ROMANSA JEMBATAN SITINURBAYA
Ku mamah kenangan yang hadir tentangmu
Padang
Susah payah aku menelannya
Keping-keping rindu
Berserakan di sepanjang jembatan Sitinurbaya
Menyiksa dengan sangsai cinta yang tak sudah
Kenangan
Kembali kumamah kau dalam duka
Lembayung senja seakan menertawakanku
Sebab di sini tanpamu
Riak tepi Batang Muara di bawah sana
Bertanya-tanya
Tentang janji yang kita ukir sekokoh Gunung Padang
tentang rindu yang kerap kita tuai di jembatan ini
tentang sejuta cita cinta kita dan,
tentangmu cinta,
aku tak mampu menjawabnya,
hanya pilu cinta yang tak sudah
yang kau sisakan untuk ku
dan jembatan Sitinurbaya
NYANYIAN RINDU UNTUK MAK 2
Mak
tak dapat ku kayuh biduk rindu
pulang ke pelukan mu
tahun ini
tersebab badai tengah merajai laut
kehidupan ku
mak
meskipun tak dapat
ku rebahkan penat
menunggu waktu itu datang
aku tetap tegar
aku bukan lah gadis kecil
yang akan menangisi nasib
itu bukan aku
mak
tahan lah air mata itu
aku juga melakukan hal serupa
bersabarlah
kelak waktu juga penat
menyanggah timbunan rindu kita
hingga aku kembali meringkuk
di peluk hangat mu.
Tanjungpinang,
29 Januari 2011
TERBUAI JANJI BULAN
Malam membuatku terlelap
dalam pelukan bulan
awan menyelimuti dingin yang mengigit tulang
angin menahan hatiku agar
tak jatuh bertepai di bumi
indahnya janji
membuatku betah merajut mimpi
namun kenyataan
membuatku terjaga
aku wanita
yang terbuai janji bulan
memamah malam bersamanya
tapi mendung mendendam
memekatkan warna malam
bulan berlayar menjauh
hingga aku terkulai
di tepi telaga duka
sangsai menahan pedih luka
harapku berkecai pada malam
aku wanita
yang terbuai janji bulan
menunggu langit berganti helai
dengan hiasan bulan pada tubuhnya
apakah ada?
atau hanya janji
yang tak kan pernah nyata
Tanjungpinang,
11 Januari 2011
HARAPAN BANGSA
Dalam ruang kelas tua
aku memilin harap pada kalian
yang duduk di bangku kayu lusuh
bermacam-macam tingkah
kalian malas memamah ilmu
terkadang membuatku ngilu
apa salah hari
yang menggiling waktu berlalu
tak dapatkah kau petik buah dari luka bangsa?
nak
kitalah bangsa yang menduka
berpuluh-puluh tahun hidup sengsara
bila kita kan mampu bangkit
jika muda belia negri
enggan menebus mimpi
nak
tak kah kalian iba pada nasib bangsa?
yang pejabatnya korupsi
anggota dewan mati hati
petingginya sibuk memperkaya diri
sedangkan rakyat kecil
gamang meniti hari
sulit mencari sesuap nasi
nak
kalianlah tunas bangsa
yang membangun masa depan
siramilah hati dengan ilmu
agar bisa maju
penuhi lumbung jiwa dengan kejujuran
agar terkubur segala kebohongan
kibarkan bendera keadilan
agar hilang kemunafikan
bangkitkan semangat untuk maju
agar kita tak tertinggal jauh
bangkitkan negri dengan prestasi
bukan dengan korupsi
nak
bergiatlah
nasib bangsa
kalian penentunya
Tanjungpinang,
31 Desember 2010
LAUT TAK BERTIMBANG RASA
Ku
gadai biduk pada ombak
Karna
laut tak bertimbang rasa
Kalaupun
mujur
Biar
angin meniup ke tepi
Tak
kira masih hidup atau mati
Tak
kan ku lawan gelombang
Sebab
penat menyerang
Tak
kan ku tanam keluh
Biarlah
Ku
kecup luka demi luka
Hingga
bersarang jemu di jiwa
Tanda
menyerah kalah
Tanjungpinang, 26 Maret 2011
KENAPA ADA RINDU
Kenapa ada rindu?
Hatiku masih tak percaya
Gerangan inikah cinta?
Bumi tampunglah ngilu tak percaya ini
Dalam perutmu yang paling dalam
Peramlah bersama resah
Jangan biarkan ia berpendar di bumi
Kenapa ada rindu?
Mengintai di keheningan
Menyentuh kala diam
Hingga berderai kata
di pembaringan mimpi
Aku bertanya dengan sesak ini
Siapa yang nenaburnya
Rindu, rindu dan rindu
Berapa ribu kata rindu
Yang hanya ku kulum dalam dada
Biar tak timbul padah
Karena cinta tak pernah salah
Tanjungpinang
10 Desember 2011
PESAN DARI
KAMPUNG
hari
mendendang riuh
entah
murai yang salah kabar
atau
memang angin salah senandung
di
bibir jendela aku terhenyak
bukan
igauan
ini
kenyataan
pesan
mak dari kampung
.:
nak
tlah
datang cerana dengan sirihnya
hantaran
bujang
menyulam
pinta
.:nak
rumah
gadang pinta hiasan
biar
tak sepi berkepanjangan
konon
pula ada pinangan
mak
sungguh
aku takut durhaka
menolak
pinta
biarlah
cerana dan sirihnya
mencari
pinang lain
karna
bagiku belum waktunya
Tanjungpinang
05 Maret 2011
ABAK DAN SAWAH
"Sawah ini tempat kita menggantung
nasip nak",
katamu sambil mengayunkan cangkul kala itu
mulai dari kekar hingga ringkik badan tuamu
di kungkung waktu
tak pernah sawah mendurhaka
terbungkuk-bungkuk
tertatih-tatih
kau ayun cangkul ke tanah
bagai pecut sang perkasa
menuai harap
nasib yang mengangkangi hidup
tak pernah kau keluhkan
"hidup hadiah Tuhan nak,biar
miskin harta tapi kaya hati"
katamu di sela semput
yang bergayut pada nafas
wajah mu tenang tanpa beban
Abak
air mataku meleleh
ngilu menyayat hati
ku kerat rumput di pematang
mencoba membuang galau
aku risau dengan nasib
kau menenangkan
aku ragu dengan pilihan Tuhan
kau meyakinkan
"Tuhan tak pernah salah nak,"
hiburmu membuatku semangat menjamah hari
aku iba denganmu abak,
setua ini umurmu
belum mampu ku pensiunkan dari sawah
aku tau kau lelah
aku belum berdaya bak,
miskin mengikat kuat di langkah
hingga sawah wajib di olah
masih jauh perhentian itu bak,
"biar waktu membawa bahagia nak,
sawah ini telah menempa hidup kita dari lama"
pesan mu kala itu
kau lelaki hebat abak
mampu menari bersama badai kehidupan
tabah itu setia di hatimu
dan sawah ini
menguapkan ketabahan
Tanjungpinang,
27 Desember 2010
RINTIH CAMAR KEPADA TUHAN
Rintih camar pada awan
galau nian agaknya senja
lembayung memerah
bagai anak dara tersepit duka
bahana bumi mengukir janji
gamang ia menebusnya
Rintihnya lagi kepada hujan
ntah apa ingin tuan...
hari semakin meregang nadi
jembatan ingin terbingkai sudah
ia tak mampu mengusir luka
kepada angin ia berpesan
bawa arah hingga neraka
tak pernah janjai dapat tertuai
malah terlerai kepingan dosa
ntah untuk apa tuan,
tak ada hidup hati itu
hanya hitam
menyeliuti galau
Rintih camar kepada TUHAN
Tanjungpinang,
22 Oktober 2010
MUARO
Muaro,
Ku pungut remah-remah mimpi yang berserakan
Di tepi pantai Muaro
Meski jenuh menunggu waktu berlalu
Aku tetaplah penunggu yang setia pada janji
Muaro,
Aromamu tak pernah berubah
Masih saja ku hidu pekat rindu
Yang menebar di pori-pori laut
Dan aku betah bersamamu
Meski tahun kembali berganti
Tepi pantai ini memancang setiaku
Menunggu cinta.
Tanjungpinang,
22 Agustus 2011
PERPISAHAN
Ngilu menghimpit ulu
hatiku Tuan,
Saat kata perpisahan
Berbaur dengan dinginnya
malam
Meluap perigi mataku, tak
tertahan
Aku belum sempat
menyiapkan
Tameng untuk ini
kepedihan
Akhirnya kumamah jua
perlahan
Saat ini aku bagai
pungguk
Termangu di tepi pusaran
rindu
Kau tinggalkan jejak
cinta
Di bawah timbunan canda
Kini kesepianlah teman
abadiku
Tuan,
Gerimis di wajahku ini
Biarlah menjadi pembasuh
sedih
Tersebab fikir dan kataku
tak lagi jernih
Nanar berbaur kabut sepi
Dan aku menangisi ini
Perihal kehadiranmu
Sungguh di luar kuasaku
Andai ku tahu sesingkat itu
Tentulah kan ku rengkuh
waktu
Biar tak cepat berlalu
Dan kita masih bersama
dibawah dahan rindu
Tuan,
Peramlah kenangan ini
Di serambi hatimu
Sedangkan aku,
Akan menyiangi asa
Di anjung mimpi
Biar tak lena di hantam
sedih
Tuan,
Mungkin aku yang terlalu
perasa
Karna bagi ku kau sangat
berharga
Tanjungpinang, 12 Desember 2011
NIRMALA
Kau
lecut cemburu di hatiku
Hingga lebam menanggung dendam
Untuk apa kau tiup wangi kasturi
Pada cinta yang di bangun dengan
Bahan setia
Kau kirim cinta berjela-jela
Pada kumbang yang jelas bertali
Merisik hati yang berpenghuni
Jangan salahkan waktu
Yang membuat mata beradu
Hingga kau semai benih-benih harap
Pada lahan yang bertuan
Jangan salahkan cinta
Yang katamu buta
Hingga ia tak mampu melihat
Siapa yang dia sapa
Jangan salahkan hati
Yang terlalu perasa
Tak mampu menahan timbunan cinta
Salah engkau lah Nirmala
Perlahan-lahan mencampakan duka
Pada tali cinta yang berpilin erat
Berharap mampu mengikat dia
Dengan pilinan lain
Salah engkaulah Nirmala
Menjuntaikan cemburu
Pada tiang setia ku
Kau tahu Nirmala?
Angin puyuh sekali pun
Tak kan sanggup menghancurkan
Tembok cinta yang berukir setia
Karna hatinya sudah ku tempa dengan
cinta.
Tanjungpinang, 17 Jan 2011
CERITA PADA PAGI
Pagi,
izinkan
aku bicara cinta
yang
saban malam berjuntai
di
tepi pembaringan mimpi
ladang
jiwa resah,
di
sapu angin rindu
wahai
pagi,
biarkan
ku paparkan kepadamu
galau
rasa menekuk langkah
biarlah,
biar
kau seru kesekalian alam,
aku
tengah di hantam cinta
kendati
terkadang resah,
terkadang
suka
kan
ku kecap makna cinta
di
tiap tarik ulur nafas
aku
sangat menikmatinya
wahai
pagi,
jujur
ku kepada mu,
tuan
itu telah menjarah hatiku
di
rampas dan di bawahnya hingga jauh
hingga
bersemilah kuncup-kuncup rindu
memenuhi
laman harapan
namun
entah kapan dia kan mampu memetiknya.
Tanjungpinang 31
oktober 2011
CERITA PADA PAGI 2
Pagi,
Kaukah itu
Mengintip malu di luar jendela
Belum puas rasanya
bercumbu dengan mimpi
Kau telah
datang kembali
Pagi,
Ini kali
Aku terlena
Tuan
itu,
Menjamah mimpiku
Tadi malam
Dibuainya aku
Dengan syair merindu
Merdu mendayu dayu
Bagai buluh perindu
Akupun hanyut dalam syahdu
Biar
Kunikmati
sekar
Rindu
yang mekar
Membakar
ruang nalar
Wahai pagi,
Biarlah,
Gerhana malam tadi
Menjadi saksi pertemuan kami
Di alam mimpi
Tanjungpinang,
11 Desember 2011
KELAM
Berlayar
di ujung hari
tiada
apa yang aku raih
aku
tak butuh suluh
padam
kan saja dengan nafasmu
buat
apa terang
aku
tak butuh cahaya
pergi
lah bintang kejora
berlayar
lah bulan
tutuplah
matahari dengan dustamu
jauhkan
aku dari cahaya
terang
hanya akan menampakan
borokmu
pada ku
biar
semua gelap
biar
semua kelam
tipulah aku semau mu
Tanjungpinang,
19 Desember 2010
LENTERA UNGU
Kau
datang dengan lentera ungu
di
antara remah hujan berserakan
dekaplah
piluku dengan tangan hangatmu
ku
buang suluh
untuk
meraihmu
berharap
lentera memendarkan bahagia
walau
kau tak tau
penat
jiwa mendera
kau
tarik ulur cahaya lenteramu
sedang
kakiku lula beralas onak
lentera
kau jauhkan
malah
kau lemparkan ranjau ke jalan ini
lebih
rumit dari sebenar rumit
agaknya
pecah hati perutmu
tak
dapat lagi rasa sakit ini
hancurkan
angan
terang
itu kau bawa lalu
lentera
ungu
kau
rendam anganku dengan minyak tanah
kau
bakar hingga membara
namun
air mata nanahku
tak
mampu memadamkannya
tangis
tak terhitung lagi
kering
sudah perigi di mataku
tak
hiba kah engkau
kering
hati di salai angkuhmu
renyai
badan sendiri senyawa
tak
kasihan kah engkau
terlalu
banyak hina ku telan
bawa
jauh lenteramu
tinggalkan
aku berkubang luka
mungkin
tuhan sksn menggantinya
dengan
seribu kunang-kunang
atau
membiarkan aku
memamah
duka
Tanjungpinang,
18 Desember 2010
PERCAKAPAN WAKTU
Dinda,
aku pulang
pandanglah kubawakan setengah dunia kepadamu
bersiaplah kita akan erami bahagia ini
pada sisa usia
Dinda,
kau tau bagiku semua serba mudah
andai dunia ini kau pinta,
maka akan ku bingkai dalam pelukmu
Sih, zaman telah berubah,
hati bukan lagi penentuh arah.
Dinda,
nanar ku pada kepulanganmu kali
ini
bengkalai pengajaran ku
membentur kokohnya ankuh
kau bukan lagi anakku yang dulu
Bukan,
Bukan seroja yang ku semai
dalam dada mu yang permai
Bukan.
Bukan kenanga yang wangi
menyerbak baik budi
Bukan
kemboja yang cerah
merekah menjaga marwah
Nak,
Kenali jiwa mu
Dimana
Alif yang kau eja dari mulutku?
sebagai penjaga laku,
Dimana Ba yang kau hela dalam
jiwa
sebagai bala penggawa
Dimana nurani mu nak?