Gusmarni Zulkifli

Gusmarni Zulkifli
Hidup merupakan pilihan

Senin, 27 Februari 2012

TRY OUT UN BERJALAN LANCAR


TANJUNGPINANG – Hari ini (27/02), try out ujian nasional dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga diselenggarakan dengan lancar di seluruh KEPRI. Try out ini dilaksanakan  untuk siswa kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA yang akan menghadapi ujian nasional pada Mei mendatang. Ini merupakan simulasi UN (Ujian Nasional) yang bertujuan membiasakan siswa untuk menghadapi soal-soal UN (Ujian Nasional)
Berbeda dengan try out pertama di awal bulan lalu, try out kali ini dihadapi dengan serius oleh semua siswa. Hal ini disebabkan rendahnya nilai yang diraih siswa pada try out pertama. Bahkan hampir di setiap sekolah, melakukan pembenahan terhadap persiapan anak didiknya. Baik itu persiapan fisik, mental maupun materi pelajaran.
“Kami berharap try out ini bisa lebih baik dari kemarin, soalnya udah belajar dengan maksimal, ” kata salah seorang siswa SMA Pelita Nusantara ketika kami wawancarai. "Lagipun, ini merupakan try out terakhir yang dari Dinas Pendidikan. Jadi harus dihadapin bener-bener, ” ujarnya menambahkan. (Ani/Praktek Jurnalistik)





Minggu, 26 Februari 2012

KUMPULAN PUISI GUSMARNI ZULKIFLI


ROMANSA JEMBATAN SITINURBAYA

Ku mamah kenangan yang hadir tentangmu
Padang
Susah payah aku menelannya
Keping-keping rindu
Berserakan di sepanjang  jembatan Sitinurbaya
Menyiksa dengan sangsai cinta yang tak sudah
Kenangan
Kembali kumamah kau dalam duka
Lembayung senja  seakan menertawakanku
Sebab di sini tanpamu
Riak tepi Batang Muara di bawah sana
Bertanya-tanya
Tentang janji  yang kita ukir sekokoh Gunung Padang
tentang rindu yang kerap kita tuai di jembatan ini
tentang sejuta cita cinta kita dan,
tentangmu cinta,
aku tak mampu menjawabnya,
hanya pilu cinta yang tak sudah
yang kau sisakan untuk ku
dan jembatan Sitinurbaya








NYANYIAN RINDU UNTUK MAK 2

Mak
tak dapat ku kayuh biduk rindu
pulang ke pelukan mu
tahun ini
tersebab badai tengah merajai laut
kehidupan ku
mak
meskipun tak dapat
ku rebahkan penat
menunggu waktu itu datang
aku tetap tegar
aku bukan lah gadis kecil
yang akan menangisi nasib
itu bukan aku
mak
tahan lah air mata itu
aku juga melakukan hal serupa
bersabarlah
kelak waktu juga penat
menyanggah timbunan rindu kita
hingga aku kembali meringkuk
di peluk hangat mu.

                                      Tanjungpinang, 29 Januari 2011



TERBUAI JANJI BULAN

Malam membuatku terlelap
dalam pelukan bulan
awan menyelimuti dingin yang mengigit tulang
angin menahan hatiku agar
tak jatuh bertepai di bumi
indahnya janji
membuatku betah merajut mimpi
namun kenyataan
membuatku terjaga
aku wanita
yang terbuai janji bulan
memamah malam bersamanya
tapi mendung mendendam
memekatkan warna malam
bulan berlayar menjauh
hingga aku terkulai
di tepi telaga duka
sangsai menahan pedih luka
harapku berkecai pada malam
aku wanita
yang terbuai janji bulan
menunggu langit berganti helai
dengan hiasan bulan pada tubuhnya
apakah ada?
atau hanya janji
yang tak kan pernah nyata


                                                Tanjungpinang, 11 Januari 2011

HARAPAN BANGSA

Dalam ruang kelas tua
aku memilin harap pada kalian
yang duduk di bangku kayu lusuh
bermacam-macam tingkah
kalian malas memamah ilmu
terkadang membuatku ngilu

apa salah hari
yang menggiling waktu berlalu
tak dapatkah kau  petik buah dari luka bangsa?

nak
kitalah bangsa yang menduka
berpuluh-puluh tahun hidup sengsara
bila kita kan mampu bangkit
jika muda belia negri
enggan menebus mimpi
 nak
tak kah kalian iba pada nasib bangsa?
yang pejabatnya korupsi
anggota dewan mati hati
petingginya sibuk memperkaya diri
sedangkan rakyat kecil
gamang meniti hari
sulit mencari sesuap nasi
 nak
kalianlah tunas bangsa
yang membangun masa depan
siramilah hati dengan ilmu
agar  bisa maju
penuhi lumbung jiwa dengan kejujuran
agar terkubur segala kebohongan
kibarkan bendera  keadilan
agar hilang kemunafikan
bangkitkan semangat untuk maju
agar kita tak tertinggal jauh
bangkitkan negri dengan prestasi
bukan dengan korupsi
 nak
bergiatlah
nasib bangsa
kalian penentunya

                                      Tanjungpinang, 31 Desember 2010


                                                   












LAUT TAK BERTIMBANG RASA
Ku gadai biduk pada ombak
Karna laut tak bertimbang rasa
Kalaupun mujur
Biar angin meniup ke tepi
Tak kira masih hidup atau mati
Tak kan ku lawan gelombang
Sebab penat menyerang
Tak kan ku tanam keluh
Biarlah
Ku kecup luka demi luka
Hingga bersarang jemu di jiwa
Tanda menyerah kalah

Tanjungpinang, 26 Maret 2011








KENAPA ADA RINDU

Kenapa ada rindu?
Hatiku masih tak percaya
Gerangan inikah cinta?
Bumi tampunglah ngilu tak percaya ini
Dalam perutmu yang paling dalam
Peramlah bersama resah
Jangan biarkan ia berpendar di bumi
Kenapa ada rindu?
Mengintai di keheningan
Menyentuh kala diam
Hingga berderai kata
di pembaringan mimpi
Aku bertanya dengan sesak ini
Siapa yang nenaburnya
Rindu, rindu dan rindu
Berapa ribu  kata rindu
Yang hanya ku kulum dalam dada
Biar tak timbul padah
Karena cinta tak pernah salah

                                                          Tanjungpinang 10 Desember 2011






PESAN DARI KAMPUNG
hari mendendang riuh 
entah murai yang salah kabar
atau memang angin salah senandung
di bibir jendela aku terhenyak
bukan igauan
ini kenyataan 
pesan mak dari kampung
 .: nak
t
lah datang cerana dengan sirihnya
hantaran bujang
menyulam pinta
 .:nak
rumah gadang pinta hiasan
biar tak sepi berkepanjangan
konon pula ada pinangan

mak 
sungguh aku takut durhaka
menolak pinta
biarlah cerana dan sirihnya
mencari pinang lain
karna bagiku belum waktunya


Tanjungpinang 05 Maret 2011





ABAK DAN SAWAH

"Sawah ini tempat kita menggantung nasip nak",
katamu sambil mengayunkan cangkul kala itu
mulai dari kekar hingga ringkik badan tuamu
di kungkung waktu
tak pernah sawah mendurhaka
terbungkuk-bungkuk
tertatih-tatih
kau ayun cangkul ke tanah
bagai pecut sang perkasa
menuai harap
nasib yang mengangkangi hidup
tak pernah kau keluhkan
"hidup hadiah Tuhan nak,biar miskin harta tapi kaya hati"
katamu di sela semput
yang bergayut pada nafas
wajah mu tenang tanpa beban
Abak
air mataku meleleh
ngilu menyayat hati
ku kerat rumput di pematang
mencoba membuang galau
aku risau dengan nasib
kau menenangkan
aku ragu dengan pilihan Tuhan
kau meyakinkan
"Tuhan tak pernah salah nak,"
hiburmu membuatku semangat menjamah hari
aku iba denganmu abak,
setua ini umurmu
belum mampu ku pensiunkan dari sawah
aku tau kau lelah
aku belum berdaya bak,
miskin mengikat kuat di langkah
hingga sawah wajib di olah
masih jauh perhentian itu bak,
"biar waktu membawa bahagia nak,
sawah ini telah menempa hidup kita dari lama"
pesan mu kala itu
kau  lelaki hebat abak
mampu menari bersama badai kehidupan
tabah itu setia di hatimu
dan sawah ini
menguapkan ketabahan

                             Tanjungpinang, 27 Desember 2010













RINTIH CAMAR KEPADA TUHAN 

Rintih camar pada awan
galau nian agaknya senja
lembayung memerah
bagai anak dara tersepit duka
bahana bumi mengukir janji
gamang ia menebusnya
 Rintihnya lagi kepada hujan
ntah apa ingin tuan...
hari semakin meregang nadi
jembatan ingin terbingkai sudah
ia tak mampu mengusir luka
 kepada angin ia berpesan
bawa arah hingga neraka
tak pernah janjai dapat tertuai
malah terlerai kepingan dosa
 ntah untuk apa tuan,
tak ada hidup hati itu
hanya hitam
menyeliuti galau
Rintih camar kepada TUHAN

                                      Tanjungpinang, 22 Oktober 2010





 MUARO

Muaro,
Ku pungut remah-remah mimpi yang berserakan
Di tepi pantai Muaro
Meski jenuh menunggu waktu berlalu
Aku tetaplah penunggu yang setia pada janji
Muaro,
Aromamu tak pernah berubah
Masih saja ku hidu pekat rindu
Yang menebar di pori-pori laut
Dan aku betah bersamamu
Meski tahun kembali berganti
Tepi pantai ini memancang setiaku
Menunggu cinta.
                             Tanjungpinang, 22 Agustus 2011











PERPISAHAN
                              
Ngilu menghimpit ulu hatiku Tuan,
Saat kata perpisahan
Berbaur dengan dinginnya malam
Meluap perigi mataku, tak tertahan
Aku belum sempat menyiapkan
Tameng untuk ini kepedihan
Akhirnya kumamah jua perlahan
Saat ini aku bagai pungguk
Termangu di tepi pusaran rindu 
Kau tinggalkan jejak cinta
Di bawah timbunan canda
Kini kesepianlah teman abadiku
Tuan,
Gerimis di wajahku ini
Biarlah menjadi pembasuh sedih
Tersebab fikir dan kataku tak lagi jernih
Nanar berbaur kabut sepi
Dan aku menangisi ini
Perihal kehadiranmu
Sungguh di luar kuasaku
Andai ku tahu sesingkat itu
Tentulah kan ku rengkuh waktu
Biar tak cepat berlalu
Dan kita masih bersama dibawah dahan rindu
Tuan,
Peramlah kenangan ini
Di serambi hatimu
Sedangkan aku,
Akan menyiangi asa
Di anjung mimpi
Biar tak lena di hantam sedih
Tuan,
Mungkin aku yang terlalu perasa
Karna bagi ku kau sangat berharga
                                                Tanjungpinang, 12 Desember 2011

















NIRMALA

Kau lecut cemburu di hatiku
H
ingga lebam menanggung dendam
U
ntuk apa kau tiup wangi kasturi
P
ada cinta yang di bangun dengan
B
ahan setia
Kau kirim cinta berjela-jela
P
ada kumbang yang jelas bertali
M
erisik hati yang berpenghuni
Jangan salahkan waktu
Y
ang membuat mata beradu
H
ingga kau semai benih-benih harap
P
ada lahan yang bertuan
Jangan salahkan cinta
Y
ang katamu buta
H
ingga ia tak mampu melihat
S
iapa yang dia sapa
Jangan salahkan hati
Y
ang terlalu perasa
T
ak mampu menahan timbunan cinta
Salah engkau lah Nirmala
P
erlahan-lahan mencampakan duka
P
ada tali cinta yang berpilin erat
B
erharap mampu mengikat dia
D
engan pilinan lain
Salah engkaulah Nirmala
M
enjuntaikan cemburu
P
ada tiang setia ku
 Kau tahu Nirmala?
A
ngin puyuh sekali pun
T
ak kan sanggup menghancurkan
T
embok cinta yang berukir setia
Karna hatinya sudah ku tempa dengan cinta.

Tanjungpinang, 17 Jan 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


CERITA PADA PAGI
Pagi,
izinkan aku bicara cinta
yang saban malam berjuntai
di tepi pembaringan mimpi
ladang jiwa resah,
di sapu angin rindu

wahai pagi,
biarkan ku paparkan kepadamu
galau rasa menekuk langkah
biarlah,
biar kau seru kesekalian alam,
aku tengah di hantam cinta
kendati terkadang resah,
terkadang suka
kan ku kecap makna cinta
di tiap tarik ulur nafas
aku sangat menikmatinya

wahai pagi,
jujur ku kepada mu,
tuan itu telah menjarah hatiku
di rampas dan di bawahnya hingga jauh
hingga bersemilah kuncup-kuncup rindu
memenuhi laman harapan
namun entah kapan dia kan mampu memetiknya.

Tanjungpinang 31 oktober 2011


















CERITA PADA PAGI 2
Pagi,
Kaukah itu
          Mengintip malu di luar jendela
                   Belum puas rasanya bercumbu dengan mimpi
                             Kau telah datang kembali
Pagi,
Ini kali
Aku terlena
          Tuan itu,
          Menjamah mimpiku
                   Tadi malam
          Dibuainya aku
Dengan syair merindu
          Merdu mendayu dayu
Bagai buluh perindu
          Akupun hanyut dalam syahdu

                                                Biar
                                                          Kunikmati sekar
                                                                   Rindu yang mekar
                                                                             Membakar ruang nalar

Wahai pagi,
          Biarlah,
                   Gerhana malam tadi
Menjadi saksi pertemuan kami
          Di alam mimpi

                                                          Tanjungpinang, 11 Desember 2011



KELAM

Berlayar di ujung hari
tiada apa yang aku raih
aku tak butuh suluh
padam kan saja dengan nafasmu

buat apa terang
aku tak butuh cahaya
pergi lah bintang kejora
berlayar lah bulan
tutuplah matahari dengan dustamu

jauhkan aku dari cahaya
terang hanya akan menampakan
borokmu pada ku
biar semua gelap
biar semua kelam

tipulah aku semau mu

                                                Tanjungpinang, 19 Desember 2010

 

LENTERA UNGU


Kau datang dengan lentera ungu
di antara remah hujan berserakan
dekaplah piluku dengan tangan hangatmu
ku buang suluh
untuk meraihmu
berharap lentera memendarkan bahagia
walau kau tak tau
penat jiwa mendera
kau tarik ulur cahaya lenteramu
sedang kakiku lula beralas onak
lentera kau jauhkan
malah kau lemparkan ranjau ke jalan ini
lebih rumit dari sebenar rumit
agaknya pecah hati perutmu
tak dapat lagi rasa sakit ini
hancurkan angan
terang itu kau bawa lalu
lentera ungu
kau rendam anganku dengan minyak tanah
kau bakar hingga membara
namun air mata nanahku
tak mampu memadamkannya
tangis tak terhitung lagi
kering sudah perigi di mataku
tak hiba kah engkau
kering hati di salai angkuhmu
renyai badan sendiri senyawa
tak kasihan kah engkau
terlalu banyak hina ku telan
bawa jauh lenteramu
tinggalkan aku berkubang luka
mungkin tuhan sksn menggantinya
dengan seribu kunang-kunang
atau membiarkan aku
memamah duka

                                                Tanjungpinang, 18 Desember 2010




PERCAKAPAN WAKTU

Dinda,
aku pulang
pandanglah kubawakan setengah dunia kepadamu
bersiaplah kita akan erami bahagia ini
pada sisa usia
Dinda,
kau tau bagiku semua serba mudah
andai dunia ini kau pinta,
maka akan ku bingkai dalam pelukmu
Sih, zaman telah berubah,
hati bukan lagi penentuh arah.
          Dinda,
          nanar ku pada kepulanganmu kali ini
          bengkalai pengajaran ku
          membentur kokohnya ankuh
          kau bukan lagi anakku yang dulu
          Bukan,
          Bukan seroja yang ku semai
          dalam dada mu yang permai
          Bukan.
          Bukan kenanga yang wangi
          menyerbak baik budi
          Bukan kemboja yang cerah
          merekah menjaga marwah
          Nak,
          Kenali jiwa mu
          Dimana Alif yang kau eja dari mulutku?
          sebagai penjaga laku,
          Dimana Ba yang kau hela dalam jiwa
          sebagai bala penggawa
          Dimana nurani mu nak?

MELUKIS WAKTU



Puisi bersama: SABDA BUNIAN

Saat sang surya bertapa di peraduannya
Jemari menadah diatas sulaman pilu
Melukis waktu pada puisi
Untuk titisan tarian jiwa
Di urat nadi kesepian

Gelap melonglong
Bulan merayap di balik awan
Mata memasung pandang kehidupan
Ada waktu yang berbicara dingin
Ketika terik menikam ubun-ubun
Ada waktu yang berbicara hitam
diatas kanvas putih pelukis kata
Ada waktu yang berbicara diam
Ditengah riuh yang menyetubuhi pikir

Pada waktu,
          Hidup
                   Mati
Adalah taruhan
usaha mencengkram harapan
Tubuh penyeimbang keadaan
Mengayun langkah menuju masa hadapan
Meski jemari dirangkul sepi

kini
Mata terpikat
Melihat jurang maksiat
Diatas tanah ranah bunda
hingga pilu merindu masa lalu

melekanglah hari dalam ejaan kata
telah dilahapnya jutaan keping mahligai rindu
hingga melapuklah waktu yang diberiNya
tak sampai diujung hari
:kami ingin memahat pelangi diufuk timur
Izinkanlah


Tanjungpinang, 24 Januari 2012

Sabtu, 25 Februari 2012

Cerpen_HANG NADIM


HANG NADIM
Bandara internasional Hang Nadim itu masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang mondar mandir entah akan berangkat atau baru kembali. Sementara itu petugas yang berseragam orange terlihat santai menghisap rokoknya. Sesekali terdengar gelak tawa sesama mereka.
Di kursi kayu panjang di luar bandara itu, seorang perempuan muda tengah gelisah. Itu tergambar dari wajahnya yang tak terlihat tenang. Kadang-kadang dia berdiri, menatap jam di pergelangan tangannya, kemudian duduk kembali.
Dia menunggu kedatangan pesawat dari Padang, yang membawa orang tuanya berkunjung ke Batam. Jam baru menunjukan pukul Sembilan tepat, padahal pesawat yang ditunggunya akan sampai pukul satu siang nanti.
Banyak hal yang membuatnya rela berlama-lama menunggu di bandara ini. Salah satunya, karena timbunan rindu yang sudah lima tahun disanggahnya. Ya, dia meninggalkan kampung halaman lima tahun yang lalu. Ketika seragam putih, abu-abu baru saja terlepas dari tubuhnya.
Sebenarnya Batam bukan pilihan hatinya waktu itu. Fikirannya masih tertaut pada bangku kuliah seperti teman-temannya yang lain. Tapi apa boleh buat, masalah ekonomi juga yang menghalangi langkahnya itu. Sehingga yang terfikir di benaknya hanyalah bekerja secepatnya. Harapannya, setelah bekerja dia mampu sedikit melupakan perihal kuliah.
“Sayang sekali dengan nilai sebagus itu kamu tak kuliah Ran,” ujar kepala sekolah SMAnya. Ketika ia berpamitan hendak berangkat ke Batam.
“Tak apalah Pak, sebenarnya Rani ingin sekali kuliah. Tapi mungkin belum sekarang.” Jawabnya berusaha tegar. Dia tak mau kelihatan ragu-ragu di depan guru yang di seganinya ini. Kepala sekolah yang sangat disayangi dan menyanyanginya ini.
Jelas saja dia menjadi anak kesayangan. Prestasi-prestasinya di bidang akademik cukup mengharumkan nama sekolahnya. Belum lagi hasil UNnya yang gemilang, yang berhasil membawa sekolahnya menjadi peringkat pertama di kabupaten dan mengalahkan 16 sekolah lain.
“ Bagaimana kalau kamu tak usah ke Batam Ran, biar Bapak yang membiayai kuliahmu. Kamu bisa tinggal satu kos dengan Mira di Padang. Kan kalian bisa kuliah sama-sama. Bagaimana Rani? Kamu mau tidak?” Jelas kepala sekolahnya lagi. Tawaran yang sangat menggiurkan sebenarnya. Namun Rani sudah mempunyai tekat yang bulat untuk ke Batam.
“ Diskusikan lah dulu dengan orang tua mu Nak. Masih belum terlambat,” tambah istri kepala sekolahnya, yang juga punya perhatian lebih pada Rani.
“ Tak usah Pak, Buk. Rani mau bekerja dulu. Biar bisa bantu Emak, Rani janji nanti akan menabung buat kuliah”. Jawabnya lugu namun tegas dan masih saja terlihat riang. Hingga pasangan suami istri itu tak punya kata-kata lagi untuk membujuk Rani.
Mereka tahu, Rani seorang yang berpendirian teguh. Sekali bertekat susah untuk membelokkannya. Mereka sangat faham sifat rani yang itu. Jauh di dasar hatinya sebenarnya mereka sangat bangga pada Rani.
Sebenarnya ada satu alasan mengapa Rani berkeras menolak tawaran kepala sekolahnya tadi. Baginya apalah artinya menjadi seorang sarjana jika dia harus menggadaikan harga diri orang tuanya. Baginya menjadi sarjana itu merupakan cita-cita kedua. Yang paling penting baginya, adalah membahagiakan orang tuanya dengan caranya sendiri. Kalaupun nanti dia ditakdirkan menjadi orang sukses, dia hanya ingin satu dalang di belakangnya. Itulah orang tuanya.
Bandara mulai ramai. Hampir setiap menit, taksi berhenti dan menurunkan penumpang. Mungkin penumpang yang akan berangkat. Rani melirik jam tanganya, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Dia mengubah arah duduknya. Menatap lurus kearah pintu kedatangan. Sengaja dia mengambil posisi yang paling depan, agar begitu Emak dan Bapaknya datang, dia bisa langsung melihat mereka.
Tak jauh dari tempat duduknya, Rani melihat seorang gadis sedang menangis dalam pelukan ibunya. Mungkin dia mau berangkat jauh, dan meninggalkan orang tuanya, fikir Rani. Ternyata benar gadis itu akan berangkat karena dia mulai menarik travel bag kearah pintu keberangkatan. Seorang petugas bandara memeriksa tiketnya. Sedangkan di luar, seorang perempuan paruh baya mungkin ibunya, menyeka tangisnya dengan ujung kerudung biru yang dikenakannya. Seasana begitu haru.
Rani seolah-olah tercampak ke masa lima tahun lalu. Di Bandara Minangkabau, ia mengalami nasib yang sama dengan gadis tadi. Perpisahan yang sangat menyakitkan. Tak henti-hentinya Rani memeluk Emaknya, saat menjelang keberangkatan. Orang tua itu tak banyak berkata-kata. Beliau hanya mendekap Rani penuh kehangatan. Sesekali tangannya menyeka airmata di wajah Rani.
Sementara itu, Bapaknya hanya terdiam berdiri disebelah Rani. Laki-laki tua itu sesekali menoleh kearah yang lain. Mencoba membuang kepedihannya. Berbeda dengan Emaknya, Bapak Rani masih bisa menguasai suasana.
Disaat rani akan memasuki ruang tunggu, Emaknya melepaskan pelukan erat pada bungsunya itu. Tak ada kata-kata yang di ucapkannya, hanya airmatanya saja bertambah deras mengalir. Sedangkan Bapaknya, mengusap ubun-ubun Rani tiga kali, seraya berucap “Jaga dirimu baik-baik”. Dari pandangannya yang mengabur, Rani sempat melihat mata Bapaknya yang memerah, melepas kepergian Rani.
Pelan-pelan Rani pun berlalu.  Berbaur dengan ratusan penumpang lainnya di bandara Minangkabau itu. Memulai langkahnya mengejar cita-cita. Batam itulah tujuannya.
Di Batam Rani mencoba melupakan kesedihan perpisahan itu. Dia tak mau menjadi perempuan cengeng. Akhirnya dia mulai terbiasa sendiri dan jauh dari orang tua. Walau terkadang rindu itu membuatnya meracau dalam pedih. Dia tetap berusaha tegar. Satu tekatnya saat itu yakni pembuktian. Dia akan membahagiakan orang tuanya dengan caranya sendiri.
Kerinduan itulah yang dijadikannya tameng untuk tetap semangat menjalani kehidupannya di Batam. Hingga dia nyaris tak tersapa oleh rasa putus asa. Tekatnya semakin besar untuk sukses. Dan merengkuh kehidupan indah bersama orang tuanya. kelak itu akan terwujud jua, harapnya.
 Nak, jam berapa sekarang?” Lamunan panjang Rani terputus ketika seorang bapak tua di sebelahnya bertanya.
“ Jam satu siang Pak,” jawabnya sopan.
Rani melihat lagi jam tangannya, ternyata benar jam satu siang. Pesawat dari Padang sudah masuk. Rani berdiri dari tepat duduknya. Matanya menatap lekat setiap manusia yang keluar dari pintu kedatangan itu.
Ketika retina matanya menangkap sepasang orang tua berjalan tertatih menuju pintu. Dengan jinjingan penuh di tangannya. Dadanya bergetar hebat. Itulah Emak dan Bapaknya. Rani mengejar orang tua itu dan langsung memeluk Emaknya. Dipatutnya, tubuh emaknya yang mulai ringkik, kurus dan keriput. Hatinya benar-benar perih. Sampai beginikah waktu memakannya?
Banyak perubahan dari fisik mereka berdua. Emak yang dulu energik dan lincah, kini terlihat layu dan lemah. Badannya tinggal kulit pembalut tulang, hanya satu yang tak berubah. Pelukannya masih sehangat dulu, ketika lima tahun yang lalu. Bahkan sama seperti pelukan pertama ketika ia hadir kedunia.
          “Bapak”, hanya kata itu yang terucap dari bibirnya ketika dilihatnya lelaki tua yang nyaris bungkuk itu. Tangisnya pecah sembari meraih dan mencium tangan kokoh yang mulai keriput. Seperti dulu, tangan bapak mengusap ubun-ubunnya. Namun ada yang berbeda, mata bapaknya kini basah. Beliau kini lebih perasa.
          Lama mereka saling mencurahkan rindu. Air mata haru menyelimuti mereka. Ada kebahagian yang mereka rasakan di sana. Rani tak henti-hentinya bersyukur, setelah lima tahun berlalu. Inilah hari yang paling membahagiakan baginya. Melihat dan mendekap kedua orang tuannya kembali. Meski semuanya telah berubah. Orang tuanya tak lagi sekuat dan gagah dulu, tetapi baginya mereka tetap orang tua nomor satu di seluruh dunia.
TAMAT
Tanjungpinang, 25 Januari 2012