SUNTIANG KUNING
EMAS
Tak ada yang membuatku takut kecuali murka Allah. Tahukah engkau, setiap detak
jantungmu Dialah yang mengendalikannya.
Jangan katakan bahwa hanya kita yang tahu hal ini. Sesungguhnya Dia maha
mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, tak terkecuali yang terbesit di
hati kita.
“Dek, tak ada yang
perlu ditakutkan. Toh nanti kita juga
melakukannya. Hanya seminggu lagi dek,
kita akan sah menjadi suami istri. Kamu tahu kan, abang sangat mencintaimu? “
bujuk mu suatu sore.
Rasanya sudah lama aku mengenalmu. Kenapa kau berubah?
Bukankah kau yang mengajarkan ku menjaga marwah dan nama baik keluarga? Aku
tahu pernikahan kita tinggal hitungan hari. Tapi alangkah baiknya jika kita
tunggu saja hari yang bahagia itu datang. Bukan kah lebih indah nantinya?
Karena kita tidak melanggar aturan agama.
Sore itu sangat indah, langit yang cerah memayungi bumi. Deburan
ombak membelai bibir pantai. Percik
airnya sesekali menghantam kaki kita yang telanjang. Bagai sang ratu, aku masih
setia mengiringi langkahmu. Meski hatiku
masih dipenuhi rasa bimbang.
“Dek, bukankah kau
mengenal Abang sudah lebih dari 5 tahun? Apakah ada selama ini cacat cela dari
janji yang Abang ucapkan? Abang selalu menepatinya kan?. Untuk apa kau bimbang dek? Surat-surat kita untuk menikah
sudah sampai di KUA. Hanya tinggal menunggu hari saja Dek, percayalah. Abang akan tetap menikahimu” Bujukmu lagi.
“Atau mungkin kau sudah tidak mencintaiku lagi?” tuduhmu sambil mengenggam jemari tanganku.
Aku belum bisa memberi jawaban. Bahkan untuk membalas
tatapan matamu saja aku tak mampu. Hatiku masih diguncang gamang. Demi Tuhan,
aku sangat mencintaimu Bang, kau orang pertama yang aku cintai, sampai hari
ini. Tak pernah sedikitpun berkurang rasa itu di hatiku. Tapi untuk permintaan
mu yang konyol ini aku tak sanggup Bang, dan tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Sebenarnya aku tak tega melihatmu memelas seperti ini.
Aku masih hafal rayuan-rayuan yang kau tembakkan di hatiku.
Semakin kuat ku menghindar, semakin bertubi-tubi pula rayuanmu. Sungguh otakku
tak mampu mengambil keputusan apapun. Aku merasa kau telah melanggar batas
normal kerja otakku.
Akhirnya rasa iba mengantarkanku pada pedih yang sengaja kau
pilih untukku. Jujur aku tidak sanggup menyanggah beratnya penyesalan.
Sedangkan kau? Aku tau itu hanya sesal yang pura-pura dari mu. Kebodohan apa
ini Astuti? Di mana akal sehat mu? Tangis sesalku pecah di senja itu. Aku tahu
semua tidak berarti lagi. Nyawaku bagai menetes bersama air mata yang menganak
sungai. Kehancuran mengintaiku di balik tirai kenyataan.
***
Hari belumlah
terlalu petang. Udara panas masih terasa. Meski mentari sudah agak condong
kearah barat. Aku tengah menikmati suasana petang dari jendela kamarku. Ini
hari ke-3 aku menjalani ritual adat " Pingitan", yang biasanya
dijalani oleh calon pengantin. Pingitan berarti calon pengantin tidak
diperbolehkan keluar rumah. Jujur saja aku tidak menyukai ritual ini, hidupku
terasa dikungkung aturan yang memuakkan.
Sementara
itu, diluar kamarku, orang-orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk
pesta yang akan diselenggarakan 3 hari lagi. Lamunanku terusik suara burung
jalak di luar jendela. Pandanganku tertuju ke luar jendela kamar. Seekor burung
Jalak bertengger di dahan pohon durian belanda, tepat di depan jendela kamarku.
