Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 25 Februari 2012

Cerpen_TEPIAN DANAU


TEPIAN DANAU

            Berbeda dengan hari-hari yang lalu, kali ini aku duduk sendiri di bangku ini. Pohon tanjung yangdulu menjadi saksi saat kita berdebat hal-hal sepele. Tapi itu hanya gurauan saja. Cara kita menikmati waktu berdua. Akhirnya kau selalu mengalah ,”iyalah, Abang selalu benar” katamu sambil menatapku nakal. Duhai matamu itu membuat dadaku bergetar semarak.
          Air danau yang jernih seakan menayangkan kembali pertemuan-pertemuan kita dulu. Aku secara tidak sengaja mengenalmu lewat Iwel. Kau yang dengan terus terang mengatakan ketidak sukaanmu pada seragamku. Aku sedikit miris saat kau kelihatan tidak begitu suka dengan perkenalan kita.
          Sejak waktu itu, aku semakin heran pada diriku. Apa kurangnya aku hingga kamu tak pernah mau memberikan nomor ponselmu. Sebenarnya, aku ingin kamu sendiri yang memberikannya langsung padaku. Tapi apa boleh buat aku terpaksa memintanya pada sepupumu.
          Ternyata kau perempuan yang susah ditaklukkan. Berbulan-bulan aku mencoba mendekatimu. Bahkan setiap minggu aku rela melewati jarak 50 km demi menemuimu. Namu apa yang kudapat, kau tak pernah mau bertemu.
          Akhirnya kau mengalah juga pada waktu ketika Iwel sepupu kesayanganmu itu berhasil mempertemukan kita disebuah taman kota Padang Panjang. Saat itu kau sedang pulang ketempat tantemu.
          Aku masih mengingatnya, kau datang dengan jilbab merah marun yang senada dengan baju yang kau kenakan. Wajahmu tampak lebih indah dengan jilbab itu. Kau tak pernah melepaskan tangan Iwel, yang ingin meninggalkan kita berdua. Tak ada keberatan dihatiku jika Iwel mendengarkan pembicaraan kita. Karena sebenarnya dia sudah tau perasaanku padamu.
“ Lain kali, kalau ingin bertemu Ani , jangan pakai seragam lagi ya” Pesanmu diakhir pertemuan kita. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“ Tadi Abang dari kantor, belum sempat pulang” jawabku membela. Kau hanya tersenyum dan berlalu. Aku tak tau mengapa kau begitu benci pada seragamku.
          Tepat dua bulan semenjak pertemuan kita di Taman itu, kau menerimaku sebagai penghuni hatimu. Aku sudah lama menantikannya. Sangat menyenangkan bila diingat masa-masa itu. Meski jarak Padang Panjang-Bikit Tinggi cukup jauh. Namun tidak bagiku.
         

          Kau wanita yang sabar, mungkin tak banyak perempuan sepertimu dimuka bumi. Kau sangat tau aku ini sebagai abdi negara, sehingga banyak waktu ku tersita olehnya. Bahkan kau tak pernah mengeluh, jika aku terpaksa membatalkan janji kita hanya karena tugas dadakan dari komandan. Kau lebih dewasa dari teman-temanmu yang sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. Dan aku semakin mencintaimu.
          Aku menghela nafas panjang. Beberapa nelayan yang memancing dipinggir danau tiba-tiba berteriak, ketika ikan menyambar umpannya. Aku sibuk memainkan guguran bunga tanjung yang berserakan ditanah dengan ujung sepatuku. Ingatanku kembali padamu.
          Hari itu kita mengunjungi danau ini, kita memang tak memiliki banyak waktu untuk bertemu. Namun tetap pertemuan kita sangat mengesankan bagiku. Karena kau selalu mampu membuatku bangga memilikimu. Apalagi senyum yang tak pernah absen dari wajah manismu.
          Namun hari ini sangat berbeda. Mendung menyelimuti wajahmu. Entah apa sebabnya.
“Kamu kenapa Dinda? Kamu nerves ya menghadapi UAN?” tanyaku penuh selidik, karna memang sebentar lagi Ujian Akhir Nasional akan menyapamu. Kau hanya menggeleng. Aku melihat butiran bening mengalir dari bola matamu. Kamu menangis. Sungguh tidak pernah aku melihat ini sebelumnya.
“Bang, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Paman tidak menyetujuinya.” Katamu dengan wajah yang sedih. Aku benar-benar kaget. Selama satu tahun ini, kita menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Nyaris tak ada yang tau selain Aku, Kamu dan Iwel dan Allah tentunya.
“Paman tidak suka dengan hubungan kita. Dia tidak menyukai seragammu. Aku tak mampu membantahnya bang.” Ujarmu lagi membuatku semakin kaget.
          Aku sangat paham masalahnya. Memang dalam adat kita Paman berperan sangat penting mengatur hidup keponakannya. Dan keputusannya mutlak, tak boleh di ganggu lagi. Tapi aku yakin dia tidak tau betapa aku bersungguh-sungguh ingin menjaga dan membahagiakan mu, Ani. Mungkin hanya butuh waktu untuk ku meyakinkan Pamanmu, pikir ku lagi.
          “Abang akan menjumpai pamanmu. Kita bisa selesaikan.” Jawabku menenangkan. Tak ada yang salah kan dengan hubungan kita. Kita harus bisa meyakinkan Paman.“ Jawabku meyakinkan mu.
          “ Tak ada yang bisa membantah perintah paman, Bang. Kita harus mengalah.” Ujarmu lagi. Aku yakin pasti sesuatu yang hebat telah terjadi padamu. Seberapa besarkah kemarahan pamanmu hingga kamu seperti ini?
          Bagaikan riak danau Singkarak kala itu, membayangkan keputusanmu. Aku tak pernah menyangka, itu pertemuan terakhir kita. Berbagai cara kucoba mencari informasi tentang dirimu. Namun aku gagal. Kamu hilang bagai ditelan bumi. Iwel pun tak pernah angkat bicara tentang dirimu. Dia seakan ikut menjauhiku. Andai kau tau, aku benar-benar gulita tanpamu. Cepatlah kembali padaku.

          Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya aku menemukan dirimu dijejaring sosial, sungguh aku kaget melihat dirimu yang selama ini kucari. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku kembali menghubungimu. Ternyata kau masih seperti yang dulu. Perhatian, dan keceriaanmu itu membuatku kembali kemasa lalu kita. Rindu yang bertahun-tahun ku pendam, sungguh sangat menyiksa, An.
          Aku semakin bahagia setelah tau kau masih sendiri. Ternyata kau masih menungguku, Ani. Aku bangga padamu. Bertahun-tahun aku meyakinkan keluargamu untuk menerima aku. Dan kau berjuang demi cinta kita, Meluluhkan hati Pamanmu secara perlahan-lahan.
         

“ kalau Abang mau kerumah, datang saja.” Katamu menawarkan ketika aku menelpon suatu sore.
“Eh iya, Ani sudah dulu ya. Abang sedang piket jaga. Kapan-kapan abang telpon lagi.” Lalu telpon kumatikan.
“Abang bukan yang dulu lagi, An. Abang tak setia menunggumu kembali. Abang tak mampu sepertimu, batinku. Terasa ngilu diulu hati. Tak mampu aku menahan airmata yang mengalir.
“Ayah! Ayok pulang. Any sudah siap mandinya. Besok-besok kita kedanau lagi ya. Kalau Ayah libur.” Suara itu mengagetkanku dari lamunan masa lalu kita di bawah pohon tanjung dan tepian danau ini.
          Seorang anak umur 2 tahun berdiri tidak jauh dariku bersama perempuan. Kau tau, An. Dia anak dan istriku. Sengaja kuberi nama yang sama denganmu. Karena dia sama sepertimu. Riang, lincah, dan cinta pada tepian danau ini. Maaf kan aku An.

                                                          TAMAT
Dimuat di Haluan Kepri pada Minggu, 19 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar