SORBAN
PUTIH UNTUK ABAK
Kabut
masih saja bergantung diketiak bukit belakang rumah ku. Udara dingin perbukitan
terasa menusuk tulang. Sehingga membuat penghuni kampung masih bermalas-malasan
bersama secangkir kopi hitam. Namun itu tidak berlaku bagi orang tua ini.
Di
pagi yang masih diselimuti kabut, dia telah bergerak menyusuri pematang sawah
dengan sebuah cangkul kesayangan dibahunya. Dialah abakku.
Kerap
kali mataku berair melihat kerja keras abak untuk menghidupi keluarga. Terutama
untuk membayai berobatku. Aku sering miris mengingat kejadian dua tahun yang
lalu. Tuhan benar-benar tengah menguji kesabaran abak khususnya dan kami keluarga
umumnya.
***
Dulu
aku seorang pencuci piring disebuah Rumah makan Padang. Sebenarnya semangat
kerja keras dari abak telah mengalir ditubuh anak-anaknya. Begitu juga adikku
Aulia. Dia tak kalah rajinnya dibanding aku dan abak. Berkat kerajinannya
itulah dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kedokteran UNAND. Aku dan abak
sangat bangga padanya.
Sudah
seminggu ini aku heran melihat Aulia. Dia selalu bejalan kaki setiap pulang
kuliah. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Sebagai pencuci piring, gajiku
memang tak cukup untuk membiayai ongkosnya setiap hari. Makanya sering diakhir
bulan dia berjalan kaki pergi dan pulang kuliah.
Tapi
yang aku herankan ini masih di awal bulan dan uang ongkosnya sudah
keberikan 2 hari yang lalu.
Mengapa
yah, Aulia berjalan kaki?, apakah dia kemalingan?
berbagai Tanya bersarang dibenakku.
“Lia, kenapa akhir-akhir ini kamu
sering jalan kaki ke kampus?” tanyaku disela-sela menjahit baju ku yang robek.
“Tak ada Ni. Lia ingin berhemat saja.” Jawab Aulia singkat.
Aulia
memang anak yang sederhana. Tak banyak tingkah. Memang abak telah mendidik kami dengan baik, sehingga lebih bisa menghargai
tiap jengkal rahmat yang dibentangkan Tuhan tanpa keluhan.
Aku
melihat airmata nya meleleh di Idul Fitri lalu, melihat abak berdiri dimimbar
masjid. Aku bingung kala itu melihat tingkah Aulia.
“ Kamu kenapa Aulia?” tanyaku
heran.
“ Aku kasihan melihat abak Ni. Sudah enam kali lebaran, beliau
selalu memakai baju koko, sarung, dan sorban yang sama.” Ujarnya sambil menyapu
airmata di pipi.
Aku tertegun . sejauh itukah perasaan
Lia bermain?. Hal yang remeh-temeh itu pun mampu menguras telaga mata nya.
Aulia memang perasa.
Mataku
tertuju pada laki-laki tua yang berdiri di atas mimbar mesjid. Wajahnya
terlihat bercahaya, namun sayang pakaian yang dikenakannya kelihatan lusuh.
Rasanya memang tidak pantas dikenakan saat lebaran begini. Tapi itulah abak,
beliau memang ayah yang sejati. Beliau lebih memilih menabung uang untuk biaya
praktek Aulia, ketimbang membelanjakannya untuk membeli baju baru barang
selembar. Baginya keberhasilan Auliah adalah segalanya.
***
Matahari
sudah tinggi. Kabut-kabut itu telah berlalu ketika aku terbangun dari lamunan
panjangku tentang Aulia, adik ku satu-satunya. Aku menarik tubuh ku kearah
makanan yang telah disiapkan abak
sebelum pergi ke sawah pagi tadi.
Beginilah
keadaanku sekarang. Aku merasa semakin lama, aku semakin menyusahkan abak saja. Keberadaan ku dirumah ini tak
bisa meringankan beban abak. Tapi
malah sebaliknya. Airmata ku berderai ditepi piring makan pagi ku. Aku yakin
abak penat mengurusku. Meski tak pernah kata-kata keluar dari mulutnya.
“ Syukuri apa yang diberikan
Tuhan nak. Tuhan tidak pernah menguji umatnya melebihi kesanggupan umatnya.”
Kata abak suatu hari disela-sela tangannya mengayunkan kapak untuk membelah
kayu bakar.
Dengan
wajah lelah dan nafas tersengal abak
tetap bekerja. Tidak hanya pekerjaan lelaki, abak juga menyiapkan pekerjaan perempuan, seperti memasak dan
lain-lain. Dan aku hanya melihat dari dipan bambu diruang tengah ini. Memang
semenjak bencana besar menimpa Padang 30 September 2009 lalu, banyak yang telah
berubah dengan hidup kami.
Tiba-tiba
mata ku tertuju pada gambar diatas buffet, sebuah gambar usang yang didalamnya
ada abak, mak, aku, dan Aulia. Gambar itu diambil ketika aku masih duduk
dibangku SD, dan sebelum amak kembali
kepangkuan pencipta. Gambar itu kembali mengingatkanku pada Aulia.
Sore
itu Aulia mengajakku ke salah satu Plaza di kota Padang. Kami berjalan kaki
berdua penuh semangat karena Aulia berazam ingin membelikan sorban baru
untuk abak.
“ Kapan lagi abak dapat memakai
pakaian dari Mall mewah ini.” Kata Aulia
penuh semangat. Aku masih bingung, dia dapat uang dari mana. Namun akhirnya
Aulia menjelaskan kalau dia telah menabung tiap hari dari onkosnya. Ternyata
itulah tujuan Aulia, sehingga dia selalu berjalan kaki pergi dan pulang kuliah setiap
hari.
Setelah
kurang lebih setengah jam berjalan dari satu toko ke toko mencari sorban baru
untuk abak, akhirnya pilihan Aulia
jatuh pada sebuah sorban putih yang indah. Harganya pun lumayan mahal untuk
orang seperti kami.
“ tak apa-apalah,
sekali-sekali” kata Aulia padaku. Aku hanya tersenyum.
“ aku ingin di Idul Adha nanti, abak memakai sorban baru. Abak pasti kelihatan gagah” kata Aulia
lagi. Lalu kami sama-sama tersenyum.
***
“ Gempa! Lari, ada gempa!” teriak
orang-orang didalam Mall mewah ini. Dunia
terasa bergoncang hebat. Tangan ku terlepas dari Aulia. Kami berlari diantara
ratusan orang yang bingung dan panik.
Ranah
minang di guncang gempa. Ribuan masyarakat berlari dikejar maut. Tanpa tau harus
kemana. Aku tidak tau Aulia dimana. Hingga sebuah motor didepan Mall Andalas melindasku. Dunia
menghitam. Aku tak tau apa-apa.
Lima
hari setelah gempa besar 30 September 2009, aku diantar sukarelawan kekampung
kecilku dipelosok Sumatra Barat. Aku melihat abak yang waktu itu kelihatan
cemas sekali. Beliau tak dapat menyembunyikan airmatanya melihatku pulang
tanpa sepasang kaki. Ya, kaki ku diamputasi karena kecelakaan saat gempa
itu.
“ Mana Aulia?” Tanya abak padaku.
Aku
tidak bisa menjawabnya, airmataku meleleh tanpa berhenti. Mata abak tertuju
pada keranda yang di turunkan relawan.Ya, jenazah Aulia yang baru di temukan
kemaren.Kulihat abak menitikan air matanya.Pertama kali dalam hidupku melihat
abak berurai airmata.
Mayat
Aulia nyaris tak di kenali. Wajahnya remuk di timpa reruntuhan bangunan Mall yang naas itu. Namun aku dapat
mengenalinya. Karna sorban putih yang di dekapnya, sorban putih yang di
belikannya dari uang ongkos kuliah yang di tabungnya, sorban yang di harapkan
menemani abak naik mimbar di Idil
Adha nanti.
Sorban
putih itu sudah tak putih lagi, namun penuh bercak darah Aulia. Begitu inginnya
dia menjaga sorban itu, sampai tak terlepas dari dekapannya.
“ kenapa belum makan Mir? Tanya abak mengagetkanku dari lamunan tentang
Aulia dan sorban putih untuk abak.
Aku menyapu airmata.
“ Lauknya keasinan lagi?" Tanya
abak lagi tanpa sempat aku menjawab
pertanyaan pertamanya.
“ Taklah bak” jawab ku seadanya.
Jam
menunjukkan pukul 11.00 WIB. Abak
bersiap-siap untuk shalat Jum’at. Aku baru sadar, ternyata ini hari Jum’at.
Pantaslah abak cepat pulang dari
sawah. Aku menatap punggung tua abak yang berjalan kearah sumur. Semoga Allah
selalu melindungi mu, bak, lirih ku
perlahan. Dentingan jam tua, didinding rumah mengiringi harapan ku, untuk abak.
TAMAT
NB : Diterbitkan di MAJALAH
SAGANG Pekanbaru Edisi 154

Tidak ada komentar:
Posting Komentar