Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Minggu, 26 Februari 2012

KUMPULAN PUISI GUSMARNI ZULKIFLI


ROMANSA JEMBATAN SITINURBAYA

Ku mamah kenangan yang hadir tentangmu
Padang
Susah payah aku menelannya
Keping-keping rindu
Berserakan di sepanjang  jembatan Sitinurbaya
Menyiksa dengan sangsai cinta yang tak sudah
Kenangan
Kembali kumamah kau dalam duka
Lembayung senja  seakan menertawakanku
Sebab di sini tanpamu
Riak tepi Batang Muara di bawah sana
Bertanya-tanya
Tentang janji  yang kita ukir sekokoh Gunung Padang
tentang rindu yang kerap kita tuai di jembatan ini
tentang sejuta cita cinta kita dan,
tentangmu cinta,
aku tak mampu menjawabnya,
hanya pilu cinta yang tak sudah
yang kau sisakan untuk ku
dan jembatan Sitinurbaya








NYANYIAN RINDU UNTUK MAK 2

Mak
tak dapat ku kayuh biduk rindu
pulang ke pelukan mu
tahun ini
tersebab badai tengah merajai laut
kehidupan ku
mak
meskipun tak dapat
ku rebahkan penat
menunggu waktu itu datang
aku tetap tegar
aku bukan lah gadis kecil
yang akan menangisi nasib
itu bukan aku
mak
tahan lah air mata itu
aku juga melakukan hal serupa
bersabarlah
kelak waktu juga penat
menyanggah timbunan rindu kita
hingga aku kembali meringkuk
di peluk hangat mu.

                                      Tanjungpinang, 29 Januari 2011



TERBUAI JANJI BULAN

Malam membuatku terlelap
dalam pelukan bulan
awan menyelimuti dingin yang mengigit tulang
angin menahan hatiku agar
tak jatuh bertepai di bumi
indahnya janji
membuatku betah merajut mimpi
namun kenyataan
membuatku terjaga
aku wanita
yang terbuai janji bulan
memamah malam bersamanya
tapi mendung mendendam
memekatkan warna malam
bulan berlayar menjauh
hingga aku terkulai
di tepi telaga duka
sangsai menahan pedih luka
harapku berkecai pada malam
aku wanita
yang terbuai janji bulan
menunggu langit berganti helai
dengan hiasan bulan pada tubuhnya
apakah ada?
atau hanya janji
yang tak kan pernah nyata


                                                Tanjungpinang, 11 Januari 2011

HARAPAN BANGSA

Dalam ruang kelas tua
aku memilin harap pada kalian
yang duduk di bangku kayu lusuh
bermacam-macam tingkah
kalian malas memamah ilmu
terkadang membuatku ngilu

apa salah hari
yang menggiling waktu berlalu
tak dapatkah kau  petik buah dari luka bangsa?

nak
kitalah bangsa yang menduka
berpuluh-puluh tahun hidup sengsara
bila kita kan mampu bangkit
jika muda belia negri
enggan menebus mimpi
 nak
tak kah kalian iba pada nasib bangsa?
yang pejabatnya korupsi
anggota dewan mati hati
petingginya sibuk memperkaya diri
sedangkan rakyat kecil
gamang meniti hari
sulit mencari sesuap nasi
 nak
kalianlah tunas bangsa
yang membangun masa depan
siramilah hati dengan ilmu
agar  bisa maju
penuhi lumbung jiwa dengan kejujuran
agar terkubur segala kebohongan
kibarkan bendera  keadilan
agar hilang kemunafikan
bangkitkan semangat untuk maju
agar kita tak tertinggal jauh
bangkitkan negri dengan prestasi
bukan dengan korupsi
 nak
bergiatlah
nasib bangsa
kalian penentunya

                                      Tanjungpinang, 31 Desember 2010


                                                   












LAUT TAK BERTIMBANG RASA
Ku gadai biduk pada ombak
Karna laut tak bertimbang rasa
Kalaupun mujur
Biar angin meniup ke tepi
Tak kira masih hidup atau mati
Tak kan ku lawan gelombang
Sebab penat menyerang
Tak kan ku tanam keluh
Biarlah
Ku kecup luka demi luka
Hingga bersarang jemu di jiwa
Tanda menyerah kalah

Tanjungpinang, 26 Maret 2011








KENAPA ADA RINDU

Kenapa ada rindu?
Hatiku masih tak percaya
Gerangan inikah cinta?
Bumi tampunglah ngilu tak percaya ini
Dalam perutmu yang paling dalam
Peramlah bersama resah
Jangan biarkan ia berpendar di bumi
Kenapa ada rindu?
Mengintai di keheningan
Menyentuh kala diam
Hingga berderai kata
di pembaringan mimpi
Aku bertanya dengan sesak ini
Siapa yang nenaburnya
Rindu, rindu dan rindu
Berapa ribu  kata rindu
Yang hanya ku kulum dalam dada
Biar tak timbul padah
Karena cinta tak pernah salah

                                                          Tanjungpinang 10 Desember 2011






PESAN DARI KAMPUNG
hari mendendang riuh 
entah murai yang salah kabar
atau memang angin salah senandung
di bibir jendela aku terhenyak
bukan igauan
ini kenyataan 
pesan mak dari kampung
 .: nak
t
lah datang cerana dengan sirihnya
hantaran bujang
menyulam pinta
 .:nak
rumah gadang pinta hiasan
biar tak sepi berkepanjangan
konon pula ada pinangan

mak 
sungguh aku takut durhaka
menolak pinta
biarlah cerana dan sirihnya
mencari pinang lain
karna bagiku belum waktunya


Tanjungpinang 05 Maret 2011





ABAK DAN SAWAH

"Sawah ini tempat kita menggantung nasip nak",
katamu sambil mengayunkan cangkul kala itu
mulai dari kekar hingga ringkik badan tuamu
di kungkung waktu
tak pernah sawah mendurhaka
terbungkuk-bungkuk
tertatih-tatih
kau ayun cangkul ke tanah
bagai pecut sang perkasa
menuai harap
nasib yang mengangkangi hidup
tak pernah kau keluhkan
"hidup hadiah Tuhan nak,biar miskin harta tapi kaya hati"
katamu di sela semput
yang bergayut pada nafas
wajah mu tenang tanpa beban
Abak
air mataku meleleh
ngilu menyayat hati
ku kerat rumput di pematang
mencoba membuang galau
aku risau dengan nasib
kau menenangkan
aku ragu dengan pilihan Tuhan
kau meyakinkan
"Tuhan tak pernah salah nak,"
hiburmu membuatku semangat menjamah hari
aku iba denganmu abak,
setua ini umurmu
belum mampu ku pensiunkan dari sawah
aku tau kau lelah
aku belum berdaya bak,
miskin mengikat kuat di langkah
hingga sawah wajib di olah
masih jauh perhentian itu bak,
"biar waktu membawa bahagia nak,
sawah ini telah menempa hidup kita dari lama"
pesan mu kala itu
kau  lelaki hebat abak
mampu menari bersama badai kehidupan
tabah itu setia di hatimu
dan sawah ini
menguapkan ketabahan

                             Tanjungpinang, 27 Desember 2010













RINTIH CAMAR KEPADA TUHAN 

Rintih camar pada awan
galau nian agaknya senja
lembayung memerah
bagai anak dara tersepit duka
bahana bumi mengukir janji
gamang ia menebusnya
 Rintihnya lagi kepada hujan
ntah apa ingin tuan...
hari semakin meregang nadi
jembatan ingin terbingkai sudah
ia tak mampu mengusir luka
 kepada angin ia berpesan
bawa arah hingga neraka
tak pernah janjai dapat tertuai
malah terlerai kepingan dosa
 ntah untuk apa tuan,
tak ada hidup hati itu
hanya hitam
menyeliuti galau
Rintih camar kepada TUHAN

                                      Tanjungpinang, 22 Oktober 2010





 MUARO

Muaro,
Ku pungut remah-remah mimpi yang berserakan
Di tepi pantai Muaro
Meski jenuh menunggu waktu berlalu
Aku tetaplah penunggu yang setia pada janji
Muaro,
Aromamu tak pernah berubah
Masih saja ku hidu pekat rindu
Yang menebar di pori-pori laut
Dan aku betah bersamamu
Meski tahun kembali berganti
Tepi pantai ini memancang setiaku
Menunggu cinta.
                             Tanjungpinang, 22 Agustus 2011











PERPISAHAN
                              
Ngilu menghimpit ulu hatiku Tuan,
Saat kata perpisahan
Berbaur dengan dinginnya malam
Meluap perigi mataku, tak tertahan
Aku belum sempat menyiapkan
Tameng untuk ini kepedihan
Akhirnya kumamah jua perlahan
Saat ini aku bagai pungguk
Termangu di tepi pusaran rindu 
Kau tinggalkan jejak cinta
Di bawah timbunan canda
Kini kesepianlah teman abadiku
Tuan,
Gerimis di wajahku ini
Biarlah menjadi pembasuh sedih
Tersebab fikir dan kataku tak lagi jernih
Nanar berbaur kabut sepi
Dan aku menangisi ini
Perihal kehadiranmu
Sungguh di luar kuasaku
Andai ku tahu sesingkat itu
Tentulah kan ku rengkuh waktu
Biar tak cepat berlalu
Dan kita masih bersama dibawah dahan rindu
Tuan,
Peramlah kenangan ini
Di serambi hatimu
Sedangkan aku,
Akan menyiangi asa
Di anjung mimpi
Biar tak lena di hantam sedih
Tuan,
Mungkin aku yang terlalu perasa
Karna bagi ku kau sangat berharga
                                                Tanjungpinang, 12 Desember 2011

















NIRMALA

Kau lecut cemburu di hatiku
H
ingga lebam menanggung dendam
U
ntuk apa kau tiup wangi kasturi
P
ada cinta yang di bangun dengan
B
ahan setia
Kau kirim cinta berjela-jela
P
ada kumbang yang jelas bertali
M
erisik hati yang berpenghuni
Jangan salahkan waktu
Y
ang membuat mata beradu
H
ingga kau semai benih-benih harap
P
ada lahan yang bertuan
Jangan salahkan cinta
Y
ang katamu buta
H
ingga ia tak mampu melihat
S
iapa yang dia sapa
Jangan salahkan hati
Y
ang terlalu perasa
T
ak mampu menahan timbunan cinta
Salah engkau lah Nirmala
P
erlahan-lahan mencampakan duka
P
ada tali cinta yang berpilin erat
B
erharap mampu mengikat dia
D
engan pilinan lain
Salah engkaulah Nirmala
M
enjuntaikan cemburu
P
ada tiang setia ku
 Kau tahu Nirmala?
A
ngin puyuh sekali pun
T
ak kan sanggup menghancurkan
T
embok cinta yang berukir setia
Karna hatinya sudah ku tempa dengan cinta.

Tanjungpinang, 17 Jan 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


CERITA PADA PAGI
Pagi,
izinkan aku bicara cinta
yang saban malam berjuntai
di tepi pembaringan mimpi
ladang jiwa resah,
di sapu angin rindu

wahai pagi,
biarkan ku paparkan kepadamu
galau rasa menekuk langkah
biarlah,
biar kau seru kesekalian alam,
aku tengah di hantam cinta
kendati terkadang resah,
terkadang suka
kan ku kecap makna cinta
di tiap tarik ulur nafas
aku sangat menikmatinya

wahai pagi,
jujur ku kepada mu,
tuan itu telah menjarah hatiku
di rampas dan di bawahnya hingga jauh
hingga bersemilah kuncup-kuncup rindu
memenuhi laman harapan
namun entah kapan dia kan mampu memetiknya.

Tanjungpinang 31 oktober 2011


















CERITA PADA PAGI 2
Pagi,
Kaukah itu
          Mengintip malu di luar jendela
                   Belum puas rasanya bercumbu dengan mimpi
                             Kau telah datang kembali
Pagi,
Ini kali
Aku terlena
          Tuan itu,
          Menjamah mimpiku
                   Tadi malam
          Dibuainya aku
Dengan syair merindu
          Merdu mendayu dayu
Bagai buluh perindu
          Akupun hanyut dalam syahdu

                                                Biar
                                                          Kunikmati sekar
                                                                   Rindu yang mekar
                                                                             Membakar ruang nalar

Wahai pagi,
          Biarlah,
                   Gerhana malam tadi
Menjadi saksi pertemuan kami
          Di alam mimpi

                                                          Tanjungpinang, 11 Desember 2011



KELAM

Berlayar di ujung hari
tiada apa yang aku raih
aku tak butuh suluh
padam kan saja dengan nafasmu

buat apa terang
aku tak butuh cahaya
pergi lah bintang kejora
berlayar lah bulan
tutuplah matahari dengan dustamu

jauhkan aku dari cahaya
terang hanya akan menampakan
borokmu pada ku
biar semua gelap
biar semua kelam

tipulah aku semau mu

                                                Tanjungpinang, 19 Desember 2010

 

LENTERA UNGU


Kau datang dengan lentera ungu
di antara remah hujan berserakan
dekaplah piluku dengan tangan hangatmu
ku buang suluh
untuk meraihmu
berharap lentera memendarkan bahagia
walau kau tak tau
penat jiwa mendera
kau tarik ulur cahaya lenteramu
sedang kakiku lula beralas onak
lentera kau jauhkan
malah kau lemparkan ranjau ke jalan ini
lebih rumit dari sebenar rumit
agaknya pecah hati perutmu
tak dapat lagi rasa sakit ini
hancurkan angan
terang itu kau bawa lalu
lentera ungu
kau rendam anganku dengan minyak tanah
kau bakar hingga membara
namun air mata nanahku
tak mampu memadamkannya
tangis tak terhitung lagi
kering sudah perigi di mataku
tak hiba kah engkau
kering hati di salai angkuhmu
renyai badan sendiri senyawa
tak kasihan kah engkau
terlalu banyak hina ku telan
bawa jauh lenteramu
tinggalkan aku berkubang luka
mungkin tuhan sksn menggantinya
dengan seribu kunang-kunang
atau membiarkan aku
memamah duka

                                                Tanjungpinang, 18 Desember 2010




PERCAKAPAN WAKTU

Dinda,
aku pulang
pandanglah kubawakan setengah dunia kepadamu
bersiaplah kita akan erami bahagia ini
pada sisa usia
Dinda,
kau tau bagiku semua serba mudah
andai dunia ini kau pinta,
maka akan ku bingkai dalam pelukmu
Sih, zaman telah berubah,
hati bukan lagi penentuh arah.
          Dinda,
          nanar ku pada kepulanganmu kali ini
          bengkalai pengajaran ku
          membentur kokohnya ankuh
          kau bukan lagi anakku yang dulu
          Bukan,
          Bukan seroja yang ku semai
          dalam dada mu yang permai
          Bukan.
          Bukan kenanga yang wangi
          menyerbak baik budi
          Bukan kemboja yang cerah
          merekah menjaga marwah
          Nak,
          Kenali jiwa mu
          Dimana Alif yang kau eja dari mulutku?
          sebagai penjaga laku,
          Dimana Ba yang kau hela dalam jiwa
          sebagai bala penggawa
          Dimana nurani mu nak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar