkan di luar, seorang perempuan paruh baya mungkin ibunya, menyeka tangisnya dengan ujung kerudung biru yang dikenakannya. Seasana begitu haru.
Rani seolah-olah tercampak ke masa lima tahun lalu. Di Bandara Minangkabau, ia mengalami nasib yang sama dengan gadis tadi. Perpisahan yang sangat menyakitkan. Tak henti-hentinya Rani memeluk Emaknya, saat menjelang keberangkatan. Orang tua itu tak banyak berkata-kata. Beliau hanya mendekap Rani penuh kehangatan. Sesekali tangannya menyeka airmata di wajah Rani.
Sementara itu, Bapaknya hanya terdiam berdiri disebelah Rani. Laki-laki tua itu sesekali menoleh kearah yang lain. Mencoba membuang kepedihannya. Berbeda dengan Emaknya, Bapak Rani masih bisa menguasai suasana.
Disaat rani akan memasuki ruang tunggu, Emaknya melepaskan pelukan erat pada bungsunya itu. Tak ada kata-kata yang di ucapkannya, hanya airmatanya saja bertambah deras mengalir. Sedangkan Bapaknya, mengusap ubun-ubun Rani tiga kali, seraya berucap “Jaga dirimu baik-baik”. Dari pandangannya yang mengabur, Rani sempat melihat mata Bapaknya yang memerah, melepas kepergian Rani.
Pelan-pelan Rani pun berlalu.  Berbaur dengan ratusan penumpang lainnya di bandara Minangkabau itu. Memulai langkahnya mengejar cita-cita. Batam itulah tujuannya.
Di Batam Rani mencoba melupakan kesedihan perpisahan itu. Dia tak mau menjadi perempuan cengeng. Akhirnya dia mulai terbiasa sendiri dan jauh dari orang tua. Walau terkadang rindu itu membuatnya meracau dalam pedih. Dia tetap berusaha tegar. Satu tekatnya saat itu yakni pembuktian. Dia akan membahagiakan orang tuanya dengan caranya sendiri.
Kerinduan itulah yang dijadikannya tameng untuk tetap semangat menjalani kehidupannya di Batam. Hingga dia nyaris tak tersapa oleh rasa putus asa. Tekatnya semakin besar untuk sukses. Dan merengkuh kehidupan indah bersama orang tuanya. kelak itu akan terwujud jua, harapnya.
 Nak, jam berapa sekarang?” Lamunan panjang Rani terputus ketika seorang bapak tua di sebelahnya bertanya.
“ Jam satu siang Pak,” jawabnya sopan.
Rani melihat lagi jam tangannya, ternyata benar jam satu siang. Pesawat dari Padang sudah masuk. Rani berdiri dari tepat duduknya. Matanya menatap lekat setiap manusia yang keluar dari pintu kedatangan itu.
Ketika retina matanya menangkap sepasang orang tua berjalan tertatih menuju pintu. Dengan jinjingan penuh di tangannya. Dadanya bergetar hebat. Itulah Emak dan Bapaknya. Rani mengejar orang tua itu dan langsung memeluk Emaknya. Dipatutnya, tubuh emaknya yang mulai ringkik, kurus dan keriput. Hatinya benar-benar perih. Sampai beginikah waktu memakannya?
Banyak perubahan dari fisik mereka berdua. Emak yang dulu energik dan lincah, kini terlihat layu dan lemah. Badannya tinggal kulit pembalut tulang, hanya satu yang tak berubah. Pelukannya masih sehangat dulu, ketika lima tahun yang lalu. Bahkan sama seperti pelukan pertama ketika ia hadir kedunia.
          “Bapak”, hanya kata itu yang terucap dari bibirnya ketika dilihatnya lelaki tua yang nyaris bungkuk itu. Tangisnya pecah sembari meraih dan mencium tangan kokoh yang mulai keriput. Seperti dulu, tangan bapak mengusap ubun-ubunnya. Namun ada yang berbeda, mata bapaknya kini basah. Beliau kini lebih perasa.
          Lama mereka saling mencurahkan rindu. Air mata haru menyelimuti mereka. Ada kebahagian yang mereka rasakan di sana. Rani tak henti-hentinya bersyukur, setelah lima tahun berlalu. Inilah hari yang paling membahagiakan baginya. Melihat dan mendekap kedua orang tuannya kembali. Meski semuanya telah berubah. Orang tuanya tak lagi sekuat dan gagah dulu, tetapi baginya mereka tetap orang tua nomor satu di seluruh dunia.
TAMAT
Tanjungpinang, 25 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar