TEPIAN DANAU
Berbeda
dengan hari-hari yang lalu, kali ini aku duduk sendiri di bangku ini. Pohon
tanjung yangdulu menjadi saksi saat kita berdebat hal-hal sepele. Tapi itu
hanya gurauan saja. Cara kita menikmati waktu berdua. Akhirnya kau selalu mengalah
,”iyalah, Abang selalu benar” katamu sambil menatapku nakal. Duhai matamu itu
membuat dadaku bergetar semarak.
Air danau yang jernih seakan
menayangkan kembali pertemuan-pertemuan kita dulu. Aku secara tidak sengaja
mengenalmu lewat Iwel. Kau yang dengan terus terang mengatakan ketidak sukaanmu
pada seragamku. Aku sedikit miris saat kau kelihatan tidak begitu suka dengan
perkenalan kita.
Sejak waktu itu, aku semakin heran
pada diriku. Apa kurangnya aku hingga kamu tak pernah mau memberikan nomor ponselmu.
Sebenarnya, aku ingin kamu sendiri yang memberikannya langsung padaku. Tapi apa
boleh buat aku terpaksa memintanya pada sepupumu.
Ternyata kau perempuan yang susah
ditaklukkan. Berbulan-bulan aku mencoba mendekatimu. Bahkan setiap minggu aku
rela melewati jarak 50 km demi menemuimu. Namu apa yang kudapat, kau tak pernah
mau bertemu.
Akhirnya kau mengalah juga pada waktu
ketika Iwel sepupu kesayanganmu itu berhasil mempertemukan kita disebuah taman
kota Padang Panjang. Saat itu kau sedang pulang ketempat tantemu.
Aku masih mengingatnya, kau datang
dengan jilbab merah marun yang senada dengan baju yang kau kenakan. Wajahmu
tampak lebih indah dengan jilbab itu. Kau tak pernah melepaskan tangan Iwel, yang
ingin meninggalkan kita berdua. Tak ada keberatan dihatiku jika Iwel
mendengarkan pembicaraan kita. Karena sebenarnya dia sudah tau perasaanku
padamu.
“
Lain kali, kalau ingin bertemu Ani , jangan pakai seragam lagi ya” Pesanmu
diakhir pertemuan kita. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“
Tadi Abang dari kantor, belum sempat pulang” jawabku membela. Kau hanya
tersenyum dan berlalu. Aku tak tau mengapa kau begitu benci pada seragamku.
Tepat dua bulan semenjak pertemuan
kita di Taman itu, kau menerimaku sebagai penghuni hatimu. Aku sudah lama
menantikannya. Sangat menyenangkan bila diingat masa-masa itu. Meski jarak
Padang Panjang-Bikit Tinggi cukup jauh. Namun tidak bagiku.
Kau wanita yang sabar, mungkin tak
banyak perempuan sepertimu dimuka bumi. Kau sangat tau aku ini sebagai abdi negara,
sehingga banyak waktu ku tersita olehnya. Bahkan kau tak pernah mengeluh, jika
aku terpaksa membatalkan janji kita hanya karena tugas dadakan dari komandan.
Kau lebih dewasa dari teman-temanmu yang sama-sama mengenakan seragam putih
abu-abu. Dan aku semakin mencintaimu.
Aku menghela nafas panjang. Beberapa
nelayan yang memancing dipinggir danau tiba-tiba berteriak, ketika ikan
menyambar umpannya. Aku sibuk memainkan guguran bunga tanjung yang berserakan
ditanah dengan ujung sepatuku. Ingatanku kembali padamu.
Hari itu kita mengunjungi danau ini,
kita memang tak memiliki banyak waktu untuk bertemu. Namun tetap pertemuan kita
sangat mengesankan bagiku. Karena kau selalu mampu membuatku bangga memilikimu.
Apalagi senyum yang tak pernah absen dari wajah manismu.
Namun hari ini sangat berbeda. Mendung
menyelimuti wajahmu. Entah apa sebabnya.
“Kamu
kenapa Dinda? Kamu nerves ya menghadapi UAN?” tanyaku penuh selidik, karna memang
sebentar lagi Ujian Akhir Nasional akan menyapamu. Kau hanya menggeleng. Aku
melihat butiran bening mengalir dari bola matamu. Kamu menangis. Sungguh tidak
pernah aku melihat ini sebelumnya.
“Bang,
aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Paman tidak menyetujuinya.” Katamu
dengan wajah yang sedih. Aku benar-benar kaget. Selama satu tahun ini, kita
menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Nyaris tak ada yang tau selain Aku,
Kamu dan Iwel dan Allah tentunya.
“Paman
tidak suka dengan hubungan kita. Dia tidak menyukai seragammu. Aku tak mampu membantahnya
bang.” Ujarmu lagi membuatku semakin kaget.
Aku sangat paham masalahnya. Memang
dalam adat kita Paman berperan sangat penting mengatur hidup keponakannya. Dan
keputusannya mutlak, tak boleh di ganggu lagi. Tapi aku yakin dia tidak tau
betapa aku bersungguh-sungguh ingin menjaga dan membahagiakan mu, Ani. Mungkin
hanya butuh waktu untuk ku meyakinkan Pamanmu, pikir ku lagi.
“Abang akan menjumpai pamanmu. Kita
bisa selesaikan.” Jawabku menenangkan. Tak ada yang salah kan dengan hubungan
kita. Kita harus bisa meyakinkan Paman.“ Jawabku meyakinkan mu.
“ Tak ada yang bisa membantah perintah
paman, Bang. Kita harus mengalah.” Ujarmu lagi. Aku yakin pasti sesuatu yang
hebat telah terjadi padamu. Seberapa besarkah kemarahan pamanmu hingga kamu
seperti ini?
Bagaikan riak danau Singkarak kala
itu, membayangkan keputusanmu. Aku tak pernah menyangka, itu pertemuan terakhir
kita. Berbagai cara kucoba mencari informasi tentang dirimu. Namun aku gagal.
Kamu hilang bagai ditelan bumi. Iwel pun tak pernah angkat bicara tentang
dirimu. Dia seakan ikut menjauhiku. Andai kau tau, aku benar-benar gulita
tanpamu. Cepatlah kembali padaku.
Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya
aku menemukan dirimu dijejaring sosial, sungguh aku kaget melihat dirimu yang
selama ini kucari. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku kembali menghubungimu.
Ternyata kau masih seperti yang dulu. Perhatian, dan keceriaanmu itu membuatku kembali
kemasa lalu kita. Rindu yang bertahun-tahun ku pendam, sungguh sangat menyiksa,
An.
Aku semakin bahagia setelah tau kau
masih sendiri. Ternyata kau masih menungguku, Ani. Aku bangga padamu.
Bertahun-tahun aku meyakinkan keluargamu untuk menerima aku. Dan kau berjuang demi
cinta kita, Meluluhkan hati Pamanmu secara perlahan-lahan.
“
kalau Abang mau kerumah, datang saja.” Katamu menawarkan ketika aku menelpon
suatu sore.
“Eh
iya, Ani sudah dulu ya. Abang sedang piket jaga. Kapan-kapan abang telpon
lagi.” Lalu telpon kumatikan.
“Abang
bukan yang dulu lagi, An. Abang tak setia menunggumu kembali. Abang tak mampu sepertimu,
batinku. Terasa ngilu diulu hati. Tak mampu aku menahan airmata yang mengalir.
“Ayah!
Ayok pulang. Any sudah siap mandinya. Besok-besok kita kedanau lagi ya. Kalau
Ayah libur.” Suara itu mengagetkanku dari lamunan masa lalu kita di bawah pohon
tanjung dan tepian danau ini.
Seorang anak umur 2 tahun berdiri
tidak jauh dariku bersama perempuan. Kau tau, An. Dia anak dan istriku. Sengaja
kuberi nama yang sama denganmu. Karena dia sama sepertimu. Riang, lincah, dan
cinta pada tepian danau ini. Maaf kan aku An.
TAMAT
Dimuat
di Haluan Kepri pada Minggu, 19 Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar