Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Sabtu, 17 Maret 2012

TREN POTONGAN RAMBUT CEWEK 2012





TANJUNGPINANG-Trend potongan rambut cewek untuk 2012, masih didominasi model potongan rambut Jepang,  Korea, Emo, Barat, dan model rambut luar negri lainnya. Di Beberapa salon kecantikan di Tanjungpinang, model ini banyak digandrungi remaja.
Sebut saja Ratih (16), pelanggan salon Latansa ini memilih potongan rambut bergaya artis Korea. Hal ini dikarenakan model potongan  rambut Korea merupakan trand yang banyak di jumpai di berbagai kalangan remaja seusianya.

“ Memang banyak  permintaan pengunjung untuk potongan rambut tertentu, misalnya Emo, dan potongan seperti rambut-rambut artis Korea begitu”, ujar Shanti (23) seorang karyawati salon Latansa. Salon yang terletak di jalan Wiratno, Tanjungpinang ini memang tak pernah sepi oleh pengunjung.
“ Model rambut begitu sudah mulai di minati pengunjung, dari awal tahun lalu,” terangnya. Kami memang selalu up to date, kalau urusan mode. Hal ini demi memanjakan pengunjung,” ujarnya menambahkan.
Trend potongan rambut memang selalu mendapat perhatian bagi kaum hawa. Akan tetapi, sebaiknya kita juga mempertimbangkan beberapa hal untuk memilih mode tersebut. Pililah model potongan rambut yang sesuai dengan wajah kita.
Alangkah baiknya lagi dalam memilih model potongan rambut, kita juga memperhatikan kondisi lingkungan, karakter, dan fisik kita  agar sesuai dan enak dilihat di mata orang lain. (Ani_Praktek Jurnalistik)

LUPA NYALAKAN SEN, PENGENDARA MOTOR DITABRAK



TANJUNGPINANG-Akibat lupa menyalakan lampu sen, Rudi (54) ditabrak di jalan Rumah Sakit depan Mesjid Ashaburijal Sabtu (17/3) malam. Ia tengah melaju dari arah Tugu Pahlawan, sedangkan Doni (32) mengendarakan motornya  dari arah jalan Sunaryo.
“Saya memang ngak nyalain lampu sen, karena jalannya sepi. Eh tau-taunya ada motor dari atas ngebut. Saya ngak bisa ngindarin lagi,” ujar Rudi dengan logat khas Jawanya. Dia masih terlihat shock, ketika kami temui di TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Menurut saksi mata, Rian (21) kecelakaan itu terjadi karena kelalaian kedua belah pihak. “ emang dua-duanya salah. Motor Jupiter itu kan dari arah Tugu Pahlawan, dia mau belok ke gang itu, tapi ngak nyalain sen. Motor Revo nya dari atas laju, sempat ngelakson tapi mau gimana lagi udah deket. Nabrak lah jadinya.” Terang Rian.“ Yang ngendarain motor Jupiter jatuh, sedangkan yang nabrak itu terpelanting,” tambah Rian memaparkan.
Akibat dari kecelakaan itu, Rudi mengalami luka memar di kakinya. Sedangkan Doni lebih parah. Giginya patah membentur aspal, selain itu darah terus menangalir dari mulutnya. Sehingga ia dilarikan ke rumah sakit.
Sementara itu, kondisi motor keduanya rusak. Paling parah motor Doni, lampunya pecah dan bagian depannya rusak berat.
Memang tak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Hanya dihimbau bagi pengendara motor untuk lebih berhati-hati lagi. Agar dapat menghindari kecelakaan dalam berlalu lintas. (Ani_Praktek Jurnalistik)

Minggu, 04 Maret 2012

TEATER HARI-HARI MERAH MEMUKAU PENONTON


TANJUNGPINANG-(4/3) Pementasan teater oleh Bengkel Teater Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), memukau penonton. Teater yang berjudul “Hari-Hari Merah,” itu  disutradarai oleh Said Barakbah Ali. Beliau merupakan Ketua Program Studi Bahasa Indonesia FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) UMRAH.
Teater ini menceritakan tentang kegalauan Tembor (tokoh utama) atas keadaan negri ini yang semakin kacau dan dipenuhi dengan kemunafikan. Kekasihnya mencoba memberikan pencerahan berupa nasehat, namun Tembor tak menghiraukannya. Dia malah berniat memperkosa kekasihnya. Tapi akhirnya di gagalkan oleh seorang sahabat. Akhirnya tembor melampiaskan nafsu berahinya pada sesosok mayat yang baru dikubur. Namun disaat itu pula dia diberi nasehat oleh orang asing. Akhirnya tembor mengakui kesalahannya, dan kembali kejalan yang benar.
Teater yang berdurasi enam puluh menit ini berhasil membius penonton yang memadati Gedung Aisyah Sulaiman  Sabtu malam kemarin. “Penonton memberikan apresiasi yang luar biasa,” ujar Febriyadi yang berperan sebagai Tembor.
Selain itu, pementasan ini dihadiri langsung oleh rektor UMRAH yaitu Prof. Maswardi M Amin. Bahkan di akhir acara Rektor UMRAH membacakan sebuah puisi karya Chairil Anwar. “ Pementasan ini mengingatkan saya waktu kecil dulu, saya suka sekali mendengar sandiwara semacam ini.” Kata Prof. Maswardi M Amin, dalam sambutannya. Beliau berharap ini dapat dijadikan agenda kegiatan mahasiswa FKIP, serta mampu membawa nama besar UMRAH dalam bidang teater.(Ani_Praktek Jurnalistik)


Jumat, 02 Maret 2012

CERPEN_AYAH


(Mereguk Rindu tentang Kasih Sayang dan Kekuatan)

Ayah, tak banyak orang memiliki kedekatan dengan sosok itu. Mungkin ayah hanyalah bagian dari hidup, karena takdirnya begitu. Umumnya orang lebih memiliki ketertarikan ketika membicarakan “Ibu”. Bagiku tidak demikian. Aku memiliki segudang cerita tentang ayah. Ini salah satunya.
Ayahku ayah yang keras. Hidupnya penuh bermandikan keringat pengorbanan. Ia terlahir sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga, hal itulah yang menempanya menjadi seorang ayah yang tegas. Nyaris tak ada senyum di wajahnya. Keringnya nasib membuatnya berbeda dari ayah-ayah yang lain.
Adzan Magrib telah berkumandang dari surau di dusun kecil kami. Gelap mulai mengerayangi. Saat itu listrik sudah masuk kampung kami. Meski belum semua menikmatinya, karena dusun kecil di kaki bukit ini delapan puluh persennya dihuni masyarakat miskin. Rumahku masih belum mampu mengecap penerangan dari listrik. Kami masih menggunakan lampu teplok, itupun dengan modifikasi sendiri. Ayah membuatnya dari kaleng bekas, sedangkan sumbunya dari sobekan kain yang sudah tidak terpakai.
Shalat Magrib berjamaah baru saja selesai. Emak melepas mukenah lusuhnya, dan menggulungnya dengan sajadah, kemudian beliau berjalan kearah dapur. Kami semua mengikutinya, karena ini saatnya makan malam bersama. Ini merupakan rutinitas keluarga kecil kami. Menu makan malam hari ini, rebus kol, sambal mentah dan dua ekor ikan mujair goreng.
Emak memotong ikan mujair menjadi empat. Dan masing-masing mendapat satu potong. Emak mengakhiri makannya. Begitulah hari-hari, mak selalu selesai duluan. Tak lama kemudian kakakku menyusulnya. Aku masih tersekat menelan nasi putih dari piring, ikannya sudah habis. Aku sudah tak bergairah lagi menyantap makanan itu. Seakan membaca kegalauan ku, ayah memindahkan ikannya ke piringku.
“Makanlah”, katanya nyaris tanpa ekspresi. Tak ada senyum. Namun aku tahu ia tidak sedang marah. Akupun melahap lagi makanan di piringku hingga tandas.  
***
“Cepat ambil wudhu dan pasang mukenahmu”, ujar emak melihatku yang masih malas-malasan karena kekenyangan.
          Ini saatnya mengaji.  Memang tak ada jeda, setelah makan malam mak akan mengiring kami untuk mengaji. Aku dan kakakku mengaji setiap sore di surau, bersama teman-teman lainnya. Sedangkan malamnya kami wajib menyetor bacaan kami kepada Mak. Jika tak ada peningkatan, maka siap-siaplah jepitan kepiting di pusar.
          Malam itu mak tidak menyimak kami mengaji, tugasnya diaambil alih Ayah. Aku sedikit gentar. Sengaja mundur dan bersembunyi di belakang kakak. Sebilah rotan erat di genggaman ayah, aku makin ciut. Kakakku membaca Al-Quran dengan baik. Aku yang masih Juz Amma, terdengar terbata-bata.
          “Sudah sampai mana?” Tanya ayah pelan, namun suaranya terdengar menakutkan di telingaku.
          “ Tadi di surau belajar apa?” Tanyanya lagi, melihat ku tak juga bersuara. Sebenarnya tadi disurau aku tak begitu mengikuti Etek Yus. Aku asyik bermain gambaran dengan teman-teman. Bahkan aku belum hafal surat Al-Falaq yang disuruh Etek Yus, guru mengajiku.
          “ Di…di…disuruh hafal surat Al-Falaq Yah.” Jawabku terbata-bata.
          “ haa,, coba baca biar Ayah simak” Kata ayah menyuruhku. Mukaku memerah, keringat dingin menyucur di punggungku.
Kulirik kakak sekilas, dia mencibir kearah ku. Dia tahu aku tadi di surau tak mengaji. Namun baiknya, dia tak mengadukan itu ke ayah. Jadi aku sedikit berterimakasih kepadanya, walau sebenarnya aku geram dia mengejekku seperti itu.
          Qul a’uudzu bi rabbil…bil…falaq” ujarku terbata-bata mengumpulkan segala ingatanku tentang hafalan yang di berikan Etek Yus.   Kulirik lagi kakakku yang asyik membuat PR, dia menatapku juga. Inilah saat pembalasan kak, ujarku dalam hati dan mencirir ke arahnya.
          Lihat kau Kak, aku bisa meski tadi main-main. Kurang lebih begitulah batinku. Kakakku membuang muka tak senang. Lalu kulanjutkan lagi hafalan.
          Min syar…ri maa…….maa….ma….” lama aku tersekat di ayat itu. Waduh, aku lupa lanjutannya apa.
          “ Ma…ma…macet, apa ma…ma…main gambaran?” sambung kakakku tak tahu aturan. Ayah melirikku tajam, mukaku memerah. Panas. Kulihat kakak tersenyum puas.
          “Makanya ke surau tak usah bawa mainan” Ujarnya lagi.
Ayah menatapku seakan minta penjelasan. Akhirnya dengan airmata ketakutan, akupun mengakuinya di depan ayah. Ayah menyuruhku membuka telapak tangan, dan melecutnya dengan rotan sebanyak lima kali. Telapak tangan mungilku panas seperti menggenggam bara. Sedangkan airmata mengalir deras di pipiku.
Kulirik emak yang asyik menjahit lambang di seragam Tsanawiyah kakak. Berharap akan ada pembelaan darinya. Tapi nihil, mak malah menyuruhku mencuci muka dan mengerjakan PR dari sekolah. Dengan sedikit terisak aku beranjak untuk mengerjakan perintah mak.
“Awas kau kak, tunggu peembalasanku” Lirihku geram.
Semalaman aku tak bisa tidur. Bukan karena telapak tanganku sakit di lecut rotan ayah. Tapi hatiku sakit di ejek kakak. Aku menyesal tadi main-main di surau. Rasanya malu sekali kelihatan bodoh di depan kakak. Akhirnya dengan penerangan lampu teplok, aku kembali membuka Juz Amma di tengah malam itu. Tak tanggung-tanggung ku hafal sekalian artinya dari Tafsir Al-Quran milik kakak. Ku hafal berkali-kali surat Al-Falaq. Hingga kantuk menyerang tubuh kecilku.
***
Adzan subuh berkumandang dari surau ketika emak menyentuh pipiku.
“ Bangun Ni, sholat subuh dulu” ujar mak sambil mengoyang-goyangkan wajahku.
          Kulihat mak sudah siap dengan mukenahnya. Tangannya terasa dingin sekali, mungkin karena habis berwudhu. Aku sempoyongan turun dari tempat tidur. Mataku masih mengantuk. Ternyata kakak sudah bangun duluan. Dia duduk di atas sajadah di syaf makmum. Dengan ditemani emak aku mengambil wudhu di pancuran belakang.
          Selesai shalat subuh berjamaah, aku ikut bergabung dengan emak dan ayah di dapur. Ayah sedang asyik menyeruput kopi hitam buatan mak. Sedangkan mak duduk di sebelahnya, matanya sesekali melirik ke tungku. Di sana emak tengah menjerang nasi.
          Aku duduk bersila tepat di sebelah ayah. Kulirik ayah tengah asyik menggulung tembakau dengan pucuk enau yang sudah di jemur kering. Itulah rokok ayahku. Harga rokok kretek sangat mahal baginya. Makanya sebagai alternatif daun enaulah pilihannya. Emak hanya mengeluarkan duit untuk membeli tembakau per helai yang harganya jauh lebih murah, sedangkan daun enaunya ayah mengambilnya sendiri di ladang.
          Aku berniat memberi kejutan kepada ayah pagi ini. Dengan menyetor hafalan Al-falaq yang terbengkalai tadi malam. Aku berjanji tak akan ada rotan melahap telapak tanganku pagi ini.
          “ Bismillaahir rahmaanir rahiim” ujar ku memulai hafalan. Ayah melirik ke arahku, lalu asyik lagi dengan gulungaan daun enaunya. Emak tersenyum melihatku.
          Qul a’uudzu bi rabbil falaq, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh” lantang suaraku melafaskan surat al-falaq dengan fasih. Lengkap dengan artinya. Ayah sedikit mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Walau sekilas aku melihat senyum di wajah ayah, itu cukup menjadi suntikan semangat untuk ku.
          Kakak ikut bergabung bersama kami di dapur. Ia berjongkok di sebelah mak, dengan handuk tersandang di bahunya. Dia menunggu lanjutan hafalanku. Aku melirik sebentar, namun tak berani mengejek seperti tadi malam. Takut kualat lagi, hanya senyum termanis ku persembahkan padanya.
          Min syarri maa khalaq, dari kejahatan makhluk-Nya.” Kembali kulirik kakak. Nah, kali ini ngak ada ma…ma…ma…macet kan kak, batinku senang.
          Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Kutarik nafas pelan dan melanjutkan lagi hafalanku.
          Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqad, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada bahul-bahul. Wa min syarri haasidin idzaa hasad, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Sadaqaullahul azim.” Ujarku menyudahi hafalanku.
          Semuanya terdiam, tak terkecuali kakakku yang usil dan cerewet itu. Aku melirik mereka satu per satu berharap akan keluar sedikit pujian untuk ku.
          “ Tahu dari mana arti suratnya itu?” tanya kakak sinis.
          “ Dari tafsir Al-Quran punya kakak.” Jawaabku jujur.
          “ Tuh kan, pakai punya orang tak pinjam dulu.” Kata kakak sewot.
          “ Yeee, kan demi kebaikan, lagian semalam kakak sudah tidur.” Jawab ku membela diri.
          “ sudaahlah, mandi sana. Nanti terlambat ke sekolah.” Ujar emak melerai. Kakak pun beranjak ke pancuran, dengan bibirnya yang masih sewot.
          “ Ayah,…” kataku tersendat di kerongkongan. Ayah memandang ke arahku teduh.
          “ Maafkan Ani yah.” Lanjut ku pelan. Ayah mengusap ubun-ubunku penuh kasih sayang.
          “ Lain kali jangan main-main lagi di surau.” Kata ayah pelan namun tetap terlihat tegas.
Aku mengangguk semangat. Pagi itu terasa berbeda di rumah kecil kami. Aku yang saat itu berusia enam tahun, mencoba menyelami kekerasan hati ayah. Tapi tak ku temukan cacat celah pada kasih sayangnya. Walaupun keras hati, ayahku tetaplah seorang ayah yang penuh cinta. Meski itu hanya tersirat dari sikapnya.
Dan ayah yang keras hati itu jugalah yang menempa hidupku untuk mandiri dan lebih menghargai waktu. Ayah, ayahku adalah harta yang tak ternilai harganya. Masihkah kita tidak menghargai laki-laki tua yang kita panggil ayah? Akan kah mereka hanya bagian dari hidup hanya karna takdir semata? Renungkanlah.

TAMAT
Tanjungpinang, 27 Januari 2012

PENDIDIKAN KARAKTER BUKAN HANYA TUGAS GURU


FOTO UPACARA BENDERA_Melaksanakan upacara bendera merupakan satu contoh pendidikan karakter.


Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai prilaku manusia dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan dan bangsa. Semua itu tercermin dalam sikap, pikiran, perkataan dan perbuatan yang berdasarkan norma agama, hukum, etika, budaya dan adat istiadat.
Di Negara kita saat ini pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk menciptakan pribadi yang cerdas dan berahlak mulia. Ini tentu tidak mudah. Perlu dukungan dari berbagai pihak agar tujuan akhir “cerdas dan berahlak mulia” itu dapat terwujud.
Masalah yang kita hadapi sekarang adalah, pendidikan karakter hanya merupakan “slogan” yang menjadi penghias dunia pendidikan, serta pencapaiannya dititik beratkan kepada guru. Seharusnya pendidikan karakter itu sudah di ajarkan sejak dini. Bukan hanya di sekolah saja. Intinya begini, mustahil jika orang tua tidak mendidik anaknya dengan hal-hal yang baik sejak anaknya mengenal dunia bukan? Itu saja sudah merupakan bagian dari pendidikan karakter.
Yang menjadi masalah lagi, ketika Si guru di sekolah “berkoar” tentang karakter yang baik terhadap anak didiknya, sedangkan di rumah orang tuanya tidak menuntut anaknya untuk berkarakter yang baik. Jadi apa yang mereka dapat di sekolah tidak mendapatkan tempat praktek yang baik di rumah. Ini tentu akan membuat kebingungan tersendiri bagi Si anak, dan ilmu itu hanya numpang mampir saja di pikiran mereka.
Untuk itu perlu adanya persamaan persepsi serta kerja sama yang baik antara orangtua dan guru untuk menanam karakter pada anak, karena merekalah nanti yang akan membangun bangsa ini. Mustahil akan ada masa depan yang baik tanpa membangun karakter bangsa. Inilah tugas kita.(Ani_2 Maret 2012/Praktek Jurnalistik)

Senin, 27 Februari 2012

TRY OUT UN BERJALAN LANCAR


TANJUNGPINANG – Hari ini (27/02), try out ujian nasional dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga diselenggarakan dengan lancar di seluruh KEPRI. Try out ini dilaksanakan  untuk siswa kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA yang akan menghadapi ujian nasional pada Mei mendatang. Ini merupakan simulasi UN (Ujian Nasional) yang bertujuan membiasakan siswa untuk menghadapi soal-soal UN (Ujian Nasional)
Berbeda dengan try out pertama di awal bulan lalu, try out kali ini dihadapi dengan serius oleh semua siswa. Hal ini disebabkan rendahnya nilai yang diraih siswa pada try out pertama. Bahkan hampir di setiap sekolah, melakukan pembenahan terhadap persiapan anak didiknya. Baik itu persiapan fisik, mental maupun materi pelajaran.
“Kami berharap try out ini bisa lebih baik dari kemarin, soalnya udah belajar dengan maksimal, ” kata salah seorang siswa SMA Pelita Nusantara ketika kami wawancarai. "Lagipun, ini merupakan try out terakhir yang dari Dinas Pendidikan. Jadi harus dihadapin bener-bener, ” ujarnya menambahkan. (Ani/Praktek Jurnalistik)





Minggu, 26 Februari 2012

KUMPULAN PUISI GUSMARNI ZULKIFLI


ROMANSA JEMBATAN SITINURBAYA

Ku mamah kenangan yang hadir tentangmu
Padang
Susah payah aku menelannya
Keping-keping rindu
Berserakan di sepanjang  jembatan Sitinurbaya
Menyiksa dengan sangsai cinta yang tak sudah
Kenangan
Kembali kumamah kau dalam duka
Lembayung senja  seakan menertawakanku
Sebab di sini tanpamu
Riak tepi Batang Muara di bawah sana
Bertanya-tanya
Tentang janji  yang kita ukir sekokoh Gunung Padang
tentang rindu yang kerap kita tuai di jembatan ini
tentang sejuta cita cinta kita dan,
tentangmu cinta,
aku tak mampu menjawabnya,
hanya pilu cinta yang tak sudah
yang kau sisakan untuk ku
dan jembatan Sitinurbaya








NYANYIAN RINDU UNTUK MAK 2

Mak
tak dapat ku kayuh biduk rindu
pulang ke pelukan mu
tahun ini
tersebab badai tengah merajai laut
kehidupan ku
mak
meskipun tak dapat
ku rebahkan penat
menunggu waktu itu datang
aku tetap tegar
aku bukan lah gadis kecil
yang akan menangisi nasib
itu bukan aku
mak
tahan lah air mata itu
aku juga melakukan hal serupa
bersabarlah
kelak waktu juga penat
menyanggah timbunan rindu kita
hingga aku kembali meringkuk
di peluk hangat mu.

                                      Tanjungpinang, 29 Januari 2011



TERBUAI JANJI BULAN

Malam membuatku terlelap
dalam pelukan bulan
awan menyelimuti dingin yang mengigit tulang
angin menahan hatiku agar
tak jatuh bertepai di bumi
indahnya janji
membuatku betah merajut mimpi
namun kenyataan
membuatku terjaga
aku wanita
yang terbuai janji bulan
memamah malam bersamanya
tapi mendung mendendam
memekatkan warna malam
bulan berlayar menjauh
hingga aku terkulai
di tepi telaga duka
sangsai menahan pedih luka
harapku berkecai pada malam
aku wanita
yang terbuai janji bulan
menunggu langit berganti helai
dengan hiasan bulan pada tubuhnya
apakah ada?
atau hanya janji
yang tak kan pernah nyata


                                                Tanjungpinang, 11 Januari 2011

HARAPAN BANGSA

Dalam ruang kelas tua
aku memilin harap pada kalian
yang duduk di bangku kayu lusuh
bermacam-macam tingkah
kalian malas memamah ilmu
terkadang membuatku ngilu

apa salah hari
yang menggiling waktu berlalu
tak dapatkah kau  petik buah dari luka bangsa?

nak
kitalah bangsa yang menduka
berpuluh-puluh tahun hidup sengsara
bila kita kan mampu bangkit
jika muda belia negri
enggan menebus mimpi
 nak
tak kah kalian iba pada nasib bangsa?
yang pejabatnya korupsi
anggota dewan mati hati
petingginya sibuk memperkaya diri
sedangkan rakyat kecil
gamang meniti hari
sulit mencari sesuap nasi
 nak
kalianlah tunas bangsa
yang membangun masa depan
siramilah hati dengan ilmu
agar  bisa maju
penuhi lumbung jiwa dengan kejujuran
agar terkubur segala kebohongan
kibarkan bendera  keadilan
agar hilang kemunafikan
bangkitkan semangat untuk maju
agar kita tak tertinggal jauh
bangkitkan negri dengan prestasi
bukan dengan korupsi
 nak
bergiatlah
nasib bangsa
kalian penentunya

                                      Tanjungpinang, 31 Desember 2010


                                                   












LAUT TAK BERTIMBANG RASA
Ku gadai biduk pada ombak
Karna laut tak bertimbang rasa
Kalaupun mujur
Biar angin meniup ke tepi
Tak kira masih hidup atau mati
Tak kan ku lawan gelombang
Sebab penat menyerang
Tak kan ku tanam keluh
Biarlah
Ku kecup luka demi luka
Hingga bersarang jemu di jiwa
Tanda menyerah kalah

Tanjungpinang, 26 Maret 2011








KENAPA ADA RINDU

Kenapa ada rindu?
Hatiku masih tak percaya
Gerangan inikah cinta?
Bumi tampunglah ngilu tak percaya ini
Dalam perutmu yang paling dalam
Peramlah bersama resah
Jangan biarkan ia berpendar di bumi
Kenapa ada rindu?
Mengintai di keheningan
Menyentuh kala diam
Hingga berderai kata
di pembaringan mimpi
Aku bertanya dengan sesak ini
Siapa yang nenaburnya
Rindu, rindu dan rindu
Berapa ribu  kata rindu
Yang hanya ku kulum dalam dada
Biar tak timbul padah
Karena cinta tak pernah salah

                                                          Tanjungpinang 10 Desember 2011






PESAN DARI KAMPUNG
hari mendendang riuh 
entah murai yang salah kabar
atau memang angin salah senandung
di bibir jendela aku terhenyak
bukan igauan
ini kenyataan 
pesan mak dari kampung
 .: nak
t
lah datang cerana dengan sirihnya
hantaran bujang
menyulam pinta
 .:nak
rumah gadang pinta hiasan
biar tak sepi berkepanjangan
konon pula ada pinangan

mak 
sungguh aku takut durhaka
menolak pinta
biarlah cerana dan sirihnya
mencari pinang lain
karna bagiku belum waktunya


Tanjungpinang 05 Maret 2011





ABAK DAN SAWAH

"Sawah ini tempat kita menggantung nasip nak",
katamu sambil mengayunkan cangkul kala itu
mulai dari kekar hingga ringkik badan tuamu
di kungkung waktu
tak pernah sawah mendurhaka
terbungkuk-bungkuk
tertatih-tatih
kau ayun cangkul ke tanah
bagai pecut sang perkasa
menuai harap
nasib yang mengangkangi hidup
tak pernah kau keluhkan
"hidup hadiah Tuhan nak,biar miskin harta tapi kaya hati"
katamu di sela semput
yang bergayut pada nafas
wajah mu tenang tanpa beban
Abak
air mataku meleleh
ngilu menyayat hati
ku kerat rumput di pematang
mencoba membuang galau
aku risau dengan nasib
kau menenangkan
aku ragu dengan pilihan Tuhan
kau meyakinkan
"Tuhan tak pernah salah nak,"
hiburmu membuatku semangat menjamah hari
aku iba denganmu abak,
setua ini umurmu
belum mampu ku pensiunkan dari sawah
aku tau kau lelah
aku belum berdaya bak,
miskin mengikat kuat di langkah
hingga sawah wajib di olah
masih jauh perhentian itu bak,
"biar waktu membawa bahagia nak,
sawah ini telah menempa hidup kita dari lama"
pesan mu kala itu
kau  lelaki hebat abak
mampu menari bersama badai kehidupan
tabah itu setia di hatimu
dan sawah ini
menguapkan ketabahan

                             Tanjungpinang, 27 Desember 2010













RINTIH CAMAR KEPADA TUHAN 

Rintih camar pada awan
galau nian agaknya senja
lembayung memerah
bagai anak dara tersepit duka
bahana bumi mengukir janji
gamang ia menebusnya
 Rintihnya lagi kepada hujan
ntah apa ingin tuan...
hari semakin meregang nadi
jembatan ingin terbingkai sudah
ia tak mampu mengusir luka
 kepada angin ia berpesan
bawa arah hingga neraka
tak pernah janjai dapat tertuai
malah terlerai kepingan dosa
 ntah untuk apa tuan,
tak ada hidup hati itu
hanya hitam
menyeliuti galau
Rintih camar kepada TUHAN

                                      Tanjungpinang, 22 Oktober 2010





 MUARO

Muaro,
Ku pungut remah-remah mimpi yang berserakan
Di tepi pantai Muaro
Meski jenuh menunggu waktu berlalu
Aku tetaplah penunggu yang setia pada janji
Muaro,
Aromamu tak pernah berubah
Masih saja ku hidu pekat rindu
Yang menebar di pori-pori laut
Dan aku betah bersamamu
Meski tahun kembali berganti
Tepi pantai ini memancang setiaku
Menunggu cinta.
                             Tanjungpinang, 22 Agustus 2011











PERPISAHAN
                              
Ngilu menghimpit ulu hatiku Tuan,
Saat kata perpisahan
Berbaur dengan dinginnya malam
Meluap perigi mataku, tak tertahan
Aku belum sempat menyiapkan
Tameng untuk ini kepedihan
Akhirnya kumamah jua perlahan
Saat ini aku bagai pungguk
Termangu di tepi pusaran rindu 
Kau tinggalkan jejak cinta
Di bawah timbunan canda
Kini kesepianlah teman abadiku
Tuan,
Gerimis di wajahku ini
Biarlah menjadi pembasuh sedih
Tersebab fikir dan kataku tak lagi jernih
Nanar berbaur kabut sepi
Dan aku menangisi ini
Perihal kehadiranmu
Sungguh di luar kuasaku
Andai ku tahu sesingkat itu
Tentulah kan ku rengkuh waktu
Biar tak cepat berlalu
Dan kita masih bersama dibawah dahan rindu
Tuan,
Peramlah kenangan ini
Di serambi hatimu
Sedangkan aku,
Akan menyiangi asa
Di anjung mimpi
Biar tak lena di hantam sedih
Tuan,
Mungkin aku yang terlalu perasa
Karna bagi ku kau sangat berharga
                                                Tanjungpinang, 12 Desember 2011

















NIRMALA

Kau lecut cemburu di hatiku
H
ingga lebam menanggung dendam
U
ntuk apa kau tiup wangi kasturi
P
ada cinta yang di bangun dengan
B
ahan setia
Kau kirim cinta berjela-jela
P
ada kumbang yang jelas bertali
M
erisik hati yang berpenghuni
Jangan salahkan waktu
Y
ang membuat mata beradu
H
ingga kau semai benih-benih harap
P
ada lahan yang bertuan
Jangan salahkan cinta
Y
ang katamu buta
H
ingga ia tak mampu melihat
S
iapa yang dia sapa
Jangan salahkan hati
Y
ang terlalu perasa
T
ak mampu menahan timbunan cinta
Salah engkau lah Nirmala
P
erlahan-lahan mencampakan duka
P
ada tali cinta yang berpilin erat
B
erharap mampu mengikat dia
D
engan pilinan lain
Salah engkaulah Nirmala
M
enjuntaikan cemburu
P
ada tiang setia ku
 Kau tahu Nirmala?
A
ngin puyuh sekali pun
T
ak kan sanggup menghancurkan
T
embok cinta yang berukir setia
Karna hatinya sudah ku tempa dengan cinta.

Tanjungpinang, 17 Jan 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


CERITA PADA PAGI
Pagi,
izinkan aku bicara cinta
yang saban malam berjuntai
di tepi pembaringan mimpi
ladang jiwa resah,
di sapu angin rindu

wahai pagi,
biarkan ku paparkan kepadamu
galau rasa menekuk langkah
biarlah,
biar kau seru kesekalian alam,
aku tengah di hantam cinta
kendati terkadang resah,
terkadang suka
kan ku kecap makna cinta
di tiap tarik ulur nafas
aku sangat menikmatinya

wahai pagi,
jujur ku kepada mu,
tuan itu telah menjarah hatiku
di rampas dan di bawahnya hingga jauh
hingga bersemilah kuncup-kuncup rindu
memenuhi laman harapan
namun entah kapan dia kan mampu memetiknya.

Tanjungpinang 31 oktober 2011


















CERITA PADA PAGI 2
Pagi,
Kaukah itu
          Mengintip malu di luar jendela
                   Belum puas rasanya bercumbu dengan mimpi
                             Kau telah datang kembali
Pagi,
Ini kali
Aku terlena
          Tuan itu,
          Menjamah mimpiku
                   Tadi malam
          Dibuainya aku
Dengan syair merindu
          Merdu mendayu dayu
Bagai buluh perindu
          Akupun hanyut dalam syahdu

                                                Biar
                                                          Kunikmati sekar
                                                                   Rindu yang mekar
                                                                             Membakar ruang nalar

Wahai pagi,
          Biarlah,
                   Gerhana malam tadi
Menjadi saksi pertemuan kami
          Di alam mimpi

                                                          Tanjungpinang, 11 Desember 2011



KELAM

Berlayar di ujung hari
tiada apa yang aku raih
aku tak butuh suluh
padam kan saja dengan nafasmu

buat apa terang
aku tak butuh cahaya
pergi lah bintang kejora
berlayar lah bulan
tutuplah matahari dengan dustamu

jauhkan aku dari cahaya
terang hanya akan menampakan
borokmu pada ku
biar semua gelap
biar semua kelam

tipulah aku semau mu

                                                Tanjungpinang, 19 Desember 2010

 

LENTERA UNGU


Kau datang dengan lentera ungu
di antara remah hujan berserakan
dekaplah piluku dengan tangan hangatmu
ku buang suluh
untuk meraihmu
berharap lentera memendarkan bahagia
walau kau tak tau
penat jiwa mendera
kau tarik ulur cahaya lenteramu
sedang kakiku lula beralas onak
lentera kau jauhkan
malah kau lemparkan ranjau ke jalan ini
lebih rumit dari sebenar rumit
agaknya pecah hati perutmu
tak dapat lagi rasa sakit ini
hancurkan angan
terang itu kau bawa lalu
lentera ungu
kau rendam anganku dengan minyak tanah
kau bakar hingga membara
namun air mata nanahku
tak mampu memadamkannya
tangis tak terhitung lagi
kering sudah perigi di mataku
tak hiba kah engkau
kering hati di salai angkuhmu
renyai badan sendiri senyawa
tak kasihan kah engkau
terlalu banyak hina ku telan
bawa jauh lenteramu
tinggalkan aku berkubang luka
mungkin tuhan sksn menggantinya
dengan seribu kunang-kunang
atau membiarkan aku
memamah duka

                                                Tanjungpinang, 18 Desember 2010




PERCAKAPAN WAKTU

Dinda,
aku pulang
pandanglah kubawakan setengah dunia kepadamu
bersiaplah kita akan erami bahagia ini
pada sisa usia
Dinda,
kau tau bagiku semua serba mudah
andai dunia ini kau pinta,
maka akan ku bingkai dalam pelukmu
Sih, zaman telah berubah,
hati bukan lagi penentuh arah.
          Dinda,
          nanar ku pada kepulanganmu kali ini
          bengkalai pengajaran ku
          membentur kokohnya ankuh
          kau bukan lagi anakku yang dulu
          Bukan,
          Bukan seroja yang ku semai
          dalam dada mu yang permai
          Bukan.
          Bukan kenanga yang wangi
          menyerbak baik budi
          Bukan kemboja yang cerah
          merekah menjaga marwah
          Nak,
          Kenali jiwa mu
          Dimana Alif yang kau eja dari mulutku?
          sebagai penjaga laku,
          Dimana Ba yang kau hela dalam jiwa
          sebagai bala penggawa
          Dimana nurani mu nak?