Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 25 Februari 2012


SORBAN PUTIH UNTUK ABAK
          Kabut masih saja bergantung diketiak bukit belakang rumah ku. Udara dingin perbukitan terasa menusuk tulang. Sehingga membuat penghuni kampung masih bermalas-malasan bersama secangkir kopi hitam. Namun itu tidak berlaku bagi orang tua ini.
          Di pagi yang masih diselimuti kabut, dia telah bergerak menyusuri pematang sawah dengan sebuah cangkul kesayangan dibahunya. Dialah abakku.
          Kerap kali mataku berair melihat kerja keras abak untuk menghidupi keluarga. Terutama untuk membayai berobatku. Aku sering miris mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Tuhan benar-benar tengah menguji kesabaran abak khususnya dan kami keluarga umumnya.

***

          Dulu aku seorang pencuci piring disebuah Rumah makan Padang. Sebenarnya semangat kerja keras dari abak telah mengalir ditubuh anak-anaknya. Begitu juga adikku Aulia. Dia tak kalah rajinnya dibanding aku dan abak. Berkat kerajinannya itulah dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kedokteran UNAND. Aku dan abak sangat bangga padanya.
          Sudah seminggu ini aku heran melihat Aulia. Dia selalu bejalan kaki setiap pulang kuliah. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Sebagai pencuci piring, gajiku memang tak cukup untuk membiayai ongkosnya setiap hari. Makanya sering diakhir bulan dia berjalan kaki pergi dan pulang kuliah.
          Tapi yang aku herankan ini masih di awal bulan dan uang ongkosnya sudah  keberikan 2 hari yang lalu.
 Mengapa yah, Aulia berjalan kaki?, apakah dia kemalingan? berbagai Tanya bersarang dibenakku.
 “Lia, kenapa akhir-akhir ini kamu sering jalan kaki ke kampus?” tanyaku disela-sela menjahit baju ku yang robek.
 “Tak ada Ni. Lia ingin berhemat saja.” Jawab Aulia singkat.
          Aulia memang anak yang sederhana. Tak banyak tingkah. Memang abak telah mendidik kami dengan baik, sehingga lebih bisa menghargai tiap jengkal rahmat yang dibentangkan Tuhan tanpa keluhan.
          Aku melihat airmata nya meleleh di Idul Fitri lalu, melihat abak berdiri dimimbar masjid. Aku bingung kala itu  melihat tingkah Aulia.
 “ Kamu kenapa Aulia?” tanyaku heran.
 “ Aku kasihan melihat abak Ni. Sudah enam kali lebaran, beliau selalu memakai baju koko, sarung, dan sorban yang sama.” Ujarnya sambil menyapu airmata di pipi.
Aku tertegun . sejauh itukah perasaan Lia bermain?. Hal yang remeh-temeh itu pun mampu menguras telaga mata nya. Aulia memang perasa.
          Mataku tertuju pada laki-laki tua yang berdiri di atas mimbar mesjid. Wajahnya terlihat bercahaya, namun sayang pakaian yang dikenakannya kelihatan lusuh. Rasanya memang tidak pantas dikenakan saat lebaran begini. Tapi itulah abak, beliau memang ayah yang sejati. Beliau lebih memilih menabung uang untuk biaya praktek Aulia, ketimbang membelanjakannya untuk membeli baju baru barang selembar. Baginya keberhasilan Auliah adalah segalanya.

***
           Matahari sudah tinggi. Kabut-kabut itu telah berlalu ketika aku terbangun dari lamunan panjangku tentang Aulia, adik ku satu-satunya. Aku menarik tubuh ku kearah makanan yang telah disiapkan abak sebelum pergi ke sawah pagi tadi.
          Beginilah keadaanku sekarang. Aku merasa semakin lama, aku semakin menyusahkan abak saja. Keberadaan ku dirumah ini tak bisa meringankan beban abak. Tapi malah sebaliknya. Airmata ku berderai ditepi piring makan pagi ku. Aku yakin abak penat mengurusku. Meski tak pernah kata-kata keluar dari mulutnya.
 “ Syukuri apa yang diberikan Tuhan nak. Tuhan tidak pernah menguji umatnya melebihi kesanggupan umatnya.” Kata abak suatu hari disela-sela tangannya mengayunkan kapak untuk membelah kayu bakar.
          Dengan wajah lelah dan nafas tersengal abak tetap bekerja. Tidak hanya pekerjaan lelaki, abak juga menyiapkan pekerjaan perempuan, seperti memasak dan lain-lain. Dan aku hanya melihat dari dipan bambu diruang tengah ini. Memang semenjak bencana besar menimpa Padang 30 September 2009 lalu, banyak yang telah berubah dengan hidup kami.
          Tiba-tiba mata ku tertuju pada gambar diatas buffet, sebuah gambar usang yang didalamnya ada abak, mak, aku, dan Aulia. Gambar itu diambil ketika aku masih duduk dibangku SD, dan sebelum amak kembali kepangkuan pencipta. Gambar itu kembali mengingatkanku pada Aulia.

          Sore itu Aulia mengajakku ke salah satu Plaza di kota Padang. Kami berjalan kaki berdua penuh semangat  karena Aulia berazam ingin membelikan sorban baru untuk abak.
 “ Kapan lagi abak dapat memakai pakaian dari Mall mewah ini.” Kata Aulia penuh semangat. Aku masih bingung, dia dapat uang dari mana. Namun akhirnya Aulia menjelaskan kalau dia telah menabung tiap hari dari onkosnya. Ternyata itulah tujuan Aulia, sehingga dia selalu berjalan kaki pergi dan pulang kuliah setiap hari.
          Setelah kurang lebih setengah jam berjalan dari satu toko ke toko mencari sorban baru untuk abak, akhirnya pilihan Aulia jatuh pada sebuah sorban putih yang indah. Harganya pun lumayan mahal untuk orang seperti kami.
 “  tak apa-apalah, sekali-sekali” kata Aulia padaku. Aku hanya tersenyum.
 “ aku ingin di Idul Adha nanti, abak memakai sorban baru. Abak pasti kelihatan gagah” kata Aulia lagi. Lalu kami sama-sama tersenyum.

                                                                   ***
 “ Gempa! Lari, ada gempa!” teriak orang-orang didalam Mall mewah ini. Dunia terasa bergoncang hebat. Tangan ku terlepas dari Aulia. Kami berlari diantara ratusan orang yang bingung dan panik.
          Ranah minang di guncang gempa. Ribuan masyarakat berlari dikejar maut. Tanpa tau harus kemana. Aku tidak tau Aulia dimana. Hingga sebuah motor didepan Mall Andalas melindasku. Dunia menghitam. Aku tak tau apa-apa.
          Lima hari setelah gempa besar 30 September 2009, aku diantar sukarelawan kekampung kecilku dipelosok Sumatra Barat. Aku melihat abak yang waktu itu kelihatan cemas sekali. Beliau tak dapat menyembunyikan airmatanya melihatku pulang  tanpa sepasang kaki. Ya, kaki ku diamputasi karena kecelakaan saat gempa itu.
 “ Mana Aulia?” Tanya abak padaku.
           Aku tidak bisa menjawabnya, airmataku meleleh tanpa berhenti. Mata abak tertuju pada keranda yang di turunkan relawan.Ya, jenazah Aulia yang baru di temukan kemaren.Kulihat abak menitikan air matanya.Pertama kali dalam hidupku melihat abak berurai airmata.
          Mayat Aulia nyaris tak di kenali. Wajahnya remuk di timpa reruntuhan bangunan Mall yang naas itu. Namun aku dapat mengenalinya. Karna sorban putih yang di dekapnya, sorban putih yang di belikannya dari uang ongkos kuliah yang di tabungnya, sorban yang di harapkan menemani abak naik mimbar di Idil Adha nanti.
          Sorban putih itu sudah tak putih lagi, namun penuh bercak darah Aulia. Begitu inginnya dia menjaga sorban itu, sampai tak terlepas dari dekapannya.
 “ kenapa belum makan Mir? Tanya abak mengagetkanku dari lamunan tentang Aulia dan sorban putih untuk abak. Aku menyapu airmata.
 “ Lauknya keasinan lagi?" Tanya abak lagi tanpa sempat aku menjawab pertanyaan pertamanya.
 “ Taklah bak” jawab ku seadanya.
          Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Abak bersiap-siap untuk shalat Jum’at. Aku baru sadar, ternyata ini hari Jum’at. Pantaslah abak cepat pulang dari sawah. Aku menatap punggung tua abak yang berjalan kearah sumur. Semoga Allah selalu melindungi mu, bak, lirih ku perlahan. Dentingan jam tua, didinding rumah mengiringi harapan ku, untuk abak.

                                                          TAMAT
 NB : Diterbitkan di MAJALAH SAGANG Pekanbaru Edisi 154










Tidak ada komentar:

Posting Komentar