Seeeeeeeerrrr,
dadaku berdesir. Apakah ini pertanda buruk? Ah, bergegas ku hapus fikiran itu.
rasanya terlalu naif untuk mempercayai itu. Segala sesuatu itu, baik maupun
buruk datangnya dari Allah. Bukan karna seekor burung Jalak. Ku tarik nafas
perlahan, matahari semakin condong ke
arah barat. Seolah-olah mengeja tempat peristirahatannya. Langit mulai berganti
warna.
"
Astuti, tolong bukakan pintunya, mak nak
taroh ini" Teriak Mak dari luar kamar. Bergegas aku beranjak dari
pinggir jendela. Kulihat Mak mengangkat sebuah kotak besar berwarna coklat. Sementara
di belakangnya Hanifah adik perempuanku, menenteng plastik besar yang berisikan
baju untuk hari persandinganku. sedangkan kotak yang di bawa Mak ternyata berisikan
suntiang lengkap dengan peralatan
serta aksesorisnya. Suntiang merupakan
hiasan kepala pengantin perempuan di kampungku, semacam mahkota yang di rangkai
menggunakan kawat pada sebuah kerangka seng aluminium.
Mak membuka
kotak besar tersebut. Alangkah indahnya hasil karya manusia ini, pikir ku dalam
hati. Suntiang yang bewarna kuning
emas itu berkilau-kilau seakan memamerkan keindahannya. Aku dan Mak terkesima
melihatnya.
" Ini suntiang baru Astuti, kaulah orang
pertama yang memakainya" Ujar mak seraya mengangkat suntiang besar itu dan mematut-matutnya di kepala ku.
Aku hanya tesenyum saja melihat tingkah Mak.
" Hanya
orang yang suci saja yang beruntung mendapat kesempatan pertama menjunjung suntiang indah ini dan kaulah orang yang
beruntung itu Nak, tambah Mak lagi.
Senyumku
sumbang mendengar kata-kata mak. Untung Mak tak melihat perubahan wajahku.
Beliau tengah asyik menyimpan kembali suntiang
ke kotaknya.
***
Mak telah meninggalkan
kamarku. Magrib pun sudah beranjak dari kampungku. Azan Isya pun berkumandang.
Setelah menjalankan tugas sebagai hamba, aku pun menuju pembaringan. Ku tatap
lekat langit-langit kamar. Pernikahanku tinggal 3 hari lagi. Waktu terasa
lamban berputar. Apalagi dengan kondisiku dibawah tekanan penyesalan dan
ketakutan setelah kejadian sore naas itu.
Ingatan ku
kembali kemasa 5 tahun yang lalu. Saat itu aku masih mengenakan seragam putih
abu-abu., ketika aku mengenalmu, Bang Heri. Tak gampang bagiku untuk menerima
mu sebagai kekasih. Namun kau bukanlah laki-laki yang mengalah pada waktu.
Hingga akhirnya kau memancang pondasi cinta di hatiku. Semua terasa indah. Aku
tau kau laki-laki yang baik dan setia. Hingga hubungan kitapun bertahan sampai aku
selesai kuliah dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kau laki-laki terbaik
yang pernah ku kenal. Hingga senja naas itu tiba. Kau telah mempersiapkan
rencana gila itu, dan aku telah
memelihara kebodohanku sehingga tak kuasa menolak keinginanmu. Hingga kita
mengukir dosa bersama.
Perkataan Mak
senja tadi membuat hatiku ngilu. tak terasa air mata meleleh membasahi bantal.
Andai saja Mak tau yang sebenarnya, bahwa anak gadisnya ini tak sebaik yang
difikirkannya. Kalau saja Mak tau kejadian senja itu, Entah apalah yang akan
terjadi. Tangisku semakin deras. Rasa sesak menekan dadaku. Aku sudah tak tahan
lagi berpura-pura menjadi gadis yang baik di depan Mak.
Kupandangi
sekeliling kamar yang telah di penuhi hiasan untuk pernikahan. Di pojok kiri
kamar tertata rapi pakaian yang akan ku kenakan di akad nikah dan hari
persandingan nanti. Andai saja kejadian senja itu tak terjadi. Mungkin inilah
masa-masa paling indah dan mendebarkan bagi seorang calon pengantin. Rasa
dimana kebahagian mendominasi hari-hari menjelang hari "H"
pernikahan.
Namun yang
aku rasakan sekarang malah sebaliknya. Cemas, takut dan penyesalan itu
berkejar-kejaran di hatiku. Dan ini benar-benar menyiksa.
"Ampuni hamba-Mu ini ya Allah". Lirihku dalam
hati. Kubiarkan saja air mata mengering di pipi. Akhirnya kantuk pun menyandra
tubuhku. Sejenak hilang penat fikiran itu.
****
Samar-samar
terdengar suara riuh di luar kamarku. Kulirik jam dinding baru jam empat subuh.
Mungkin orang-orang yang akan menyiapkan hidangan untuk pesta fikirku. Ku coba
memejamkan mata kembali, kepalaku terasa sakit sekali. Mungkin karna menagis
semalam. Belum sempat terlelap, aku mendengar
samar-samar tangis Mak. Sontak aku bangun dari tempat tidur.
" Jangan
diratapi, ini sudah takdir dari Allah. Kalau kau seperti ini bagaimana kita
mengatakannya pada Astuti. Tenangkan fikiranmu, jangan menangis lagi. Nanti
Astuti terbangun pula" terdengar bujukan ayah kepada Mak.
" Kapan
kita kasih tau Astuti Bang? Apa tak sebaiknya kita bangunkan saja dia
sekarang?" Tanya Mak disela-sela tangisnya.
Apa yang
sebenarnya terjadi di luar sana. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu
kamar.
Terdengar
suara Adikku Hanifah bertanya kepada Mak, mungkin dia juga baru terbangun dari
tidurnya.
" Ada
apa mak?" Tanya Hanifah dengan suara parau.
" Bang
Heri kau nak, Dia meninggal jam 3 tadi. Dia terjatuh di kamar mandi, kemudian
pingsan. lalu dibawa ke rumah sakit. Ternyata dia telah meninggal Nak."
Jawab Mak sambil terisak.
Kakiku terasa
lemah, tak sanggup menyanggah berat badanku. Hingga aku terduduk di depan pintu
kamar yang belum sempat ku buka.
Tangis tak
mampu ku keluarkan. Bang Heri, yang dua hari lagi menikahiku kini telah
berpulang. Entah badai apa ini ya Allah. Mengapa Engkau begitu tega ya Allah.
Kenapa tak kau biarkan hambamu yang hina ini merasakan manisnya pernikahan? Mengapa
Engkau berikan hamba cobaan seberat ini ya Allah? Bertubi-tubi aku menyesali
keputusan Tuhan karena menjemput Bang Heri secara mendadak.
Tiba-tiba aku
teringat sesuatu. Kejadian senja itu. Penyerahan diriku secara utuh pada Bang
Heri. Mulutku terngaga menahan pilu. jiwaku terguncang. Apa yang akan aku
hadapi nanti seandainya benih itu tumbuh di rahimku? Aku harus bagaimana?
Mataku
tertuju pada kotak coklat di pojok kamar. Kuraih kotak itu, ku buka perlahan.
Warna emas yang memancar menyilaukan mata. Kuangkat perlahan suntiang yang indah itu. Kali ini
tangisku pecah.
Agaknya suntiang ini memang tidak untuk orang
yang kotor sepertiku. Tangisku semakin menjadi.
Terbayang di
kelopak mataku, pertama kali aku bertemu dengan Bang Heri. Hari orang tuanya
datang meminang, dan kejadian terkutuk di senja itu, kicauan burung Jalak di
dahan pohon durian belanda. Semuanya bagai layar tancap di otakku. Hatiku
semakin perih.
Bertubi-tubi
aku mengutuk nasib dan diriku sendiri. Ku pandangi lekat suntiang yang kilau kemilau itu. Kutarik seulas, dari rangkainya.
Tanpa pikir panjang, aluminium kuning emas itu ku sayat di pergelangan tangan.
Darah bersemburan dari lukaku, membanjiri sunting di pangkuanku. Aku berusaha memangil
malaikat maut untuk menghampiri. Dunia menjadi gelap gulita. Mungkinkah
malaikat maut sudah tiba?
Tanjungpinang
01 Des 2011
TAMAT
Dimuat
di Haluan Kepri Pada Minggu, 8 Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar