HANG NADIM
Bandara internasional Hang Nadim itu
masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang mondar mandir entah akan berangkat
atau baru kembali. Sementara itu petugas yang berseragam orange terlihat santai menghisap rokoknya. Sesekali terdengar gelak
tawa sesama mereka.
Di kursi kayu panjang di luar bandara
itu, seorang perempuan muda tengah gelisah. Itu tergambar dari wajahnya yang tak
terlihat tenang. Kadang-kadang dia berdiri, menatap jam di pergelangan
tangannya, kemudian duduk kembali.
Dia menunggu kedatangan pesawat dari
Padang, yang membawa orang tuanya berkunjung ke Batam. Jam baru menunjukan
pukul Sembilan tepat, padahal pesawat yang ditunggunya akan sampai pukul satu
siang nanti.
Banyak hal yang membuatnya rela
berlama-lama menunggu di bandara ini. Salah satunya, karena timbunan rindu yang
sudah lima tahun disanggahnya. Ya, dia meninggalkan kampung halaman lima tahun
yang lalu. Ketika seragam putih, abu-abu baru saja terlepas dari tubuhnya.
Sebenarnya Batam bukan pilihan hatinya
waktu itu. Fikirannya masih tertaut pada bangku kuliah seperti teman-temannya
yang lain. Tapi apa boleh buat, masalah ekonomi juga yang menghalangi
langkahnya itu. Sehingga yang terfikir di benaknya hanyalah bekerja secepatnya.
Harapannya, setelah bekerja dia mampu sedikit melupakan perihal kuliah.
“Sayang sekali dengan nilai sebagus
itu kamu tak kuliah Ran,” ujar kepala sekolah SMAnya. Ketika ia berpamitan
hendak berangkat ke Batam.
“Tak apalah Pak, sebenarnya Rani ingin
sekali kuliah. Tapi mungkin belum sekarang.” Jawabnya berusaha tegar. Dia tak
mau kelihatan ragu-ragu di depan guru yang di seganinya ini. Kepala sekolah
yang sangat disayangi dan menyanyanginya ini.
Jelas saja dia menjadi anak
kesayangan. Prestasi-prestasinya di bidang akademik cukup mengharumkan nama
sekolahnya. Belum lagi hasil UNnya yang gemilang, yang berhasil membawa
sekolahnya menjadi peringkat pertama di kabupaten dan mengalahkan 16 sekolah
lain.
“ Bagaimana kalau kamu tak usah ke
Batam Ran, biar Bapak yang membiayai kuliahmu. Kamu bisa tinggal satu kos
dengan Mira di Padang. Kan kalian bisa kuliah sama-sama. Bagaimana Rani? Kamu
mau tidak?” Jelas kepala sekolahnya lagi. Tawaran yang sangat menggiurkan
sebenarnya. Namun Rani sudah mempunyai tekat yang bulat untuk ke Batam.
“ Diskusikan lah dulu dengan orang tua
mu Nak. Masih belum terlambat,”
tambah istri kepala sekolahnya, yang juga punya perhatian lebih pada Rani.
“ Tak usah Pak, Buk. Rani mau bekerja
dulu. Biar bisa bantu Emak, Rani janji nanti akan menabung buat kuliah”.
Jawabnya lugu namun tegas dan masih saja terlihat riang. Hingga pasangan suami
istri itu tak punya kata-kata lagi untuk membujuk Rani.
Mereka tahu, Rani seorang yang
berpendirian teguh. Sekali bertekat susah untuk membelokkannya. Mereka sangat
faham sifat rani yang itu. Jauh di dasar hatinya sebenarnya mereka sangat
bangga pada Rani.
Sebenarnya ada satu alasan mengapa
Rani berkeras menolak tawaran kepala sekolahnya tadi. Baginya apalah artinya
menjadi seorang sarjana jika dia harus menggadaikan harga diri orang tuanya.
Baginya menjadi sarjana itu merupakan cita-cita kedua. Yang paling penting
baginya, adalah membahagiakan orang tuanya dengan caranya sendiri. Kalaupun
nanti dia ditakdirkan menjadi orang sukses, dia hanya ingin satu dalang di
belakangnya. Itulah orang tuanya.
Bandara mulai ramai. Hampir setiap
menit, taksi berhenti dan menurunkan penumpang. Mungkin penumpang yang akan
berangkat. Rani melirik jam tanganya, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Dia
mengubah arah duduknya. Menatap lurus kearah pintu kedatangan. Sengaja dia
mengambil posisi yang paling depan, agar begitu Emak dan Bapaknya datang, dia
bisa langsung melihat mereka.
Tak jauh dari tempat duduknya, Rani
melihat seorang gadis sedang menangis dalam pelukan ibunya. Mungkin dia mau
berangkat jauh, dan meninggalkan orang tuanya, fikir Rani. Ternyata benar gadis
itu akan berangkat karena dia mulai menarik travel
bag kearah pintu keberangkatan. Seorang petugas bandara memeriksa tiketnya.
Sedangkan di luar, seorang perempuan paruh baya mungkin ibunya, menyeka
tangisnya dengan ujung kerudung biru yang dikenakannya. Seasana begitu haru.
Rani seolah-olah tercampak ke masa
lima tahun lalu. Di Bandara Minangkabau, ia mengalami nasib yang sama dengan
gadis tadi. Perpisahan yang sangat menyakitkan. Tak henti-hentinya Rani memeluk
Emaknya, saat menjelang keberangkatan. Orang tua itu tak banyak berkata-kata.
Beliau hanya mendekap Rani penuh kehangatan. Sesekali tangannya menyeka airmata
di wajah Rani.
Sementara itu, Bapaknya hanya terdiam
berdiri disebelah Rani. Laki-laki tua itu sesekali menoleh kearah yang lain.
Mencoba membuang kepedihannya. Berbeda dengan Emaknya, Bapak Rani masih bisa
menguasai suasana.
Disaat rani akan memasuki ruang
tunggu, Emaknya melepaskan pelukan erat pada bungsunya itu. Tak ada kata-kata
yang di ucapkannya, hanya airmatanya saja bertambah deras mengalir. Sedangkan
Bapaknya, mengusap ubun-ubun Rani tiga kali, seraya berucap “Jaga dirimu
baik-baik”. Dari pandangannya yang mengabur, Rani sempat melihat mata Bapaknya
yang memerah, melepas kepergian Rani.
Pelan-pelan Rani pun berlalu. Berbaur dengan ratusan penumpang lainnya di
bandara Minangkabau itu. Memulai langkahnya mengejar cita-cita. Batam itulah
tujuannya.
Di Batam Rani mencoba melupakan
kesedihan perpisahan itu. Dia tak mau menjadi perempuan cengeng. Akhirnya dia
mulai terbiasa sendiri dan jauh dari orang tua. Walau terkadang rindu itu
membuatnya meracau dalam pedih. Dia tetap berusaha tegar. Satu tekatnya saat
itu yakni pembuktian. Dia akan membahagiakan orang tuanya dengan caranya
sendiri.
Kerinduan itulah yang dijadikannya
tameng untuk tetap semangat menjalani kehidupannya di Batam. Hingga dia nyaris
tak tersapa oleh rasa putus asa. Tekatnya semakin besar untuk sukses. Dan
merengkuh kehidupan indah bersama orang tuanya. kelak itu akan terwujud jua,
harapnya.
“ Nak,
jam berapa sekarang?” Lamunan panjang Rani terputus ketika seorang bapak tua di
sebelahnya bertanya.
“ Jam satu siang Pak,” jawabnya sopan.
Rani melihat lagi jam tangannya,
ternyata benar jam satu siang. Pesawat dari Padang sudah masuk. Rani berdiri
dari tepat duduknya. Matanya menatap lekat setiap manusia yang keluar dari pintu
kedatangan itu.
Ketika retina matanya menangkap
sepasang orang tua berjalan tertatih menuju pintu. Dengan jinjingan penuh di
tangannya. Dadanya bergetar hebat. Itulah Emak dan Bapaknya. Rani mengejar
orang tua itu dan langsung memeluk Emaknya. Dipatutnya, tubuh emaknya yang
mulai ringkik, kurus dan keriput. Hatinya benar-benar perih. Sampai beginikah
waktu memakannya?
Banyak perubahan dari fisik mereka
berdua. Emak yang dulu energik dan lincah, kini terlihat layu dan lemah.
Badannya tinggal kulit pembalut tulang, hanya satu yang tak berubah. Pelukannya
masih sehangat dulu, ketika lima tahun yang lalu. Bahkan sama seperti pelukan
pertama ketika ia hadir kedunia.
“Bapak”,
hanya kata itu yang terucap dari bibirnya ketika dilihatnya lelaki tua yang
nyaris bungkuk itu. Tangisnya pecah sembari meraih dan mencium tangan kokoh
yang mulai keriput. Seperti dulu, tangan bapak mengusap ubun-ubunnya. Namun ada
yang berbeda, mata bapaknya kini basah. Beliau kini lebih perasa.
Lama
mereka saling mencurahkan rindu. Air mata haru menyelimuti mereka. Ada
kebahagian yang mereka rasakan di sana. Rani tak henti-hentinya bersyukur,
setelah lima tahun berlalu. Inilah hari yang paling membahagiakan baginya.
Melihat dan mendekap kedua orang tuannya kembali. Meski semuanya telah berubah.
Orang tuanya tak lagi sekuat dan gagah dulu, tetapi baginya mereka tetap orang
tua nomor satu di seluruh dunia.
TAMAT
Tanjungpinang, 25 Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar