Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 25 Februari 2012

Cerpen_SUNTIANG KUNING EMAS


SUNTIANG KUNING EMAS
Tak ada yang membuatku takut kecuali  murka Allah. Tahukah engkau, setiap detak jantungmu Dialah yang mengendalikannya.  Jangan katakan bahwa hanya kita yang tahu hal ini. Sesungguhnya Dia maha mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, tak terkecuali yang terbesit di hati kita.
Dek, tak ada yang perlu ditakutkan. Toh nanti kita juga melakukannya. Hanya seminggu lagi dek, kita akan sah menjadi suami istri. Kamu tahu kan, abang sangat mencintaimu? “ bujuk mu suatu sore.
Rasanya sudah lama aku mengenalmu. Kenapa kau berubah? Bukankah kau yang mengajarkan ku menjaga marwah dan nama baik keluarga? Aku tahu pernikahan kita tinggal hitungan hari. Tapi alangkah baiknya jika kita tunggu saja hari yang bahagia itu datang. Bukan kah lebih indah nantinya? Karena kita tidak melanggar aturan agama.
Sore itu sangat indah, langit yang cerah memayungi bumi.   Deburan ombak membelai  bibir pantai. Percik airnya sesekali menghantam kaki kita yang telanjang. Bagai sang ratu, aku masih setia mengiringi  langkahmu. Meski hatiku masih dipenuhi rasa bimbang.
Dek, bukankah kau mengenal Abang sudah lebih dari 5 tahun? Apakah ada selama ini cacat cela dari janji yang Abang ucapkan? Abang selalu menepatinya kan?.  Untuk apa kau bimbang dek? Surat-surat kita untuk menikah sudah sampai di KUA. Hanya tinggal menunggu hari saja Dek, percayalah. Abang akan tetap menikahimu”  Bujukmu lagi.
“Atau mungkin kau sudah tidak mencintaiku lagi?” tuduhmu  sambil mengenggam jemari tanganku.
Aku belum bisa memberi jawaban. Bahkan untuk membalas tatapan matamu saja aku tak mampu. Hatiku masih diguncang gamang. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu Bang, kau orang pertama yang aku cintai, sampai hari ini. Tak pernah sedikitpun berkurang rasa itu di hatiku. Tapi untuk permintaan mu yang konyol ini aku tak sanggup Bang, dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebenarnya aku tak tega melihatmu memelas seperti ini.
Aku masih hafal rayuan-rayuan yang kau tembakkan di hatiku. Semakin kuat ku menghindar, semakin bertubi-tubi pula rayuanmu. Sungguh otakku tak mampu mengambil keputusan apapun. Aku merasa kau telah melanggar batas normal kerja otakku.
Akhirnya rasa iba mengantarkanku pada pedih yang sengaja kau pilih untukku. Jujur aku tidak sanggup menyanggah beratnya penyesalan. Sedangkan kau? Aku tau itu hanya sesal yang pura-pura dari mu. Kebodohan apa ini Astuti? Di mana akal sehat mu? Tangis sesalku pecah di senja itu. Aku tahu semua tidak berarti lagi. Nyawaku bagai menetes bersama air mata yang menganak sungai. Kehancuran mengintaiku di balik tirai kenyataan.
***

          Hari belumlah terlalu petang. Udara panas masih terasa. Meski mentari sudah agak condong kearah barat. Aku tengah menikmati suasana petang dari jendela kamarku. Ini hari ke-3 aku menjalani ritual adat " Pingitan", yang biasanya dijalani oleh calon pengantin. Pingitan berarti calon pengantin tidak diperbolehkan keluar rumah. Jujur saja aku tidak menyukai ritual ini, hidupku terasa dikungkung aturan yang memuakkan.
          Sementara itu, diluar kamarku, orang-orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pesta yang akan diselenggarakan 3 hari lagi. Lamunanku terusik suara burung jalak di luar jendela. Pandanganku tertuju ke luar jendela kamar. Seekor burung Jalak bertengger di dahan pohon durian belanda, tepat di depan jendela kamarku.
          Seeeeeeeerrrr, dadaku berdesir. Apakah ini pertanda buruk? Ah, bergegas ku hapus fikiran itu. rasanya terlalu naif untuk mempercayai itu. Segala sesuatu itu, baik maupun buruk datangnya dari Allah. Bukan karna seekor burung Jalak. Ku tarik nafas perlahan, matahari  semakin condong ke arah barat. Seolah-olah mengeja tempat peristirahatannya. Langit mulai berganti warna.
          " Astuti, tolong bukakan pintunya, mak nak taroh ini" Teriak Mak dari luar kamar. Bergegas aku beranjak dari pinggir jendela. Kulihat Mak mengangkat sebuah kotak besar berwarna coklat. Sementara di belakangnya Hanifah adik perempuanku, menenteng plastik besar yang berisikan baju untuk hari persandinganku. sedangkan kotak yang di bawa Mak ternyata berisikan suntiang lengkap dengan peralatan serta aksesorisnya. Suntiang merupakan hiasan kepala pengantin perempuan di kampungku, semacam mahkota yang di rangkai menggunakan kawat pada sebuah kerangka seng aluminium.
          Mak membuka kotak besar tersebut. Alangkah indahnya hasil karya manusia ini, pikir ku dalam hati. Suntiang yang bewarna kuning emas itu berkilau-kilau seakan memamerkan keindahannya. Aku dan Mak terkesima melihatnya.
          " Ini suntiang baru Astuti, kaulah orang pertama yang memakainya" Ujar mak seraya mengangkat suntiang besar itu dan mematut-matutnya di kepala ku.
Aku hanya tesenyum saja melihat tingkah Mak.
          " Hanya orang yang suci saja yang beruntung mendapat kesempatan pertama menjunjung suntiang indah ini dan kaulah orang yang beruntung itu Nak, tambah Mak lagi.
          Senyumku sumbang mendengar kata-kata mak. Untung Mak tak melihat perubahan wajahku. Beliau tengah asyik menyimpan kembali suntiang ke kotaknya.

***
          Mak telah meninggalkan kamarku. Magrib pun sudah beranjak dari kampungku. Azan Isya pun berkumandang. Setelah menjalankan tugas sebagai hamba, aku pun menuju pembaringan. Ku tatap lekat langit-langit kamar. Pernikahanku tinggal 3 hari lagi. Waktu terasa lamban berputar. Apalagi dengan kondisiku dibawah tekanan penyesalan dan ketakutan setelah kejadian sore naas itu.
          Ingatan ku kembali kemasa 5 tahun yang lalu. Saat itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu., ketika aku mengenalmu, Bang Heri. Tak gampang bagiku untuk menerima mu sebagai kekasih. Namun kau bukanlah laki-laki yang mengalah pada waktu. Hingga akhirnya kau memancang pondasi cinta di hatiku. Semua terasa indah. Aku tau kau laki-laki yang baik dan setia. Hingga hubungan kitapun bertahan sampai aku selesai kuliah dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kau laki-laki terbaik yang pernah ku kenal. Hingga senja naas itu tiba. Kau telah mempersiapkan rencana gila itu,  dan aku telah memelihara kebodohanku sehingga tak kuasa menolak keinginanmu. Hingga kita mengukir dosa bersama.
          Perkataan Mak senja tadi membuat hatiku ngilu. tak terasa air mata meleleh membasahi bantal. Andai saja Mak tau yang sebenarnya, bahwa anak gadisnya ini tak sebaik yang difikirkannya. Kalau saja Mak tau kejadian senja itu, Entah apalah yang akan terjadi. Tangisku semakin deras. Rasa sesak menekan dadaku. Aku sudah tak tahan lagi berpura-pura menjadi gadis yang baik di depan Mak.
          Kupandangi sekeliling kamar yang telah di penuhi hiasan untuk pernikahan. Di pojok kiri kamar tertata rapi pakaian yang akan ku kenakan di akad nikah dan hari persandingan nanti. Andai saja kejadian senja itu tak terjadi. Mungkin inilah masa-masa paling indah dan mendebarkan bagi seorang calon pengantin. Rasa dimana kebahagian mendominasi hari-hari menjelang hari "H" pernikahan.
          Namun yang aku rasakan sekarang malah sebaliknya. Cemas, takut dan penyesalan itu berkejar-kejaran di hatiku. Dan ini benar-benar menyiksa.
"Ampuni hamba-Mu ini ya Allah". Lirihku dalam hati. Kubiarkan saja air mata mengering di pipi. Akhirnya kantuk pun menyandra tubuhku. Sejenak hilang penat fikiran itu.
****

          Samar-samar terdengar suara riuh di luar kamarku. Kulirik jam dinding baru jam empat subuh. Mungkin orang-orang yang akan menyiapkan hidangan untuk pesta fikirku. Ku coba memejamkan mata kembali, kepalaku terasa sakit sekali. Mungkin karna menagis semalam. Belum sempat terlelap, aku mendengar  samar-samar tangis Mak. Sontak aku bangun dari tempat tidur.
          " Jangan diratapi, ini sudah takdir dari Allah. Kalau kau seperti ini bagaimana kita mengatakannya pada Astuti. Tenangkan fikiranmu, jangan menangis lagi. Nanti Astuti terbangun pula" terdengar bujukan ayah kepada  Mak.
          " Kapan kita kasih tau Astuti Bang? Apa tak sebaiknya kita bangunkan saja dia sekarang?" Tanya Mak disela-sela tangisnya.
          Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu kamar.
          Terdengar suara Adikku Hanifah bertanya kepada Mak, mungkin dia juga baru terbangun dari tidurnya.
          " Ada apa mak?" Tanya Hanifah dengan suara parau.
          " Bang Heri kau nak, Dia meninggal jam 3 tadi. Dia terjatuh di kamar mandi, kemudian pingsan. lalu dibawa ke rumah sakit. Ternyata dia telah meninggal Nak." Jawab Mak sambil terisak.
          Kakiku terasa lemah, tak sanggup menyanggah berat badanku. Hingga aku terduduk di depan pintu kamar yang belum sempat ku buka.
          Tangis tak mampu ku keluarkan. Bang Heri, yang dua hari lagi menikahiku kini telah berpulang. Entah badai apa ini ya Allah. Mengapa Engkau begitu tega ya Allah. Kenapa tak kau biarkan hambamu yang hina ini merasakan manisnya pernikahan? Mengapa Engkau berikan hamba cobaan seberat ini ya Allah? Bertubi-tubi aku menyesali keputusan Tuhan karena menjemput Bang Heri secara mendadak.
          Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kejadian senja itu. Penyerahan diriku secara utuh pada Bang Heri. Mulutku terngaga menahan pilu. jiwaku terguncang. Apa yang akan aku hadapi nanti seandainya benih itu tumbuh di rahimku? Aku harus bagaimana?
          Mataku tertuju pada kotak coklat di pojok kamar. Kuraih kotak itu, ku buka perlahan. Warna emas yang memancar menyilaukan mata. Kuangkat perlahan suntiang yang indah itu. Kali ini tangisku pecah.
          Agaknya suntiang ini memang tidak untuk orang yang kotor sepertiku. Tangisku semakin menjadi.
          Terbayang di kelopak mataku, pertama kali aku bertemu dengan Bang Heri. Hari orang tuanya datang meminang, dan kejadian terkutuk di senja itu, kicauan burung Jalak di dahan pohon durian belanda. Semuanya bagai layar tancap di otakku. Hatiku semakin perih.
          Bertubi-tubi aku mengutuk nasib dan diriku sendiri. Ku pandangi lekat suntiang yang kilau kemilau itu. Kutarik seulas, dari rangkainya. Tanpa pikir panjang, aluminium kuning emas itu ku sayat di pergelangan tangan. Darah bersemburan dari lukaku, membanjiri sunting di pangkuanku. Aku berusaha memangil malaikat maut untuk menghampiri. Dunia menjadi gelap gulita. Mungkinkah malaikat maut sudah tiba?
                                                                   Tanjungpinang 01 Des 2011
TAMAT
Dimuat di Haluan Kepri Pada Minggu, 8 Januari 2012






Tidak ada komentar:

Posting Komentar